
Bandung, DARAS.ID — Institut Agama Islam (IAI) PERSIS Bandung menggelar kegiatan Focus Group Discussion (FGD) bertema “Rebut Hati Generasi Z: Strategi Branding & Digital Marketing Jitu untuk Memenangkan Penerimaan Mahasiswa Baru di Kampus Islam” pada Selasa, 6 Mei 2026, bertempat di Aula Lt. 3 IAI PERSIS Bandung.
Kegiatan yang berlangsung mulai pukul 09.00 hingga 12.00 WIB ini menghadirkan Dr. Ir. H. Tri Utomo Wiganarto, MM., MH., Ph.D sebagai narasumber utama. Acara dibuka dengan speech opening oleh Prof. Dr. Jajang A Rohmana, M.Ag., serta dimoderatori oleh Nurdin Qusyaeri, M.Si.
FGD ini menjadi bagian dari ikhtiar strategis IAI PERSIS Bandung dalam memperkuat sistem Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB) berbasis transformasi digital dan pendekatan komunikasi yang sesuai dengan karakter Generasi Z.
Dalam paparannya, Dr. Tri Utomo Wiganarto menegaskan bahwa strategi promosi kampus saat ini tidak lagi cukup hanya mengandalkan metode konvensional. Menurutnya, kampus harus memahami pola perilaku digital Generasi Z yang sangat dekat dengan media sosial, visual, serta konten autentik.
“Generasi Z adalah digital natives. Mereka hidup di ruang digital selama 7–13 jam per hari, memiliki attention span yang singkat, dan sangat menghargai autentisitas,” ungkapnya dalam pemaparan materi.
Ia menjelaskan bahwa kampus Islam perlu membangun pendekatan pemasaran berbasis Customer Experience Journey 5A, yakni Aware, Appeal, Ask, Act, dan Advocate. Pendekatan ini menempatkan calon mahasiswa bukan sekadar objek promosi, tetapi sebagai bagian dari perjalanan pengalaman yang harus dibangun secara emosional dan berkelanjutan.
Pada tahap Aware, kampus dituntut mampu menciptakan kesadaran publik melalui konten yang menarik, estetis, dan relevan dengan aspirasi anak muda. Sementara pada tahap Appeal, kampus harus menghadirkan nilai pembeda melalui konten autentik seperti kehidupan mahasiswa, testimoni alumni, hingga virtual campus tour.
“Konten kampus hari ini tidak boleh terlalu formal dan hard selling. Generasi Z lebih tertarik pada storytelling yang jujur, emosional, dan relatable,” jelasnya.
Selain itu, Dr. Tri juga menyoroti pentingnya respons cepat dan pelayanan digital pada tahap Ask. Menurutnya, kecepatan merespons pertanyaan calon mahasiswa melalui WhatsApp, DM Instagram, hingga live chat website menjadi faktor penting dalam membangun kepercayaan publik terhadap institusi pendidikan.
FGD tersebut juga membahas pentingnya integrasi antara promosi online dan offline, pemanfaatan data analytics, penggunaan Meta Ads dan Google Ads, hingga pembentukan tim digital marketing kampus yang profesional dan terlatih.
Prof. Dr. Jajang A Rohmana, M.Ag., dalam sambutannya menyampaikan bahwa tantangan perguruan tinggi Islam swasta tidaklah mudah ditengah persaingan dengan perguruan Tinggi lainnya. Apalagi PTN seolah melakukan kapal keruk dengan membuka penerimaan mahasiswa Baru jalur mandiri, ujarnya.
Lebih lanjut dia mengatakan bahwa kita harus se kreatif-kreatifnya melakukan langkah-langkah jitu dalam menggaet hati Gen Z. Salah satunya pendekatan yang adaptif terhadap perkembangan zaman.
“Kampus Islam harus mampu hadir secara relevan di ruang digital tanpa kehilangan identitas nilai dan moralitasnya,” ujarnya.
Sementara itu, moderator kegiatan, Nurdin Qusyaeri, M.Si., menyebut bahwa FGD ini diharapkan menjadi momentum penguatan strategi branding kampus Islam agar lebih kompetitif di tengah ketatnya persaingan PMB nasional.
“Perguruan tinggi hari ini tidak cukup hanya unggul secara akademik, tetapi juga harus mampu membangun pengalaman komunikasi yang kuat, emosional, dan dekat dengan generasi muda,” katanya.
Melalui kegiatan ini, IAI PERSIS Bandung menegaskan komitmennya untuk terus beradaptasi dengan perkembangan teknologi komunikasi dan digital marketing dalam membangun citra kampus Islam yang unggul, modern, dan relevan bagi Generasi Z.
(Noer/Noer)






