Ketika Guru Disebut Beban Negara

Ketika Guru Disebut sebagai Beban Negara
Foto screenshot: Sri Mulyani tengah pidato mengungkapkan bahwa Guru Disebut sebagai Beban Negara.

 

Oleh Nurdin Qusyaeri*

Bayangkan, bila ada guru-guru tua yang pernah mengajar Sri Mulyani dulu, kini duduk di beranda rumahnya yang reyot. Mendengar pernyataan muridnya yang jadi Menteri Keuangan: “Guru itu beban negara.”

Mereka mungkin terdiam.

Mereka tak akan marah, sebab marah pun sudah tak punya tenaga.

Mereka hanya akan menatap langit, seraya berbisik lirih:

“Apakah kapur yang kami habiskan sia-sia?

Apakah huruf yang kami ajarkan hanya melahirkan murid yang pandai berhitung angka, tapi gagal menghitung rasa?”

Padahal, tanpa guru, siapa yang mengajari seorang anak mengenal angka pertama?

Tanpa guru, siapa yang menuntun membaca kata “bangsa” pada halaman buku tipis?

Tanpa guru, siapa yang membentuk lidah untuk menyebut “Indonesia”?

Guru itu bukan beban. Guru adalah napas.

Guru adalah pelita terakhir di tengah gelapnya kebodohan.

Jika guru dianggap beban, maka sebenarnya yang bangkrut bukan kas negara, tapi nurani bangsa.

Mari kita jujur.

Beban negara itu bukan guru.

Beban itu ada pada kursi menteri yang rakus fasilitas, pada DPR yang gemuk dengan tunjangan dan pensiun seumur hidup, pada komisaris BUMN titipan politik yang gajinya setinggi langit tapi kerjanya hanya menghitung awan.

Beban itu adalah IMF, yang dengan senyum diplomasi menjerat kita dalam rantai hutang, membuat kita seperti burung merdeka yang sayapnya dipotong.

Lihatlah sejarah: saat Jepang luluh lantak dihantam bom atom, Kaisar Hirohito tidak bertanya:

“Berapa banyak menteri selamat?”

Tidak juga:

“Berapa anggota parlemen yang hidup?”

Ia hanya bertanya:

“Berapa guru yang masih hidup?”

Karena ia tahu, tanpa guru, negeri yang hancur takkan pernah bisa bangkit.

Di negeri ini, guru masih banyak yang hidup di bawah garis layak. Ada yang menambal perut dengan singkong rebus, ada yang tetap mengajar meski sepatu bolong, ada yang rela berjalan puluhan kilometer demi menyampaikan ilmu.

Baca Juga:  Tunjangan DPRD Kabupaten Bandung: Legalitas vs Keadilan Sosial

Mereka tetap berdiri, meski tubuh renta.

Mereka tetap menulis di papan, meski gaji sebulan tak cukup beli papan tulis baru.

Dan di atas semua itu, seorang menteri berkata:

“Guru adalah beban negara.”

Betapa perih kata-kata itu.

Betapa ia merobek hati bangsa.

Wahai Menteri, hati-hatilah.

Sebab luka yang ditorehkan ucapan bisa lebih dalam dari angka defisit.

Sejarah takkan mengingat berapa triliun APBN yang kau hitung, tapi sejarah akan mencatat siapa yang berani merendahkan guru.

Jika guru adalah beban, maka bangsa ini tak lagi punya harapan.

Sebab guru bukan hanya pengajar, ia adalah akar dari pohon bernama Indonesia.

Dan barangsiapa menebang akarnya, ia sedang menggali kubur bangsanya sendiri.

Wallahu’alam

*Mohon tulisan ini jangan dianggap luapan “meupeus keuyang”, melainkan bentuk kepedulian terhadap bangsa saja!

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *