Dear Pak Prabowo, Bapak di Mana?”

Oleh Nurdin Qusyaeri
Tanggal 2 Mei datang lagi.
Namanya masih sama: Hari Pendidikan Nasional.
Tapi rasanya?
Seperti pesan WhatsApp yang tidak dibalas.
“Dear Pak Prabowo, Bapak di mana?”
Kalimat itu viral. Ditulis oleh akun Twitter Ommi_Siregar. Sederhana, tapi nadanya seperti orang yang terlalu lama menunggu—hingga akhirnya sadar: mungkin memang tidak akan dijawab.
Karena di negeri ini, pendidikan sering hanya diingat saat upacara. Setelah itu, dilupakan seperti janji kampanye yang lupa ditagih.
Ketika Buruh Dirayakan, Guru Dilupakan
Dua hari lalu, 1 Mei 2026 Hari Buruh telah dirayakan dengan meriah:
- Konser besar
- Joget spesial
- 400 ribu sembako
- 8 janji kesejahteraan
Negara hadir. Bahkan sangat hadir.
Namun saat 2 Mei tiba?
Sunyi.
Jangankan kebijakan besar,
ucapan selamat saja seperti barang langka.
Seolah pendidikan bukan prioritas—hanya formalitas.
“Buruh Pendidikan”: Bukan Lagi Istilah, Tapi Nasib
Sebuah buletin dakwah menulis tajuk yang menohok:
“Potret Suram Buruh Pendidikan.”
Dan ini bukan hiperbola.
Realitasnya:
- Guru diposisikan seperti buruh, tapi tanpa perlindungan buruh
- Gaji minim, bahkan lebih rendah dari pekerja sektor informal tertentu
- Guru sering dijadikan kambing hitam kegagalan sistem pendidikan
- Negara belum benar-benar hadir dalam menjamin kesejahteraan mereka
Lebih tragis lagi, guru sering diminta satu hal yang sangat “murah” bagi negara:
“Ikhlas saja.”
Masalahnya, listrik tidak dibayar pakai ikhlas.
Sembako tidak bisa ditebus dengan pengabdian.
Ironi MBG: Ketika Logika Terbalik
Sekarang kita masuk ke bagian paling absurd—yang bahkan terasa seperti satire, tapi ini nyata:
- Guru yang mengabdi belasan tahun: gaji ratusan ribu
- Pekerja MBG (bahkan level cuci piring): jutaan rupiah
- Pegawai MBG: bisa diangkat P3K
- Guru: masih honorer, tanpa kepastian
Ini bukan sekadar ketimpangan.
Ini seperti negara sedang berkata:
“Mengajar generasi itu penting… tapi tidak sepenting program yang bisa viral.”
Lebih jauh lagi, muncul kekhawatiran:
- Anggaran pendidikan dan kesehatan tersedot ke program MBG
- Sementara sektor pendidikan tetap berjalan dengan napas pendek
- Jika ini benar, maka kita sedang menyaksikan satu hal yang berbahaya:
- masa depan dikorbankan demi popularitas hari ini.
Guru: Pahlawan Tanpa Tanda Jasa… dan Tanpa Gaji Layak
Dulu kita diajarkan:
“Guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa.”
Sekarang, kalimat itu terasa seperti kebijakan resmi.
Tanpa tanda jasa.
Tanpa jaminan.
Tanpa kepastian.
Guru diminta:
- Mengajar dengan dedikasi
- Membentuk karakter bangsa
- Menyelamatkan moral generasi
Tapi diberi:
- Sistem yang berubah-ubah
- Beban administratif
- Penghargaan simbolik
- Dan ketika hasilnya tidak ideal?
- Guru disalahkan.
Pendidikan Tidak Viral, Maka Tidak Prioritas
Mari jujur saja.
Pendidikan tidak menarik secara politik.
Tidak bisa dijadikan konten viral
Tidak menghasilkan tepuk tangan instan
Tidak memberi efek elektoral cepat
Berbeda dengan program populis.
Padahal, justru di situlah letak kesalahan kita.
Kita lebih memilih yang terlihat,
daripada yang menentukan masa depan.
Dear Pak Prabowo… Ini Bukan Sekadar Kritik
“Bapak di mana?”
Pertanyaan ini bukan soal keberadaan fisik.
Ini soal keberpihakan.
Apakah negara benar-benar berpihak pada pendidikan?
Atau hanya menjadikannya slogan?
Karena hari ini, yang kita lihat:
- Guru berjuang sendiri
- Sistem berjalan tanpa arah jelas
- Negara hadir di panggung, tapi absen di ruang kelas
Jika Guru Terus Diabaikan, Kita Sedang Menggali Lubang Sendiri
Bangsa ini tidak akan runtuh karena kekurangan konser.
Tidak juga karena kekurangan janji.
Tapi bangsa ini bisa runtuh—perlahan, diam-diam— ketika guru tidak lagi dihargai.
Karena:
- Buruh membangun hari ini.
- Guru membangun masa depan.
Dan jika yang membangun masa depan terus diabaikan, maka yang runtuh bukan hanya pendidikan— tapi seluruh peradaban kita.
Wallahu’alam






