Website Berita dan Opini
Indeks
IAIPI  

Membangun Peradaban dari Ruang Kemahasiswaan: Mengapa Prestasi Mahasiswa Qur’ani Harus Menjadi Arus Utama?

Prestasi
Dokumen pribadi: Thaariq berfoto bersama juri

 

Oleh Nurdin Qusyaeri

(Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan dan Alumni IAI PERSIS Bandung)

Setiap kali seorang pelajar meraih prestasi, sesungguhnya yang sedang kita rayakan bukan sekadar kemenangan individu. Yang lebih penting adalah lahirnya harapan bahwa perguruan tinggi masih mampu menjalankan misi utamanya: membentuk manusia yang berilmu, berkarakter, dan membawa manfaat bagi masyarakat.

Di tengah derasnya arus digital, ruang publik kita justru lebih sering dipenuhi kisah-kisah yang miskin nilai. Popularitas kerap mengalahkan kualitas. Viral lebih dihargai daripada karya. Tidak sedikit generasi muda yang merasa berhasil hanya karena dikenal banyak orang, padahal pengakuan masyarakat tidak selalu selaras dengan kemakmuran di hadapan Allah.

Di dalam perguruan tinggi Islam memikul tanggung jawab sejarah. Kampus tidak bisa sekedar menjadi tempat mahasiswa mengejar indeks prestasi, menyelesaikan sejumlah SKS, lalu memperoleh ijazah. Kampus harus menjadi ruang pembentukan manusia, tempat karakter ditempa, kepemimpinan dibangun, dan nilai-nilai Al-Qur’an dihidupkan dalam kehidupan sehari-hari.

Makna Setiap Prestasi Mahasiswa

Oleh karena itu, setiap prestasi mahasiswa yang lahir dari kecintaan kepada Al-Qur’an patut dimaknai lebih dari sekadar kemenangan di atas podium. Ia adalah bukti bahwa karakter pendidikan bukanlah slogan, melainkan sesuatu yang nyata ketika ilmu, akhlak, dan spiritualitas ditemukan dalam satu proses pendidikan.

Sebagai Wakil Rektor III yang membidangi kemahasiswaan, saya meyakini bahwa ukuran keberhasilan mahasiswa tidak cukup dilihat dari kemampuan akademiknya semata. Kampus juga berkewajiban melahirkan pribadi yang memiliki integritas, tanggung jawab sosial, kepemimpinan, kepedulian terhadap umat, serta kedekatan dengan nilai-nilai ilahiah.

Mahasiswa yang dekat dengan Al-Qur’an sejatinya sedang membangun fondasi kepemimpinan masa depan. Hafalan yang dijaga setiap hari melatih disiplin. Murojaah mengajarkan konsistensi. Tilawah membentuk kepekaan batin. Semua itu merupakan modal penting untuk melahirkan pemimpin yang tidak mudah dipengaruhi oleh kekuasaan, jabatan, maupun kepentingan pada saat itu.

Baca Juga:  Kesedihan Manis Ibu-Ibu Tamhid: Ketika Kuliah Menjadi Wisata Jiwa

Ironisnya, ruang publik kita belum sepenuhnya memberikan tempat yang layak bagi prestasi-prestasi semacam ini. Berita tentang konflik, sensasi, dan kontroversi jauh lebih cepat menyebar dibandingkan kisah pelajar yang bertahun-tahun menghafal Al-Qur’an, menempuh pendidikan tinggi, sekaligus mengukir prestasi. Padahal bangsa yang besar adalah bangsa yang pandai dalam menjaga teladan.

Al-Qur’an |

«”…Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.” (QS. Al-Mujādilah [58]: 11)»

Ayat ini memberikan arahan yang jelas bahwa kemuliaan tidak lahir dari popularitas, tetapi dari perpaduan antara keimanan dan ilmu pengetahuan. Inilah orientasi yang harus terus dibangun di lingkungan perguruan tinggi Islam.

Komite IAI PERSIS Bandung

IAI PERSIS Bandung berkomitmen menghadirkan ekosistem kemahasiswaan yang mendorong setiap mahasiswa berkembang secara utuh. Organisasi kemahasiswaan, pembinaan kepemimpinan, penguatan literasi, pengabdian kepada masyarakat, prestasi akademik maupun non akademik, hingga pembinaan keislaman bukanlah program-program yang berjalan sendiri-sendiri. Semuanya merupakan bagian dari ikhtiar membentuk lulusan yang unggul dalam kompetensi sekaligus kokoh dalam karakter.

Kami percaya bahwa masa depan Indonesia tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan teknologi atau kekuatan ekonomi, tetapi juga oleh kualitas manusianya. Bangsa ini memerlukan lebih banyak sarjana yang jujur ​​daripada sekedar sarjana yang pintar. Lebih banyak pemimpin yang amanah daripada pemimpin yang sekedar populer. Lebih banyak intelektual yang menjadikan wahyu sebagai kompas moral dalam setiap keputusan.

Oleh karena itu, setiap prestasi mahasiswa harus dipandang sebagai investasi peradaban. Tugas perguruan tinggi bukan hanya mencetak lulusan, tetapi melahirkan teladan. Bukan hanya menghasilkan tenaga kerja, tetapi membentuk pemimpin yang mampu menjaga nilai, merawat persatuan, dan menghadirkan kemaslahatan.

Semoga semakin banyak mahasiswa yang menjadikan prestasi bukan sebagai tujuan akhir, melainkan sebagai jalan pengabdian. Sebab, ilmu yang paling mulia bukanlah ilmu yang sekadar memenuhi ruang-ruang diskusi, tetapi ilmu yang melahirkan akhlak, menguatkan keimanan, dan menghadirkan manfaat bagi umat.

Baca Juga:  Persib Juara, KPI Membara: Dari Studio ke Surga Digital, Jalanmu Terbuka!

Di situlah sesungguhnya kampus sedang membangun peradaban—bukan dari gedung-gedung yang megah, melainkan dari karakter mahasiswa yang ditempa dengan ilmu, adab, dan cahaya Al-Qur’an.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *