
Oleh Nurdin Qusyaeri
Setiap tanggal 17 Ramadhan. Di seluruh penjuru Indonesia, masjid-masjid menggelar peringatan Nuzulul Qur’an. Lantunan ayat suci menggema, doa-doa dipanjatkan, dan ribuan umat berkumpul untuk mengenang sebuah peristiwa agung: turunnya wahyu pertama kepada Nabi Muhammad SAW .
Tapi di balik semua kemeriahan itu, pertanyaan mendasar layak kita ajukan: sejauh mana kita benar-benar memahami peristiwa ini? Apakah sekadar seremoni tahunan yang rutin diulang, ataukah ada pesan mendalam yang terus menggema sepanjang zaman?
Peristiwa di Gua Hira itu bukan sekadar catatan sejarah. Ia adalah titik balik peradaban manusia. Saat Malaikat Jibril datang dengan perintah “Iqra’!”, saat itulah cahaya mulai merembes ke dalam kegelapan zaman jahiliyah. Saat itulah manusia mendapatkan lagi petunjuk yang selama berabad-abad telah memudar dari kehidupan mereka .
Mengapa 17 Ramadhan?
Allah SWT berfirman dalam Surat Al-Baqarah ayat 185:
شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآَنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ
“Bulan Ramadan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu serta pembeda (antara yang hak dan yang batil).” (QS. Al-Baqarah: 185)
Ayat ini dengan tegas menyatakan bahwa Al-Qur’an diturunkan di bulan Ramadhan. Namun, tanggal pastinya tidak disebutkan secara eksplisit. Lalu mengapa umat Islam sepakat memperingatinya setiap 17 Ramadhan?
Landasan dari Al-Qur’an dan Hadits
Para ulama mendasarkan penetapan 17 Ramadhan pada firman Allah dalam Surat Al-Anfal ayat 41:
إِنْ كُنْتُمْ آمَنْتُمْ بِاللَّهِ وَمَا أَنْزَلْنَا عَلَى عَبْدِنَا يَوْمَ الْفُرْقَانِ يَوْمَ الْتَقَى الْجَمْعَانِ
“Jika kamu beriman kepada Allah dan kepada apa yang Kami turunkan kepada hamba Kami (Muhammad) di hari Furqan, yaitu di hari bertemunya dua pasukan.” (QS. Al-Anfal: 41)
Para ulama menafsirkan “yaumul furqan” sebagai hari bertemunya dua pasukan dalam Perang Badar, yang terjadi pada 17 Ramadhan tahun 2 Hijriah. Imam ath-Thabari dalam kitabnya Jāmi’ul Bayān fi Ta’wīlil Qur’an mengutip Hasan bin Ali yang berkata bahwa “malam al-furqan yaumul taqāl Jam’āni” adalah tanggal 17 bulan Ramadhan .
Ibnu Katsir dalam Al-Bidāyah wan Nihāyah juga mengutip riwayat dari Al-Waqidi yang sampai kepada Abu Ja’far Al-Baqir bahwa permulaan wahyu sampai kepada Rasulullah SAW pada hari Senin tanggal 17 Ramadhan .
Perbedaan Pendapat di Kalangan Ulama
Meski demikian, perlu dicatat bahwa para ulama berbeda pendapat tentang tanggal pasti Nuzulul Qur’an. Sebagian berpendapat Al-Qur’an diturunkan pada tanggal 17 Ramadhan, sebagian lagi mengatakan pada tanggal 24 Ramadhan .
Pendapat yang mengatakan Al-Qur’an diturunkan pada malam 17 Ramadhan didasarkan pada hadits riwayat Ath-Thabarani dari Zaid bin Arqam RA yang berkata:
عَنْ زَيْدِ بْنِ أَرْقَمَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَال : مَا أَشُكُّ وَلاَ أَمْتَرِي أَنَّهَا لَيْلَةُ سَبْعَ عَشْرَةَ مِنْ رَمَضَانَ لَيْلَةَ أُنْزِل الْقُرْآنُ
“Aku tidak ragu bahwa malam 17 Ramadhan adalah malam turunnya Al-Qur’an.” (HR. Ath-Thabarani dan Abu Syaibah)
Sementara itu, ada juga hadits dari Watsilah bin Al-Asqa’ yang diriwayatkan Imam Ahmad:
نَزَلَتْ صُحُفُ إِبْرَاهِيمَ فِي أَوَّلِ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ، وَأُنْزِلَتِ التَّوْرَاةُ لِسِتٍّ مَضَيْنَ مِنْ رَمَضَانَ، وَالْإِنْجِيلُ لِثَلَاثَ عَشْرَةَ خَلَتْ مِنْ رَمَضَانَ، وَأَنْزَلَ اللَّهُ الْقُرْآنَ لِأَرْبَعٍ وَعِشْرِينَ خَلَتْ مِنْ رَمَضَانَ
“Shuhuf Ibrahim diturunkan pada malam pertama Ramadhan, Taurat diturunkan pada tanggal 6 Ramadhan, Injil diturunkan pada tanggal 13 Ramadhan, dan Allah menurunkan Al-Qur’an pada tanggal 24 Ramadhan.” (HR. Ahmad)
Dua Fase Turunnya Al-Qur’an
Untuk memahami perbedaan ini, para ulama tafsir menjelaskan bahwa Al-Qur’an diturunkan dalam dua fase :
Pertama, diturunkan secara keseluruhan (jumlatan wāhidatan) dari Lauhul Mahfuzh ke Baitul ‘Izzah di langit dunia. Ini terjadi pada malam Lailatul Qadar, sebagaimana firman Allah dalam Surat Al-Qadr ayat 1:
“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam kemuliaan.”
Ibnu Abbas RA menegaskan bahwa Al-Qur’an diturunkan sekaligus dari Lauhul Mahfuzh ke Baitul ‘Izzah di langit dunia .
Kedua, diturunkan secara bertahap (najman najman) dari langit dunia kepada Nabi Muhammad SAW melalui Malaikat Jibril selama 23 tahun, sesuai dengan peristiwa dan kebutuhan yang terjadi .
Dengan pemahaman ini, kita bisa melihat bahwa peringatan Nuzulul Qur’an setiap 17 Ramadhan lebih merujuk pada awal mula turunnya wahyu pertama (Surat Al-‘Alaq 1-5) kepada Nabi Muhammad SAW di Gua Hira, yang menandai dimulainya fase kedua dari proses penurunan Al-Qur’an .
Peristiwa di Gua Hira: Awal Mula Wahyu
Kontemplasi Sang Nabi
Sebelum diangkat menjadi rasul, Nabi Muhammad SAW memiliki kebiasaan menyendiri (berkhalwat) di Gua Hira, sebuah gua di Jabal Nur, sekitar 5 kilometer dari Mekkah. Di sana beliau merenung, merenungi kekacauan masyarakat jahiliyah, merenungi penyembahan berhala yang tidak masuk akal, merenungi kerasnya hati manusia .
Beliau melakukan itu tahun demi tahun, hingga akhirnya pada usia 40 tahun, tepatnya tanggal 17 Ramadhan, datanglah Malaikat Jibril dengan perintah yang mengubah segalanya .
Peristiwa Penerimaan Wahyu Pertama
Syekh M. Ali Ash-Shabuni dalam At-Tibyan fi Ulumil Qur’an menggambarkan peristiwa itu dengan indah. Ketika Rasulullah sedang berada di Gua Hira, tiba-tiba Malaikat Jibril datang seraya berkata, “Iqra’!” (Bacalah!).
Rasulullah menjawab, “Mā ana bi qāri‘” (Aku tidak bisa membaca).
Jibril memeluk Rasulullah hingga beliau merasa sesak, lalu melepaskannya dan kembali berkata, “Iqra’!”
Rasulullah menjawab lagi, “Mā ana bi qāri’“.
Jibril memeluk lagi, melepaskan, dan berkata, “Iqra’!”
Rasulullah menjawab dengan jawaban yang sama. Pada kali ketiga, Jibril membacakan wahyu pertama:
اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ ﴿١﴾ خَلَقَ الْإِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ ﴿٢﴾ اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ ﴿٣﴾ الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ ﴿٤﴾ عَلَّمَ الْإِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ ﴿٥﴾
“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Mulia. Yang mengajar (manusia) dengan pena. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.” (QS. Al-‘Alaq: 1-5)
Setelah menerima wahyu tersebut, Rasulullah pulang dalam keadaan gemetar. Beliau memasuki rumah dan berkata kepada Khadijah, “Selimuti aku, selimuti aku!” Khadijah menyelimuti beliau hingga rasa takutnya reda .
Perbedaan Pendapat tentang Wahyu Pertama
Para ulama memang berbeda pendapat tentang surat pertama yang turun. Sebagian besar ulama, berdasarkan riwayat Aisyah RA dalam Shahih Bukhari dan Muslim, berpendapat bahwa wahyu pertama adalah Surat Al-‘Alaq ayat 1-5.
Sementara ada riwayat dari Jabir bin Abdullah yang menyebut Surat Al-Muddatstsir sebagai wahyu pertama .
Imam As-Suyuthi dalam Al-Itqan fi Ulumil Qur’an menjelaskan bahwa pendapat yang sahih adalah Surat Al-‘Alaq sebagai wahyu pertama.
Adapun riwayat Jabir tentang Surat Al-Muddatstsir dapat dipahami bahwa yang dimaksud adalah surat pertama yang turun secara lengkap, atau wahyu pertama setelah masa fatrah (terputusnya wahyu) .
Imam Badruddin Az-Zarkasyi dalam Al-Burhan fi Ulumil Qur’an menjelaskan bahwa mungkin saja Jabir hanya mendengar bagian akhir cerita Rasulullah, sehingga ia mengira Surat Al-Muddatstsir adalah wahyu pertama .
Perbedaan ini tidak perlu dipertentangkan, karena justru menunjukkan betapa para ulama sangat teliti dalam menjaga otentisitas Al-Qur’an.
Makna Filosofis “Iqra”: Lebih dari Sekadar Membaca
Membaca Teks dan Konteks
Perintah pertama yang turun adalah “Iqra'”—bacalah. Sebuah kata yang sederhana, namun sarat makna. Bukan kebetulan Allah memulai wahyu-Nya dengan perintah membaca. Ini menunjukkan bahwa Islam adalah agama yang berbasis ilmu pengetahuan .
Syekh Muhammad Abduh dalam tafsirnya menjelaskan bahwa perintah membaca di sini tidak hanya terbatas pada membaca teks tertulis, tetapi juga membaca alam semesta, membaca realitas sosial, membaca sejarah, membaca diri sendiri. Karena dengan membaca, manusia akan mengenali tanda-tanda kebesaran Allah di mana-mana .
Yayan Sopyan, Guru Besar UIN Jakarta, dalam tulisannya di Republika menegaskan bahwa makna “Iqra” jauh lebih luas dari sekadar membaca huruf. Ia berarti merenung, meneliti, memahami. Membaca bukan hanya teks, tetapi juga konteks. Bukan hanya yang tertulis, tetapi juga yang terhampar di alam raya .
Membaca dengan Nama Tuhan
Perintah “Iqra” dalam ayat itu tidak berdiri sendiri. Ia disertai dengan “bismi rabbika”— dengan nama Tuhanmu. Ini pesan penting bahwa membaca harus dilandasi kesadaran tauhid. Ilmu tanpa orientasi moral dan spiritual berisiko kehilangan arah. Ia bisa menjadi alat dominasi, bukan sarana pembebasan .
Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin mengingatkan bahwa ilmu yang tidak disertai dengan rasa takut kepada Allah hanya akan menambah kesombongan. Karena itu, membaca dengan nama Tuhan berarti membaca dengan kesadaran bahwa semua ilmu berasal dari-Nya dan akan kembali kepada-Nya.
Dua Kali Perintah Membaca
Menariknya, kata “Iqra” disebut dua kali dalam lima ayat pertama itu. Pada ayat pertama: “Iqra’ bismi rabbika…” dan pada ayat ketiga: “Iqra’ wa rabbukal akram…”
Pengulangan ini, menurut para ulama, menekankan pentingnya aktivitas intelektual yang terus-menerus. Peradaban dibangun oleh tradisi ilmu dan kesadaran kritis yang tidak pernah berhenti .
Perspektif Sosial-Budaya: Dari Teks ke Konteks
Membaca Luka Sosial
Yayan Sopyan mengajukan pertanyaan reflektif:
“Di tengah semarak Ramadhan dan pencarian Lailatul Qadar, kita justru menyaksikan ironi: kepedulian sosial yang melemah. Kita fasih membaca ayat-ayat suci, tetapi sering kali gagap membaca luka sosial. Kita khusyuk dalam ritual, namun mudah lalai terhadap tangisan korban bencana dan konflik” .
Ini kritik yang tajam. Nuzulul Qur’an seharusnya mengingatkan kita bahwa Al-Qur’an diturunkan bukan hanya untuk dibaca, tetapi untuk mengubah realitas.
Ia turun di tengah masyarakat jahiliyah yang penuh dengan ketidakadilan, dan dalam 23 tahun ia berhasil mengubah masyarakat itu menjadi peradaban yang adil dan beradab .
Jika kita hanya membaca Al-Qur’an tanpa membaca penderitaan di sekitar, tanpa membaca ketimpangan sosial, tanpa membaca kerakusan yang merusak lingkungan, maka kita belum memahami makna “Iqra” secara utuh.
Al-Qur’an sebagai Pembebas
Turunnya Al-Qur’an adalah peristiwa pembebasan. Ia membebaskan manusia dari tirani hawa nafsu, dari penyembahan berhala, dari ketidakadilan, dari segala bentuk penindasan. Ia mengajak manusia pada kesadaran ilahiyah—kesadaran bahwa ada Tuhan yang Maha Hadir, yang tidak pernah lengah mengawasi tingkah laku manusia.
Kesadaran ini menumbuhkan sifat jujur, sabar, disiplin, dan peka sosial. Maka, Nuzulul Qur’an seharusnya menjadi momentum untuk mengembalikan keberpihakan kita pada yang lemah, pada yang tertindas, pada yang termarjinalkan.
Perspektif Filosofis: Al-Qur’an yang Tak Pernah Kering
Intan yang Memancarkan Banyak Cahaya
Abdullah Darras, seorang pemikir Islam, membuat analogi indah tentang Al-Qur’an.
Katanya, Al-Qur’an itu bagaikan intan; setiap sudutnya memancarkan cahaya berbeda dengan apa yang terpancar dari sudut lainnya. Tidak mustahil, jika kita mempersilahkan orang lain memandangnya, ia akan melihat lebih banyak daripada apa yang kita lihat .
M. Quraish Shihab dalam berbagai karyanya sering mengutip pernyataan ini untuk menjelaskan bahwa Al-Qur’an selalu relevan sepanjang zaman. Setiap generasi bisa menemukan makna baru yang sesuai dengan konteksnya, tanpa harus keluar dari bingkai dasar ajaran Islam.
Al-Qur’an yang Berbicara
Fazlurrahman, pemikir Islam, menyebut Al-Qur’an sebagai the speaking words—kata-kata yang berbicara. Ia tidak seperti buku mati yang hanya bisa dibaca, tetapi ia mengajak pembacanya untuk berdialog, untuk bertanya-jawab, untuk merenung dan mencari makna .
Ini sejalan dengan konsep tadabbur yang diperintahkan Al-Qur’an sendiri. Allah berfirman dalam Surat An-Nisa ayat 82:
أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآَنَ
“Maka apakah mereka tidak merenungkan Al-Qur’an?”
Tadabbur berarti merenung, menghayati, dan menggali makna. Bukan sekadar membaca tekstual, tetapi masuk ke dalam kedalaman pesan yang disampaikan .
Al-Qur’an dan Ilmu Pengetahuan
Salah satu aspek kemukjizatan Al-Qur’an adalah kesesuaiannya dengan penemuan ilmiah modern. Tentu, Al-Qur’an bukan kitab ilmu pengetahuan, tetapi ia mengandung banyak isyarat ilmiah yang baru terbukti kebenarannya setelah ilmu pengetahuan berkembang .
Quraish Shihab menjelaskan bahwa membahas hubungan antara Al-Qur’an dan ilmu pengetahuan bukan dengan mencari apakah teori relativitas ada dalam Al-Qur’an, tetapi dengan melihat apakah jiwa ayat-ayatnya menghalangi kemajuan ilmu pengetahuan atau sebaliknya. Apakah ada ayat yang bertentangan dengan hasil penemuan ilmiah yang telah mapan?
Jawabannya: tidak ada. Al-Qur’an justru mendorong manusia untuk berpikir, meneliti, dan mengembangkan ilmu pengetahuan.
Amalan di Malam Nuzulul Qur’an
Peringatan Nuzulul Qur’an hendaknya tidak berhenti pada seremoni, tetapi diisi dengan amalan-amalan yang mendekatkan diri kepada Al-Qur’an.
1. Membaca Al-Qur’an
Amalan paling utama tentu membaca Al-Qur’an. Momentum ini sangat tepat untuk memperbanyak tilawah, karena ia adalah peringatan atas turunnya kitab suci .
2. Mentadabburi Al-Qur’an
Tidak hanya membaca, tetapi juga merenungkan maknanya. Dalam buku Tafsir Al-Misbah, Quraish Shihab menjelaskan bahwa tadabbur Al-Qur’an berarti merenungkan pesan-pesan yang terkandung di dalamnya agar dapat diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.
3. Doa Malam Nuzulul Qur’an
Umat Islam dianjurkan memperbanyak doa di malam ini. Salah satu doa yang dianjurkan adalah doa sapu jagad:
اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ العَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي
“Ya Allah, Engkau Maha Pemaaf dan mencintai ampunan, maka ampunilah aku.”
Doa lain yang juga sering dibaca:
اللهم نَوِّرْ قُلُوبَنَا بِتِلَاوَةِ الْقُرْآنِ، وَزَيِّنْ أَخْلَاقَنَا بِجَاهِ الْقُرْآنِ، وَحَسِّنْ أَعْمَالَنَا بِذِكْرِ الْقُرْآنِ، وَنَجِّنَا مِنَ النَّارِ بِكَرَامَةِ الْقُرْآنِ، وَأَدْخِلْنَا الْجَنَّةَ بِشَفَاعَةِ الْقُرْآنِ
“Ya Allah, sinari hati kami dengan membaca Al-Qur’an, hiasi akhlak kami dengan kemuliaan Al-Qur’an, perbaiki amal kami dengan dzikir Al-Qur’an, selamatkan kami dari api neraka dengan kemuliaan Al-Qur’an, dan masukkan kami ke surga dengan syafaat Al-Qur’an.”
4. I’tikaf dan Shalat Malam
Malam Nuzulul Qur’an juga sangat baik diisi dengan i’tikaf di masjid, memperbanyak shalat malam, dan berdzikir. Ini adalah malam yang penuh keberkahan .
Refleksi: Dari Peringatan ke Pengamalan
Nuzulul Qur’an bukan sekadar peristiwa sejarah yang diperingati setiap tahun. Ia adalah momentum untuk bertanya pada diri sendiri: sejauh mana Al-Qur’an telah menjadi pedoman hidupku?
Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa Allah memuji bulan Ramadhan di atas bulan-bulan lainnya karena di dalamnya diturunkan Al-Qur’an. Ini menunjukkan betapa agungnya kitab suci ini. Maka, sudah selayaknya kita memuliakannya dengan membacanya, memahaminya, dan mengamalkannya .
Imam Nawawi dalam Riyadhush Shalihin mengutip hadits bahwa Rasulullah SAW adalah orang yang paling dermawan, dan kedermawanannya meningkat di bulan Ramadhan ketika Jibril datang mengajarinya Al-Qur’an. Ini mengajarkan bahwa interaksi dengan Al-Qur’an harus meningkatkan kedermawanan, kepedulian, dan akhlak mulia .
Ibnu Rajab Al-Hanbali dalam Latha’if Al-Ma’arif menegaskan bahwa amalan paling utama di bulan Ramadhan setelah puasa adalah tadarus Al-Qur’an. Karena itulah yang dilakukan Rasulullah bersama Jibril setiap malam di bulan suci .
Yayan Sopyan menutup tulisannya dengan pesan yang menggugah:
“Jika iqra’ benar-benar kita hayati, maka kita tidak boleh berhenti pada membaca teks. Kita harus membaca penderitaan, membaca ketimpangan, dan membaca kerakusan yang merusak lingkungan serta kehidupan. Dari pembacaan itulah lahir tindakan: solidaritas yang berkelanjutan, kontrol sosial terhadap kekuasaan, dan keberanian menuntut tanggung jawab” .
Pamungks: Menghidupkan Kembali Al-Qur’an dalam Diri
Di malam Nuzulul Qur’an ini, mari kita hidupkan kembali Al-Qur’an dalam diri kita. Bukan hanya dengan membacanya, tetapi dengan menjadikannya cahaya yang menerangi jalan hidup.
Allahumma nawwir qulubana bi tilaawatil Qur’an, wa zayyin akhlaqana bi jaahil Qur’an, wa hassin a’maalana bi dzikril Qur’an, wa najjina minan naari bi karoomatil Qur’an, wa adkhilnal jannata bi syafaa’atil Qur’an.
Wallahu a’lam bish-shawab.
Tulisan diambil dari beberapa referensi





