
Oleh Popi Sri Mulyani
Tak terasa, ribuan langkah telah dilalui…
Jejak demi jejak tertinggal di halaman-halaman waktu,
lelah yang tak terucap, peluh yang tak terlihat,
air mata yang kerap jatuh diam-diam di balik senyum tabah.
Ratusan hari telah berlalu,
di antara tugas rumah, anak yang menangis, dapur yang berasap,
ada kami—para emak-emak pejuang skripsi—
yang tak pernah menyerah meski nyaris rebah.
Kini, tinggal hitungan hari…
Detik demi detik seakan menekan dada.
Selangkah lagi menuju babak akhir,
tapi justru langkah itulah yang terasa paling berat,
langkah yang penuh ketakutan,
langkah yang mengguncang jiwa dan menguras segalanya.
Namun, kami tak sendiri…
Ada ibu dan bapak dosen,
yang sabar memapah langkah kami yang tertatih,
yang menghapus ragu dengan pelita bimbingan,
yang memeluk semangat kami dengan tutur penuh kasih.
Bersama mereka, kami belajar menulis walau dengan sebelas jari,
menyusun kata demi kata yang tak kunjung rampung,
namun mereka tak lelah mengulang arahan,
menguatkan hati kami yang hampir karam.
Kini ruang kelas akan segera hening,
silaturrahmi yang akrab mungkin akan berakhir di kalender akademik,
tapi tidak untuk hati kami…
karena bimbingan itu abadi,
tersimpan di relung kenangan yang tak lekang dimakan waktu.
Kampung Batu menjadi saksi…
Langit terbuka pun tahu betapa para dosen telah menjelma menjadi cahaya,
menuntun kami menuju sidang skripsi,
menuju gerbang kebanggaan yang kami impikan sekian lama.
Semoga momen ini menjadi kenangan terindah,
bukan hanya di album kelulusan,
tapi di museum jiwa kami yang paling dalam.
Wahai para pejuang ilmu…
jangan takut pada selangkah terakhir itu,
karena Tuhan tak pernah membiarkan air mata perjuanganmu sia-sia.
Teruslah melangkah…
walau pelan, walau gemetar…
karena selangkah lagi,
kemenangan sedang menantimu dengan senyum paling hangat.
“Terimakasih para dosen tercinta, teriring doa jazakumulla Khairan katsiran”






