
Oleh Nurdin Qusyaeri
Idul Fitri telah dekat. Kita akan kembali ke fitrah—kata yang sering diucapkan, tapi seberapa dalam kita memahaminya? Di tengah hiruk-pikuk modernitas yang semakin canggih sekaligus mencekik, pertanyaan tentang fitrah menjadi mendesak.
Erich Fromm menyebut bahwa karakter umum masyarakat masa kini ialah alienasi—keterasingan. Manusia modern terasing dari negara, dari sesama, bahkan dari Tuhannya. Mereka kehilangan identitas, lupa bahwa di samping menjadi manusia, mereka juga hamba yang harus patuh pada-Nya.
Yuval Noah Harari meramalkan lahirnya “Homo Deus”—manusia yang menjadi dewa bagi ciptaannya sendiri. Dengan algoritma dan bioteknologi, manusia ingin mengedit gen, menciptakan AI, bahkan menggantikan fungsi penciptaan.
Ini adalah reinkarnasi Firaunisme modern: kesombongan intelektual yang mengulangi dosa kuno.
Fitrah: Cetak Biru Ilahiah
Firman Allah SWT dalam QS Ar-Rum:30:
“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.”
Ayat ini adalah fondasi pemahaman fitrah. Imam At-Thabari menjelaskan bahwa fitrah adalah potensi menerima tauhid. Quraish Shihab menambahkan: fitrah adalah sistem yang Allah anugerahkan, yang membuat manusia berpotensi mencapai kebenaran.
Frasa la tabdila likhalqillah (tak ada perubahan pada ciptaan Allah) menegaskan bahwa fitrah bersifat given, tak bisa digantikan oleh reka-reka manusia—termasuk teknologi dan ideologi sekuler.
Tiga Dimensi Fitrah
Pertama, tauhid (spiritual). Manusia memiliki kesadaran akan Pencipta. Sayyed Hossein Nasr menegaskan: krisis modern adalah krisis spiritual karena manusia memutus hubungan vertikal.
Kedua, amanah (moral). QS Al-Ahzab:72 menyebut bahwa langit, bumi, dan gunung enggan memikul amanah, tapi manusia menerimanya. Ini tanggung jawab etis terhadap alam dan sesama.
Ketiga, ‘imran (sosial-ekologis). Manusia membangun peradaban yang memakmurkan, bukan merusak. Berbeda dengan Homo Deus yang ingin mendominasi alam, Homo Fitrah ingin bersahabat dengan alam.
Melawan Modernitas dengan Fitrah
Modernitas tak harus dimusuhi. Islam tidak anti-ilmu. Tapi sains harus tunduk pada adab dan tauhid. Bioengineering untuk menyembuhkan boleh, tapi untuk mengubah hakikat manusia? Tidak. AI untuk membantu boleh, tapi menggantikan keputusan moral? Jangan.
Ketika akal tanpa iman, ia menciptakan robot pembunuh dan monopoli data. Tapi ketika akal dituntun iman, ia menciptakan rahmat—seperti saat Ibnu Sina dan Al-Khawarizmi meneliti alam sebagai tanda kebesaran Allah.
Kembali ke fitrah adalah perlawanan terhadap reduksi makna manusia menjadi sekadar fungsi ekonomi. Perlawanan terhadap klaim bahwa teknologi bisa menggantikan moralitas wahyu. Perlawanan terhadap upaya deifikasi manusia.
Refleksi
Di tengah gemuruh teknologi, jangan serahkan akal dan hatimu pada mesin. Kembalilah pada fitrah—suara jernih yang sejak awal Allah tanamkan. Karena hanya dengan fitrah, kau bisa menjadi manusia utuh: beradab, bermakna, dan bahagia.
Wallahu a’lam bish-shawab.






