Website Berita dan Opini
Indeks

PC Pemudi Persis Pasirjambu Gelar Seminar Manajemen Stres bersama Alumni IAI Persis Bandung

pc-pemudi-persis-pasirjambu-seminar-manajemen-stres-alumni-iai-persis-bandung

Pasirjambu, Kabupaten Bandung — Pimpinan Cabang (PC) Pemudi Persis Pasirjambu menggelar Seminar Manajemen Stres bertajuk “Belajar Mengelola Emosi dan Stres agar Tetap Kuat Menjalani Peran sebagai Muslimah” pada Senin, 6 Juli 2026.

Kegiatan yang berlangsung pukul 08.00–12.00 WIB ini dilaksanakan di Kompleks Masjid At-Tajdied Pasanggrahan, Pasirjambu, Kabupaten Bandung. Seminar tersebut menghadirkan Ustazah Ghinan Rhinda, S.Sos., CH., CHt., CSHP., CMHFA. sebagai pemateri.

Seminar manajemen stres ini diikuti oleh jamaah muslimah dari berbagai kalangan dan latar belakang. Antusiasme peserta terlihat sejak awal kegiatan, menunjukkan bahwa pembahasan mengenai pengelolaan emosi, kesehatan mental, dan ketahanan diri merupakan kebutuhan yang sangat dekat dengan kehidupan muslimah masa kini.

Ustazah Ghinan Rhinda, Alumni IAI Persis Bandung yang Aktif Berdakwah

Ustazah Ghinan Rhinda merupakan alumni IAI Persis Bandung yang aktif sebagai narasumber, hypnotherapist, content creator, serta penggerak dakwah dan kegiatan kemanusiaan. Beliau dikenal sebagai pendiri Rumah Pelangi, sekolah gratis untuk anak jalanan, yatim, dan dhuafa. Selain itu, beliau juga mendirikan gerakan #PatunganKebaikan dan komunitas Bersama Bermakna yang bergerak dalam dakwah serta pendampingan self-healing bagi anak muda.

Kehadiran beliau dalam seminar tersebut menjadi kebanggaan bagi keluarga besar IAI Persis Bandung. Sebagai alumni, Ustazah Ghinan Rhinda memperlihatkan bahwa ilmu yang diperoleh dari lingkungan pendidikan Persatuan Islam dapat terus berkembang menjadi pengabdian yang luas bagi masyarakat.

Dalam kesempatan tersebut, beliau menyampaikan rasa bahagianya dapat kembali hadir dan berbagi ilmu di lingkungan Pemudi Persis. Ustazah Ghinan mengaku bahwa mengisi seminar di PC Pemudi Persis Pasirjambu menghadirkan perasaan seperti pulang ke rumah sendiri.

Hal tersebut karena beliau memiliki latar belakang pendidikan dan pembinaan di lingkungan Persatuan Islam. Perjalanan pendidikannya dimulai dari Muallimin kemudian melanjutkan ke Al Imarat hingga melanjutkan pendidikan tinggi di IAI Persis Bandung.

“Ketika mengisi seminar di Pemudi Persis, rasanya seperti pulang ke rumah sendiri. Karena saya tumbuh dari lingkungan Persatuan Islam, dari Muallimin melanjutkan ke Al Imarat sampai kuliah di IAI Persis Bandung,” paparnya.

Dakwah yang Menjangkau Lebih Luas

Saat ini, aktivitas dakwah Ustazah Ghinan Rhinda banyak menjangkau masyarakat di luar lingkungan organisasi Persatuan Islam. Meski demikian, beliau tetap membawa semangat dakwah dan nilai-nilai Persatuan Islam dalam setiap ruang pengabdian yang dijalaninya.

Baca Juga:  "Cape" yang Berakhir Tragis di Banjaran

Menurut beliau, tantangan dakwah justru lebih banyak ditemukan di luar lingkungan organisasi. Banyak masyarakat yang membutuhkan pendampingan, penguatan nilai keislaman, pemahaman tentang kesehatan emosional, serta ruang untuk belajar dan bertumbuh.

Beliau menyampaikan bahwa berdakwah di tengah masyarakat yang beragam membutuhkan kemampuan beradaptasi dengan kebiasaan, latar belakang, dan pola pikir yang berbeda. Namun, selama kebiasaan tersebut masih dapat ditoleransi dan tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip Islam, beliau memilih untuk tetap terbuka demi menghadirkan dakwah yang lebih luas dan berdampak.

“Memang tidak jarang harus beradaptasi dengan kebiasaan mereka. Namun, selama masih bisa ditolerir, saya tidak masalah. Sebab, dakwah harus menjangkau lebih luas dan memberikan dampak yang lebih besar,” jelasnya.

Mengelola Emosi dan Stres agar Tetap Kuat Menjalani Peran sebagai Muslimah

Dalam materinya, Ustazah Ghinan Rhinda mengajak para peserta untuk memahami bahwa stres sering kali terjadi karena emosi yang menumpuk dan tidak pernah mendapatkan ruang untuk dipahami maupun divalidasi.

Kondisi tersebut dapat berdampak pada kesehatan emosional, hubungan keluarga, produktivitas, serta kualitas ibadah seorang muslimah. Oleh karena itu, perempuan perlu belajar mengenali kondisi diri dan tidak terus-menerus memendam beban seorang diri.

Beliau menjelaskan bahwa kelelahan emosional dapat muncul dalam bentuk mudah marah, mudah menangis, sulit tidur, kehilangan semangat, merasa tidak cukup baik, hingga merasa hidup hanya dijalani sebagai rangkaian kewajiban.

Peserta diajak untuk memahami bahwa perasaan lelah bukan selalu tanda kurang bersyukur. Dalam banyak kondisi, seseorang bisa saja sedang menghadapi beban mental yang berat, luka batin yang belum selesai, atau tekanan hidup yang tidak memiliki ruang untuk diceritakan.

Materi seminar juga menyoroti pentingnya memutus rantai luka emosional agar tidak terus terbawa dalam hubungan keluarga dan generasi berikutnya. Luka yang dipendam dan tidak diselesaikan berpotensi memengaruhi cara seseorang merespons masalah, membangun relasi, bahkan mendidik anak.

Ruang Aman bagi Muslimah untuk Bertumbuh dan Pulih

Antusiasme peserta dalam seminar ini memperlihatkan bahwa banyak muslimah membutuhkan ruang aman dan nyaman untuk menyampaikan keluh kesah, memahami kondisi emosionalnya, serta memperoleh penguatan dari lingkungan yang baik.

Baca Juga:  Nuzulul Qur'an: Ketika Langit Menyapa Bumi

Seminar ini tidak hanya menjadi forum penyampaian materi, tetapi juga menjadi ruang belajar yang hangat bagi para muslimah untuk saling menguatkan. Peserta diajak menyadari bahwa meminta bantuan, beristirahat, dan bercerita kepada orang yang dipercaya bukanlah tanda kelemahan.

Dalam sesi materi, Ustazah Ghinan Rhinda membagikan beberapa langkah sederhana yang dapat dilakukan untuk mengelola emosi dan stres, di antaranya memberi ruang untuk beristirahat, bercerita kepada orang terpercaya, menulis jurnal emosi, mengurangi kebiasaan membandingkan diri, memperbanyak doa dan dzikir, serta tidak memikul seluruh persoalan seorang diri.

Beliau juga menegaskan bahwa seorang ibu dan muslimah tetaplah manusia yang memiliki hak untuk merasa lelah, menangis, beristirahat, meminta bantuan, dan bercerita. Pemahaman ini penting agar perempuan tidak merasa harus selalu kuat dalam diam.

Peran Iman dalam Menjaga Kesehatan Emosional Muslimah

Seminar Manajemen Stres PC Pemudi Persis Pasirjambu juga mengaitkan pengelolaan emosi dengan penguatan iman. Muslimah diajak untuk membangun prasangka baik kepada Allah, memperbanyak doa dan dzikir, serta menjadikan ibadah sebagai sumber ketenangan dalam menghadapi berbagai persoalan kehidupan.

Menjaga kesehatan emosional tidak berarti mengurangi keimanan. Sebaliknya, mengenali kondisi diri, merawat kesehatan jiwa, dan mencari pertolongan yang tepat merupakan bagian dari ikhtiar seorang muslimah untuk menjaga amanah kehidupan.

Harapan untuk Muslimah yang Berilmu, Kuat, dan Berdaya

PC Pemudi Persis Pasirjambu berharap seminar ini dapat memberikan manfaat nyata bagi seluruh peserta. Kegiatan tersebut diharapkan tidak hanya menambah wawasan mengenai manajemen stres, tetapi juga menumbuhkan kesadaran bahwa muslimah perlu merawat diri, menjaga emosi, serta membangun lingkungan yang saling menguatkan.

Kegiatan ini menjadi salah satu bentuk pembinaan muslimah yang relevan dengan kebutuhan zaman. Melalui dakwah, pendidikan, dan pendampingan, Pemudi Persis terus berupaya menghadirkan program yang mampu membentuk muslimah berilmu, berakhlak, sehat secara emosional, dan kokoh dalam menjalankan perannya di tengah keluarga maupun masyarakat.

Seminar ini juga menjadi bukti bahwa alumni IAI Persis Bandung terus hadir dan berkontribusi melalui berbagai bidang pengabdian. Dari kampus, ilmu tumbuh; di tengah masyarakat, ilmu tersebut menjadi cahaya, penguatan, dan manfaat bagi umat.(Popi)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *