
Oleh Nurdin Qusyaeri*
Hari ini, 15 November 2025, langit seperti menunduk pelan. Seolah ia mengerti bahwa ada ratusan hati yang sedang dipenuhi rasa haru: hati yang pernah kuyup oleh hujan, letih oleh perjalanan jauh, namun tak pernah padam oleh mimpi.
Hati yang kini berdiri dengan toga, sebuah simbol kecil dari perjalanan panjang yang tak semua orang tahu betapa beratnya.
Saya ingin memulai dengan sebuah kenyataan yang tidak selalu kita ucapkan lantang: tidak banyak di antara kalian yang ketika pertama datang ke kampus ini memiliki kemewahan untuk membayar SPP secara penuh dan tepat waktu.
Ada yang menunda, ada yang mencicil, ada yang mematung lama di depan bagian keuangan sambil menahan getir dalam dada.
Tapi saya tahu betul: kalian tidak sedang menyerah. Kalian sedang bertahan. Bertahan dengan cara yang paling manusiawi—berjuang.
Sebagian besar dari kalian datang dari kampung-kampung jauh. Pelosok yang bahkan Google Maps pun kadang ragu menandai. Kalian menerjang hujan saat pagi buta, mengatasi macet yang menyiksa, menembus banjir yang tiba-tiba datang begitu deras seperti ingin menguji keteguhan kalian.
Namun kalian tetap datang.
Tetap duduk di kelas.
Tetap membuka buku.
Tetap menyalakan mimpi.
Di antara kalian, ada para ibu dari kelas KPI—alumni Tamhied—yang kisahnya selalu membuat saya terdiam bisu:
Ada yang rumahnya puluhan kilometer jauhnya. Tidak membawa motor. Setiap berangkat kuliah, ia naik kendaraan umum sampai empat kali. Ongkos pulang-pergi bisa menghabiskan dua ratus ribu rupiah; jumlah yang bagi sebagian orang hanyalah uang jajan, tapi bagi mereka adalah separuh dari isi dapur.
Namun mereka jalan terus. Dengan tas berisi buku dan kepala berisi hafalan, sambil membawa beban tak terlihat:
mengurus anak, menemani suami, mencuci piring, menyapu lantai, memasak nasi, dan kadang… menangis diam-diam menghadapi rumah tangga yang sedang guncang.
Tidak ada tepuk tangan untuk jerih payah itu.
Tidak ada piagam penghargaan untuk air mata itu.
Namun hari ini, dengan toga yang membalut tubuh kalian, Allah menghadiahi sebuah pengakuan yang lebih mulia daripada tepuk tangan manusia.
Selama bertahun-tahun, kalian duduk di kelas yang menjadi saksi:
ada dosen yang datang dengan cerita dan keteladanannya,
ada teman yang menyulut semangat,
ada diskusi yang membuka cakrawala,
ada tawa yang meruntuhkan penat,
ada ilmu yang menegakkan iman.
Di bangku kuliah itu, kalian bukan hanya belajar menulis, berdiskusi, atau meneliti. Kalian belajar tumbuh. Belajar menjadi manusia yang lebih kokoh, lebih matang, lebih peka, lebih bijaksana. Bahkan mungkin… lebih dekat kepada Allah.
Hari ini kalian memakai toga.
Toga itu sederhana, tapi maknanya dalam.
Ia adalah pernyataan bahwa perjalanan kalian tidak sia-sia.
Toga itu mengatakan:
“Aku adalah bukti dari malam-malam gelisah, dari ongkos yang dipaksakan, dari langkah yang tidak pernah berhenti, dari doa ibu, dari kesabaran ayah, dari luka yang ditutup rapat agar mimpi tetap hidup.”
Ketahuilah, kalian tidak hanya lulus dari perguruan tinggi.
Kalian lulus dari versi diri kalian yang dulu:
- Diri yang ragu.
- Diri yang takut.
- Diri yang hampir menyerah, namun tetap melangkah.
Setelah hari ini, dunia tidak otomatis menjadi ramah.
Tidak otomatis menyajikan pekerjaan terbaik.
Tidak otomatis menggelar karpet merah.
Namun ilmu kalian, iman kalian, pengalaman kalian… sudah cukup untuk membuat langkah kalian lebih tertata.
Maka, hari ini refleksikanlah perjalanan ini:
Bahwa kalian kuat karena diuji kesulitan, tumbuh karena ditempa kenyataan.
Dan. Kalian tiba di sini bukan karena hebatnya diri, melainkan karena Allah memegangi tangan kalian sepanjang perjalanan.
Dan hari ini, dunia tahu, saat semua orang melihat kalian sebagai wisudawan dan wisudawati, saya ingin kalian menatap diri kalian sendiri dan berkata:
“Aku pernah jatuh, tapi aku tidak berhenti.
Aku pernah patah, tapi aku tidak menyerah.
Aku pernah hampir gagal, tapi Allah mengangkatku kembali.”
Semoga kalian menjadi cahaya di rumah, di masyarakat, di profesi masing-masing.
Semoga perjalanan berat ini menjadi saksi bahwa kalian adalah orang-orang yang jika diuji—bangkit; jika diberi amanah—mengemban; jika diberi ilmu—mengamalkan.
Selamat wisuda.
Selamat menapaki dunia baru.
Semoga Allah meridai setiap langkah kalian.
Hari ini, langit bersaksi bahwa kalian telah menang—dengan cara yang paling indah: melalui perjuangan yang sunyi, tapi suci.
*Dosen KPI dan wakil rektor III







Kata2 itu sangan menyentuh , kita melewatinya dg selangkah demi selangkah yang akhirnya kita dapat meraih perjalanan kita yg tak mudah, tp semangat kita satu sama lain bisa menguatkan, saling memotivasi , mudah2an tali silaturahmi kita terus terbina dg baik. In syaa Allah 👍🙏🏻🙏🏻🙏🏻
Masyaa Allah tak terasa air mata menetes menyimak kata demi kata yg bapak tuliskan, terwakili perasaan saya kepada mahasiswa2 yg penuh perjuangan membela agama Allah, dg berbagai problemnya..namun sllu ada jalan keluarnya..Alhamdulillah ya Allah