
Nurdin Qusyaeri, DARAS.ID
Sore itu langit WAG mendung. Aroma ketegangan terasa sejak pukul 18.00 sore, ketika segerombolan ibu-ibu KPI alumni Tamhied menggugat…
Bukan menggugat Mahkamah Konstitusi, bukan pula menggugat thalak suami, tapi soal UAS yang katanya beranak dan bercucu.
“Astaghfirullah ustadz Qusyaeri, ini soal atau silsilah keturunan? Soal nomor satu aja minta dua jawaban, soal nomor dua nyambung lagi, lalu soal ketiga mendadak lahirkan kembar tiga!”
Saya tersenyum. Tapi bukan sembarang senyum. Bukan pula senyum sinis, tapi semacam senyum Socrates waktu dituduh merusak pemuda Athena.
Ini senyum jenis ketiga: Senyum pasrah, Senyum sabar, dan senyum nahan ketawa.
Karena saya tahu, di balik tumpahan keluh itu ada cinta tersembunyi pada ilmu. Tapi jujur juga, saat mendengar ibu-ibu KPI murka, saya sempat berpikir:
“Duh, bahaya ini kalau mereka terus-terusan marah. Jangan-jangan semester depan gak dikasih jadwal kelas lagi. Kalau ibu-ibu ngambek, dunia KPI bisa goyah. Seperti Palestina digempur Israel, tak ada daya jika murka tak berhenti.”
Padahal kelas ibu-ibu itu… ah, sungguh beda auranya.
Mereka datang bukan hanya dengan buku dan pena, tapi dengan semangat, tawa, dan cemilan. Bahkan botram.
Ngobrolnya ngalor-ngidul, tapi selalu nyantol.
Seringkali kelas jadi semi-forum pengajian, semi-pengakuan dosa, semi-rapat keluarga, dan semi-drama Korea.
Dan yang lebih menyenangkan lagi: ibu-ibu ini sering banget bawa konsumsi buat dosennya!
Entah niatnya sedekah, atau… semacam diplomasi perut, biar dosennya nggak galak.
Tapi saya anggap itu semua bagian dari kurikulum tersembunyi: Komunikasi Persuasif dalam Dunia Dakwah.
Tapi, sebagai manusia biasa yang punya rasa hilap dan salah, saya pun melakukan instrospeksi. Saya coba buka kembali soal UAS yang dikirim ke tendik.
Dan… ternyata benar. Soalnya tidak ke-edit. Harusnya cuma 3 soal. Tapi yang terkirim 5. Ya Allah… Ini bukan UAS, ini ujian kesabaran semester akhir.
Sekarang saya paham kenapa ibu-ibu KPI mendadak murka. Karena mereka bukan sekadar mahasiswi, mereka juga istri, ibu, penjaga warung, guru TPA, bendahara arisan, pengurus PKK, dan kadang petugas nasi kuning di pengajian Ahad pagi. Mereka terbiasa multitasking, tapi tidak terbiasa menghadapi soal UAS yang menyerupai tugas akhir skripsi mini.
Tapi… saya tetap bangga. Karena meski soal itu seperti ladang ranjau, para ibu-ibu tetap menjawab. Bahkan ada yang sampai nulis seperti menulis surat cinta buat masa lalu yang tak sempat kembali.
Maka, dengan semangat keibu-ibuan dan keikhlasan seorang dosen KPI, saya umumkan:
“Bagi yang sudah menjawab sampai soal nomor 3 saja: itu sudah cukup. Anda lulus dengan hormat dan penuh berkah.”
Tapi…
“Bagi yang sudah menjawab sampai soal ke-5 lengkap dengan keterangan anak, cucu, dan cicitnya: Anda hebat! Anda bukan cuma mahasiswi, tapi pejuang dakwah yang siap tempur. Bonus nilai akan saya beri… walau cukup saya dan langit yang tahu.”
Sungguh, dalam dunia KPI, kadang murka adalah wujud dari bentuk cinta.
Kadang soal beranak adalah juga ujian kesabaran.
Dan kelas ibu-ibu? Tetap menjadi oase akademik, di tengah gersangnya deadline dan tugas.
Jadi… jangan marah lama-lama, Bu.
Karena tanpa ibu-ibu, saya kehilangan canda kelas, kehilangan ruh, sekaligus kehilangan tukang konsumsi, kehilangan cerita rumah tangga, dan kehilangan pelajaran bahwa belajar bisa sambil tertawa.
Salam cinta dari dosen yang juga manusia dan gak sempat foto-foto yang sering dianggap sebagai wujud eksistensi.
Yang kadang khilaf tak mengedit soal, tapi tak pernah lupa menghargai perjuangan.
Salam cinta dan secangkir kopi Arabika kiriman sahabat saya warek IV, Lalan Sahlani untuk ibu-ibu KPI tercinta.
Karena di balik murka mereka, ada cinta pada ilmu yang menggelegak, seperti air rebusan daun salam dalam panci emak-emak.
Ciganitri, Jum’at 20 Juni 2025






