
Oleh Siti Paridah
Apa yang biasanya kita bawa pulang setelah berkunjung ke masjid? Pahala sholat, ketenangan hati, atau… ilmu?
Sekilas, pertanyaan ini terdengar sederhana. Namun, jika kita renungkan lebih dalam, pertanyaan ini akan menyadarkan kita bahwa masjid seharusnya bukan hanya tempat sujud, tetapi juga pusat belajar dan menimba ilmu. Masjid adalah rumah ibadah yang memurnikan hati, tempat bersujud yang meneguhkan iman, dan juga pusat pembelajaran yang menyalakan semangat hidup. Sayangnya, saat ini masjid sering hanya dimaknai sebagai tempat menunaikan sholat wajib, sholat sunnah, atau menghadiri pengajian mingguan. Di luar itu, jarang ada yang menganggap masjid sebagai ruang literasi dan belajar.
Namun di Bandung, ada masjid yang menghadirkan wajah berbeda. Pusdai (Pusat Dakwah Islam) Jawa Barat berdiri megah di kawasan strategis, bukan hanya sebagai tempat ibadah, melainkan juga pusat dakwah, pendidikan, sosial, dan kebudayaan Islam. Salah satu fasilitas yang membanggakan adalah perpustakaan dan Kolecer (Kotak Literasi Cerdas) yang terbuka untuk semua jamaah dan masyarakat tanpa sekat dan tanpa biaya.
Di sini, setiap pengunjung tak hanya pulang dengan membawa pahala sholat, tetapi juga membawa ilmu sebagai bekal dalam kehidupannya.
Masjid dan Ilmu: Konsep yang Terlupa
Dalam sejarah Islam, masjid bukan hanya tempat sholat. Masjid adalah jantung kehidupan umat. Di zaman Rasulullah SAW, Masjid Nabawi di Madinah tidak hanya digunakan untuk sholat berjamaah dan majelis dzikir, tetapi juga menjadi pusat pemerintahan, tempat musyawarah, pendidikan, pembinaan umat, hingga layanan sosial dan kesehatan.
Dalam salah satu kajian ResearchGate (2019) tentang eksistensi masjid di era Rasulullah disebutkan, fungsi masjid meliputi empat hal: tempat ibadah, pusat pendidikan dan dakwah, pusat kegiatan sosial kemasyarakatan, serta pusat pembinaan ekonomi umat. Di Masjid Nabawi terdapat shuffah, yakni ruang khusus bagi para sahabat yang belajar siang dan malam. Di sana Rasulullah SAW mengajarkan Al-Qur’an, hukum syariat, hingga strategi kepemimpinan dan diplomasi.
Namun kini, banyak masjid hanya menjadi bangunan indah dengan menara menjulang, tetapi sepi aktivitas selain sholat fardhu dan beberapa pengajian. Padahal, menghidupkan kembali fungsi ilmu di masjid adalah salah satu teladan Rasulullah. Beliau bersabda:
“Barangsiapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim).
Menuntut ilmu adalah ibadah yang memuliakan manusia dan meninggikan derajatnya. Menghidupkan literasi di masjid berarti membangkitkan kembali peradaban Islam yang pernah jaya.
Perpustakaan Pusdai: Ilmu dalam Genggaman Jamaah
Saat memasuki kawasan Pusdai, suasana religius berpadu dengan suasana yang teduh dan ramah. Namun, ada satu fasilitas yang tidak semua pengunjung tahu, yaitu Perpustakaan Pusdai.
Menurut Pak Bagus, pustakawan Pusdai, perpustakaan ini diresmikan pada 2 Desember 1997, bersamaan dengan berdirinya Pusdai oleh Gubernur Jawa Barat saat itu, Bapak M. Nuriyana. Sejak awal, perpustakaan ini dibangun bukan hanya untuk melengkapi bangunan masjid, melainkan sebagai sarana literasi dan pusat informasi. Pada tahun 2018, perpustakaan ini direnovasi oleh Walikota Bandung, Ridwan Kamil, agar lebih nyaman bagi pengunjung.
“Perpustakaan ini dibangun sebagai fasilitas untuk jamaah, supaya Pusdai bukan hanya masjid, tetapi juga menjadi pusat informasi, sumber belajar khususnya dalam bidang keislaman dan dakwah,” ujar Pak Bagus.
Koleksi Buku yang Beragam
Perpustakaan Pusdai memiliki ribuan koleksi buku, antara lain:
- Kitab klasik: fiqih, tafsir, hadits, aqidah
- Buku agama populer: motivasi, akhlak, sejarah Nabi
- Buku umum: sosiologi, psikologi, pendidikan
- Novel dan sastra Islam
- Majalah serta buku anak-anak
Buku yang paling sering dipinjam adalah kitab fiqih, buku agama populer, serta novel remaja Islami. “Sekarang banyak juga mahasiswa dan pelajar yang mencari novel untuk tugas literasi mereka,” tambah Pak Bagus.
Pengunjung yang Beragam
Perpustakaan ini ramai dikunjungi oleh:
- Jamaah dewasa dan orang tua yang ingin menambah ilmu
- Mahasiswa UIN, UPI, dan kampus lain di Bandung
- Pelajar yang mengerjakan tugas sekolah
- Masyarakat umum yang kebetulan berkunjung ke Pusdai
Prosedur Peminjaman yang Mudah
Untuk meminjam buku, pengunjung harus memiliki kartu anggota perpustakaan. Satu anggota boleh meminjam maksimal tiga buku selama 10 hari dan dapat diperpanjang dua kali. Jika buku rusak atau hilang, pengunjung wajib menggantinya dengan buku sejenis atau membayar sesuai harga buku.
Peran Pustakawan
Pustakawan tidak hanya bertugas mencatat peminjaman buku. Mereka juga menata koleksi, merawat buku, melayani pengunjung dengan ramah, serta mempromosikan literasi melalui media sosial. “Dulu media sosial perpustakaan sempat tidak aktif. Sekarang kami aktif lagi di Instagram untuk promosi,” kata Pak Bagus.
Kolecer: Membawa Buku Lebih Dekat ke Jamaah
Selain perpustakaan, Pusdai juga menghadirkan Kolecer (Kotak Literasi Cerdas) sejak tahun 2021. Kolecer adalah program literasi hasil kerja sama dengan Dispusipda Jawa Barat. Kolecer berbentuk rak buku yang ditempatkan di selasar masjid dan berisi buku agama, buku umum, serta majalah yang diupdate secara berkala.
Konsep Kolecer sederhana:
- Buku di Kolecer hanya boleh dibaca di tempat, tidak untuk dipinjam
- Koleksi diperbarui secara rutin
- Dikelola oleh pustakawan Pusdai dan Dispusipda
“Kolecer itu memudahkan jamaah yang ingin membaca tanpa harus masuk ke perpustakaan. Tinggal ambil, baca, lalu kembalikan,” jelas Pak Bagus.
Respon Jamaah
Respon jamaah sangat baik. Banyak yang membaca di Kolecer sambil menunggu waktu sholat atau kajian. Namun ada juga tantangan. “Sekarang saja ada sekitar 5–10 buku yang hilang. Kadang sebulan atau dua bulan kemudian ada yang kembalikan,” ujarnya sambil tersenyum.
Tantangan Pengelolaan
Selain buku yang hilang, tantangan lain yang dihadapi pengelola Kolecer adalah:
- Buku rusak atau sobek karena kurangnya kesadaran pengguna
- Jamaah yang belum memahami aturan Kolecer
- Rendahnya kesadaran literasi sebagian masyarakat
Untuk mengatasi hal ini, pengelola memasang poster aturan penggunaan Kolecer dan melakukan pengecekan rutin. Meski demikian, pustakawan tetap mengedepankan pendekatan edukasi dan humanis.
Tantangan dan Realitas
Menghidupkan literasi di masjid memang bukan perkara mudah. Di satu sisi, kita ingin meneladani Rasulullah yang menjadikan masjid sebagai pusat ilmu. Namun di sisi lain, masih banyak masyarakat yang belum menyadari pentingnya membaca.
Menurut sebuah kajian jurnal Tabligh UIN Alauddin (2017), budaya membaca masyarakat Indonesia masih tergolong rendah dibanding negara lain. Maka menghadirkan perpustakaan dan Kolecer di masjid adalah langkah berani yang patut diapresiasi.
Pak Bagus menambahkan, “Harapannya, perpustakaan Pusdai semakin dikenal masyarakat. Koleksinya juga terus berkembang mengikuti zaman. Dan semoga semakin banyak pengunjung yang sadar pentingnya membaca.”
Pak Bagus juga menambahkan kalimat motivasi “Kuasailah semua buku tapi jangan biarkan buku menguasaimu, membacalah untuk hidup bukan hidup untuk membaca”.
Melihat Pusdai, kita belajar bahwa masjid bukan hanya rumah ibadah, tetapi juga rumah ilmu dan peradaban. Perpustakaan dan Kolecer di Pusdai telah membuktikan bahwa ketika masjid menghidupkan ilmu, jamaah pulang tak hanya membawa pahala, tetapi juga ilmu yang akan menuntun hidup mereka menuju ridha Allah.
Sudah saatnya masjid-masjid lain meniru langkah Pusdai. Mari jadikan masjid bukan hanya tempat sujud, tetapi juga tempat menuntut ilmu dan menumbuhkan akhlak generasi. Mari ramaikan perpustakaan masjid. Singgah di Kolecer. Membaca sejenak sambil menunggu azan. Menyerap ilmu sebelum kembali pada kesibukan dunia.
Penutup
“Barangsiapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim).
Datang ke Pusdai, pulang tak hanya membawa pahala, tetapi juga ilmu untuk hidup yang lebih bermakna.






