Website Berita dan Opini
Indeks

Kesedihan Manis Ibu-Ibu Tamhid: Ketika Kuliah Menjadi Wisata Jiwa

Kuliah menjadi wisata jiwa
Gambar Ilustrasi

Oleh Popi Sri Mulyani*

Bagi sebagian orang, bangku kuliah adalah fase yang melelahkan. Namun tidak bagi para ibu-ibu Tamhid. Bagi mereka, kuliah bukan sekadar tempat menimba ilmu, tapi juga ruang untuk bernapas, bertumbuh, berbagi, dan tertawa bersama.

Kuliah menjadi tempat bersandar sejenak dari rutinitas rumah tangga yang tiada henti. Bersama mereka, kelas bukan lagi ruang formal, tetapi telah berubah menjadi taman hati—tempat menyiram semangat, menumbuhkan percaya diri, dan memanen ilmu.

Kuliah Menjadi Wisata Jiwa, Bukan Sekadar Rutinitas Akademik

Kini, ketika masa kuliah hampir usai, justru kesedihan yang menyelimuti hati. Bukan karena takut ujian akhir, bukan pula karena skripsi, tetapi karena satu hal sederhana: mereka tidak akan bisa belajar bersama lagi.

“Gak bisa makan bareng lagi, gak bisa dengerin dosen bercanda lagi, gak bisa ngerjain tugas kelompok lagi, gak bisa ketawa bareng lagi…”

Ada semacam kehangatan yang sudah terbangun. Ikatan batin antar pejuang ilmu yang tak muda lagi, namun semangatnya justru membara.

Kuliah bagi ibu-ibu ini bukan perkara ringan. Mereka datang dengan tubuh lelah setelah mengurus rumah, anak, suami, dan pekerjaan lain.

Namun anehnya, kuliah justru menjadi suntikan energi baru. Layaknya adrenalin yang menyembur saat lomba, setiap perkuliahan membuat mereka merasa hidup dan berarti.

Tak sedikit dari mereka yang mengibaratkan kuliah sebagai wisata jiwa—tempat bersenang-senang sambil memperkaya diri.

Bukan dengan belanja atau ke mall, tetapi dengan ilmu, diskusi, tawa, dan cerita.

Baca Juga:  UAS KPI Ibu-Ibu: Ketika Soal Esai Beranak-Cucu dan Murka Pun Menjelma

Tidak ada yang bisa menggantikan rasa bangga saat akhirnya menyelesaikan studi. Namun, rasa kehilangan tetap ada.

Kehilangan momen-momen sederhana: berbagi bekal, mencatat bersama, bercanda di sela kuliah, bahkan bergantian menjaga anak saat yang lain fokus mendengar dosen.

Kenangan yang Terpatri Selamanya

Kini, langkah kaki mereka akan beranjak ke jenjang baru. Namun setiap jejak yang tertinggal di ruang kelas, masjid, kantin kecil, hingga lorong kampus, akan tetap hidup dalam ingatan.

Kuliah bukan akhir. Ini adalah awal dari perjuangan ilmu yang lebih luas.

Meski tak lagi duduk di kelas, semangat belajar itu tak akan pernah padam. Karena sekali menjadi pencari ilmu, hati akan selamanya haus akan cahaya pengetahuan.

Untuk para ibu-ibu Tamhid KPI 23, terima kasih telah membuktikan bahwa:

  • Usia bukan batas,
  • Kelelahan bukan alasan,
  • Dan ibu rumah tangga pun bisa menjadi pejuang ilmu yang luar biasa.

*Penulis Mahasiswi KPI IAI Persis Bandung

Editor: San

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *