Mengenal Teori Kepribadian Hippokrates-Galen Antara Warisan Sejarah dan Tantangan Psikologi Modern”

Mengenal Kepribadian Hippokrates dan Galen a Tara Warisan Sejarah dan Tantangan Psikologi Modern
Foto Alamy: Galan dan Hippokrates

 

Oleh Nurdin Qusyaeri

Teori tentang tipe kepribadian manusia, seperti melankolis, plegmatis, sanguinis, dan koleris, merupakan warisan pemikiran filsafat dan kedokteran kuno yang hingga kini masih sering dibahas.

Teori ini dikenal sebagai teori temperamen, berakar pada pandangan Hippokrates (460–370 SM) dan dikembangkan oleh Galen (129–216 M). Namun, meski teorinya tetap populer, relevansi dan validitasnya terus menjadi bahan perdebatan dalam dunia psikologi modern.

Hippokrates dan Empat Cairan Tubuh

Hippokrates, seorang dokter Yunani kuno, dikenal sebagai “Bapak Kedokteran” yang mengemukakan teori bahwa kesehatan manusia bergantung pada keseimbangan empat cairan tubuh, yaitu:

  1. Darah (sanguis)
  2. Lendir (phlegma)
  3. Empedu kuning (chole)
  4. Empedu hitam (melaina chole)

Menurut Hippokrates, ketidakseimbangan cairan ini tidak hanya menyebabkan penyakit fisik, tetapi juga memengaruhi kepribadian seseorang.

Galen dan Pengembangan Tipe Kepribadian

Teori ini kemudian disempurnakan oleh Galen, seorang dokter Romawi, yang menghubungkan keseimbangan cairan tubuh dengan empat tipe kepribadian:

  • Sanguinis: Ceria, optimis, dan energik (dominan darah).
  • Melankolis: Pemikir, serius, dan perfeksionis (dominan empedu hitam).
  • Koleris: Tegas, ambisius, dan pemimpin (dominan empedu kuning).
  • Plegmatis: Tenang, sabar, dan mudah beradaptasi (dominan lendir).

Teori ini menjadi salah satu fondasi penting dalam kedokteran dan psikologi pada masanya, membantu menjelaskan perbedaan individu dalam perilaku dan kesehatan.

Apakah Teori Tersebut Masih Relevan di Era Modern?

Meskipun teori ini menarik, sains modern telah banyak mengkritisinya. Di satu sisi, konsep ini dianggap relevan sebagai alat refleksi sederhana dalam memahami kepribadian. Namun, di sisi lain, teori ini tidak didukungoleh penelitian empiris.

Relevansi Positif

  1. Kesederhanaan dan Intuitif: Tipe kepribadian ini mudah dipahami dan sering digunakan dalam pelatihan pengembangan diri atau pendidikan.
  2. Warisan Sejarah: Teori ini menjadi landasan awal dalam memahami hubungan antara tubuh dan jiwa.
Baca Juga:  Panggilan Memasuki Madrasah Ramadhan

Kritik terhadap Relevansi

1. Tidak Berdasar pada Bukti Ilmiah

Tidak ada bukti biologis yang mendukung hubungan antara cairan tubuh dengan kepribadian.

2. Terlalu Sederhana

Psikologi modern memandang kepribadian sebagai sesuatu yang kompleks, melibatkan interaksi genetik, lingkungan, dan pengalaman hidup.

3. Mengabaikan Faktor Sosial dan Budaya

Teori ini gagal menjelaskan peran lingkungan dan budaya dalam pembentukan kepribadian.

Teori Modern tentang Kepribadian

Psikologi modern telah mengembangkan teori yang lebih ilmiah untuk memahami kepribadian, seperti:

1. Big Five Personality Traits

Mengukur lima dimensi utama:

  1. Openness (keterbukaan)
  2. Conscientiousness (keberhati-hatian)
  3. Extraversion (ekstraversi)
  4. Agreeableness (kesesuaian)
  5. Neuroticism (neurotisisme)

2. MBTI (Myers-Briggs Type Indicator)

Alat populer yang membagi kepribadian ke dalam 16 tipe berdasarkan dimensi seperti introversi-ekstraversi dan pemikiran-perasaan.

3. Teori Psikodinamik

Sigmund Freud dan Carl Jung memandang kepribadian sebagai hasil dari konflik bawah sadar, pengalaman masa kecil, dan arketipe.

Pendukung Teori Hippokrates-Galen

Meskipun teori ini tidak lagi dianggap ilmiah, masih ada kelompok yang mempertahankan kegunaannya dalam konteks tertentu.

  1. Praktisi Pengembangan Diri: Menggunakannya sebagai kerangka sederhana untuk memahami perilaku individu.
  2. Pendidikan dan Konseling: Memberikan wawasan awal tentang kepribadian siswa atau klien.
  3. Budaya Populer: Teori ini sering dijadikan bahan diskusi ringan dalam artikel, buku, atau pelatihan.

Para Pembantah dan Argumen Kuatnya

1. Tidak Reliabel secara Ilmiah

Kajian psikologi modern menuntut teori yang dapat diuji dan diukur, sementara teori ini bersifat spekulatif.

2. Konteks Historis yang Usang

Teori ini lahir dalam konteks kedokteran Yunani Kuno yang sangat terbatas pemahamannya tentang biologi dan psikologi manusia.

3. Reduksionisme Berlebihan

Mengkategorikan manusia hanya ke dalam empat tipe mengabaikan keragaman dan kompleksitas sifat manusia.

Baca Juga:  Strategi Digital Jadi Kunci, Coaching Clinic PP PERSIS Bahas Rekrutmen Mahasiswa Baru 2026

4. Penelitian yang Lebih Maju

Studi genetika dan neurologi menunjukkan bahwa kepribadian dipengaruhi oleh banyak faktor, termasuk struktur otak, hormon, dan pengalaman hidup, yang tidak tercakup dalam teori Hippokrates-Galen.

Pamungkas

Teori tipe kepribadian Hippokrates-Galen adalah salah satu tonggak awal dalam memahami perbedaan kepribadian manusia, tetapi tidak abadi dan telah digantikan oleh pendekatan ilmiah yang lebih kompleks.

Meskipun teori ini masih relevan dalam beberapa konteks populer, kajian psikologi modern telah menunjukkan bahwa kepribadian manusia jauh lebih dinamis dan dipengaruhi oleh faktor biologis, sosial, dan budaya yang tidak dijelaskan oleh teori ini.

Sebagai warisan sejarah, teori ini tetap menarik, tetapi untuk pemahaman yang lebih mendalam, pendekatan seperti Big Five atau MBTI lebih dapat diandalkan. Wallahu’alam

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *