Puasa dan Seni: Puisi Lapar sebagai Dakwah Estetik

Puasa dan Seni: Puisi Lapar sebagai Dakwah Estetik
Ilustrasi: Anisa Twitter

 

Oleh Nurdin Qusyaeri

Hari-hari terakhir Ramadhan. Perut kosong, tapi mata hati mulai terbuka. Di keheningan menahan lapar, tiba-tiba kita ingin menulis, ingin melukis, ingin bersenandung. Ada sesuatu yang aneh: justru ketika fisik melemah, jiwa malah bergelora.

Inilah misteri puasa yang jarang disadari. Lapar tidak hanya membersihkan tubuh, tetapi juga mempertajam kepekaan. Dan dari kepekaan itulah lahir seni.

Abdul Wachid B.S. , penyair dan akademisi, dalam tulisannya di Borobudur Writers Festival menjelaskan bahwa puasa, puisi, dan suluk (perjalanan batin) adalah satu kesatuan pengalaman spiritual.

Puasa sebagai laku penahanan diri yang membersihkan ruang kesadaran, puisi sebagai bahasa yang menyalurkan pengalaman halus tanpa mengurangi kedalamannya, dan suluk sebagai perjalanan batin yang menghubungkan keduanya menuju perjumpaan Ilahi .

Rasulullah SAW bersabda:

إِنَّ اللَّهَ جَمِيلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ

“Sesungguhnya Allah itu indah dan mencintai keindahan.” (HR. Muslim)

Hadis ini menjadi fondasi bahwa Islam tidak memusuhi seni. Sebaliknya, keindahan adalah jalan menuju Tuhan. Seni yang lahir dari keheningan puasa adalah seni yang paling murni, karena ia lahir dari pengosongan diri—bukan dari keakuan yang ingin dipuji .

Puisi sebagai Bahasa Ruh

Para sufi sejak dulu memahami bahwa pengalaman spiritual tidak bisa diungkapkan dengan bahasa sehari-hari. Ia terlalu dalam, terlalu halus, terlalu personal. Maka mereka memilih puisi.

Imam Junaid Al-Baghdadi berkata:

عِبَارَتُنَا نَحْنُ الصُّوفِيَّةِ رُمُوزٌ وَإِشَارَاتٌ

“Ucapan kami (para sufi) adalah simbol dan isyarat.”

Maulana Jalaluddin Rumi, penyair sufi terbesar dalam sejarah Islam, menjadikan puisi sebagai sarana utama menyampaikan ajaran tasawuf.

Karyanya Al-Matsnawi al-Maknawi terdiri dari enam jilid yang memuat 26.000 bait syair mistik dan 424 kisah . Dalam salah satu syairnya, Rumi berkata:

“Tahanlah bibirmu dari makan dan minum, bergegaslah menyambut hidangan langit.”

Bagi Rumi, ketika mulut lahiriah tertutup dari makanan, mulut batiniah akan terbuka untuk menerima jamuan rahasia. Esensi puasa adalah mencapai kasyf—tersingkapnya hijab yang menutupi penglihatan batin manusia.

Dengan berpuasa, mata batin dan kepekaan kita akan lebih terasah sehingga hikmah-hikmah tentang kehidupan akan lebih mudah kita peroleh .

Di syair yang lain, Rumi berkata:

“Ketika kau kosongkan perutmu dari makanan, maka ia akan dipenuhi oleh perhiasan berharga.”

Di Nusantara, tradisi ini dilanjutkan oleh Syekh Hamzah Fansuri, penyair-sufi dari Aceh. Dalam kitab Asrar al-‘Arifin, ia menulis:

“Jangan bermaqam di ubun-ubun atau di pucuk hidung atau di antara kening atau di dalam jantung sekalian itu hijab kepada Dzat-Nya.”

“Hapuskan akal dan rasamu lenyapkan badan dan nyawamu pejamkan hendak kedua matamu sana kau lihat permai rupamu.”

Menurut Hamzah Fansuri, upaya mendekatkan diri kepada Tuhan dapat dicapai dengan melawan hawa nafsu. “Hapuskan akal dan rasamu” merujuk pada pikiran buruk dan nafsu yang berkaitan dengan rasa (makan, minum, seks).

Sebab hal-hal tersebut adalah penghalang untuk lebih dekat kepada Allah. Dengan menjauhinya, kita akan menjadi manusia yang lebih baik, lebih elok, baik di mata Allah maupun di mata sesama .

Tiga Tingkatan Puasa dalam Perspektif Sufistik

Para ulama sufi membagi puasa ke dalam tiga tingkatan yang berkaitan dengan kesadaran estetik dan spiritual.

Imam Al-Qusyairi dalam Lathaif al-Isyarat menjelaskan:

الصوم على ضربين: صوم ظاهر وهو الإمساك عن المفطرات مصحوباً بالنية، وصوم باطن وهو صَوْنُ القلب عن الآفات، ثم صون الروح عن المساكنات، ثم صون السِّرِّ عن الملاحظات

“Puasa itu terbagi menjadi dua: puasa zahir dan puasa batin. Puasa zahir ialah menahan diri dari segala hal yang membatalkan puasa dengan disertai niat.

Adapun puasa batin adalah menjaga hati dari penyakit hati, menjaga jiwa dari rasa miskin, dan menjaga rahasia dari hingar-bingar keramaian.”

Ibnu ‘Ajibah, Imam Al-Ghazali, dan KH. Sholeh Darat sepakat membagi puasa dalam tiga tingkatan:

Pertama, puasanya orang awam (shaum al-‘awamm): menahan lapar, haus, dan syahwat dari fajar hingga maghrib. Ini adalah puasa minimal, namun jika hanya sampai di sini, yang didapat hanya lapar dan dahaga.

Baca Juga:  Ramadhan, Dakwah, dan Semangat Kebangkitan Umat di Persis Ramadhan Expo

Kedua, puasanya orang khusus (shaum al-khawash): menahan seluruh anggota tubuh dari dosa. Mata berpuasa dari melihat yang haram, telinga dari mendengar ghibah, lisan dari berkata kotor. Ini adalah puasa yang mulai menyentuh ranah estetika—keindahan akhlak.

Ketiga, puasanya orang khususnya khusus (shaum khawash al-khawash): puasa hati dari segala keinginan rendah dan pemikiran duniawi. Pada tingkatan inilah lahir seni sejati, karena hati telah kosong dari ego dan siap diilhami keindahan Ilahi .

Syekh Abdul Qadir Al-Jailani dalam tafsirnya mendefinisikan puasa transendental sebagai menolak segala hal yang berlainan dengan kebenaran, yang hanya bisa dicapai oleh orang yang berakal, yakin, dan mengalami mukasyafah (tersingkapnya tabir) terhadap segala sesuatu yang gaib .

Puisi Lapar: Antara Derita dan Kerinduan

Dalam khazanah sastra Indonesia, ada genre yang bisa disebut “puisi lapar”—puisi-puisi yang lahir dari pengalaman menahan diri, dari pergulatan batin antara kebutuhan jasmani dan kerinduan ruhani.

Abdul Wachid B.S. dalam puisinya “Seorang Lelaki yang Tujuh Tahun Bersimpuh” menulis:

“pohon yang seperti khuldi itu, mengapa di tiap detak puasa dia justru menegak sedangkan matahari maghrib masih jauh…”

Citra pohon ini menggeser fokus dari tubuh menuju kesadaran. Puasa tidak lagi soal menunggu maghrib, melainkan tegaknya sesuatu dalam diri, yang hidup ketika keinginan ditahan sampai ke akar.

Puisi tidak memberi jawaban, tetapi menyalakan pertanyaan: mengapa penahanan justru membangkitkan kehidupan, dan mengapa kekeringan bisa menjadi ruang kebangkitan? .

Dalam puisi “Lapar, Dahaga, Bianglala”, Abdul Wachid menggambarkan kegagalan spiritual yang justru menjadi pintu kesadaran:

“Selain derita dan nestapa

Apa yang kuperoleh dari masokisme ini

Apa yang kuraih selain perih ini?”

“Aku tarawih tak berasa tarawih

Aku tadarus tak menggerus rakus yang lebih

Aku jamaah subuh tak ngurangi maksiat kambuh

Aku dengan keakuan yang tak sembuh-sembuh.”

Dari kegagalan itulah kemudian terdengar suara ibu yang menjelaskan rahasia lapar:

“Anakku, dalam lapar dan dahaga yang sempurna. Kelak engkau akan mampu terbang ke sana. Meniti tangga-tangga bianglala…”

Lapar pun berubah: dari rasa sakit menuju kemungkinan terbang, dari tubuh menuju asal.

Aspar Paturusi dalam puisinya “Puasa” menulis:

“bila hanya menahan lapar dan haus kutahu, apalah arti puasa bagimu lapar dan haus kau geluti setiap hari.”

“tentu aku amat senang, Tuhan jika semua bulan kami berpuasa.”

Doa ini bukan asketisme, melainkan kerinduan akan keadilan Ilahi: kesadaran bahwa lapar bisa menjadi jalan kedekatan, bukan sekadar kekurangan.

Lapar sebagai Cahaya Pengetahuan

Para sufi memiliki pandangan yang sangat tinggi tentang lapar. Mereka tidak melihat lapar sebagai penderitaan, melainkan sebagai sumber ilmu dan hikmah.

Sahal Al-Tustari, seorang sufi besar, berkata:

لَمَّا خَلَقَ اللَّهُ الدُّنْيَا جَعَلَ الشِّبَعَ لِلْمَعَاصِي وَالْجَهْلِ، وَجَعَلَ الْجُوعَ لِلْعِلْمِ وَالْحِكْمَةِ

“Ketika Allah menciptakan dunia, Dia menjadikan kenyang untuk kemaksiatan dan kebodohan, dan menjadikan lapar untuk ilmu pengetahuan dan kebijaksanaan.”

Dalam ucapan lainnya, Sahal Al-Tustari berkata:

إِذَا جُعْتُ قَوِيتُ، وَإِذَا أَكَلْتُ ضَعُفْتُ

“Jika aku lapar akan menjadi kuat dan jika ia makan ia menjadi lemah.”

Syekh Muzhaffar berkata:

الْجُوعُ إِذَا قُرِنَ بِالْقَنَاعَةِ كَانَ مَزْرَعَةَ الْفِكْرِ وَمَعْدِنَ الْحِكْمَةِ وَمِصْبَاحَ الْقَلْبِ

“Lapar jika dibarengi dengan qana’ah, akan menjadi ladang pemikiran, sumber hikmah, dan pelita hati.”

Yahya bin Mu’adz berkata:

الْجُوعُ نُورٌ وَالشِّبَعُ نَارٌ وَالشَّهْوَةُ حَطَبٌ

“Lapar itu cahaya, kenyang itu api, dan syahwat itu kayu bakar.”

Pandangan-pandangan ini menjelaskan mengapa para penyair sufi begitu produktif. Lapar yang mereka jalani bukan penghalang kreativitas, justru katalisatornya. Ketika perut kosong, hati menjadi terang. Ketika nafsu diredam, imajinasi melambung.

Puasa dalam Kesederhanaan Puitik

KH. A. Mustofa Bisri (Gus Mus) , ulama sekaligus penyair terkemuka Indonesia, dalam puisinya “Nasihat Ramadhan” menulis:

“Ramadhan adalah bulan antara dirimu dan Tuhanmu. Darimu hanya untuk-Nya…”

Kesederhanaan suara ini menyimpan keluasan makna. Puasa ditempatkan bukan di ranah sosial atau penilaian manusia, tetapi di relasi rahasia antara hamba dan Tuhannya. Di sinilah makna puasa hanya bisa dipastikan oleh yang menjalaninya sendiri.

Baca Juga:  Puasa sebagai Protes Ilahi atas Peradaban Konsumerisme

Pengalaman estetis puisi bersentuhan dengan dimensi etis. Sastra menumbuhkan kepekaan batin: kemampuan melihat kedalaman kemanusiaan yang tidak bisa dicapai rasionalitas semata.

Puisi tentang puasa memperdalam kesalehan personal sekaligus memurnikan cara manusia memandang diri dan sesamanya .

Dakwah Estetik: Menyampaikan Kebenaran dengan Keindahan

Seni sebagai media dakwah bukanlah hal baru. Di Nusantara, Walisongo telah menggunakan wayang dan tembang untuk menyebarkan Islam. Seni menjadi jembatan antara ajaran agama dan budaya lokal .

Dalam konteks kekinian, Dr. Moh. Hafid Effendy dari UIN Madura menegaskan bahwa seni pertunjukan Islami, seperti musik religi, teater dakwah, tari sufistik, hingga drama pesantren, dapat menjadi media efektif untuk menyampaikan pesan-pesan keislaman dengan cara yang indah dan mudah diterima .

PWM DIY melalui laman resminya menjelaskan bahwa Islam hadir bukan untuk menghapus budaya lokal, tetapi untuk memperbaiki, menyaring, dan memuliakan budaya agar tidak bertentangan dengan syariat.

Prinsipnya adalah Al Muhafazhah ‘ala al-Qadim al-Shalih (memelihara tradisi lama yang baik) dan Al Akhdzu bil Jadid al-Ashlah (mengambil budaya baru yang lebih baik) .

Penelitian di Institut Kesenian Jakarta menunjukkan bahwa seni rupa digital—kaligrafi, mural, poster edukatif, desain grafis—telah menjadi sarana efektif dalam menyampaikan pesan moral, spiritual, dan sosial.

Seni rupa dapat menghubungkan nilai-nilai Islam dengan konteks budaya lokal, memperluas audiens, dan mendorong kreativitas yang sesuai dengan syariat .

Inilah yang disebut dakwah estetik: menyampaikan kebenaran dengan keindahan, bukan dengan kekerasan atau pemaksaan. Seperti kata pepatah Arab, “Mâ syaraha shadran illâ al-jamâl”—tidak ada yang membuka hati selain keindahan.

Puisi dan Anggur, Antara Dosa dan Taubat

Abu Nawas, penyair istana Harun Al-Rasyid, terkenal dengan puisi-puisi cinta dan anggurnya. Tapi di penghujung hidupnya, ia menulis puisi taubat yang sangat terkenal:

“Wahai Tuhanku, jika dosa-dosaku besar, aku tahu bahwa ampunan-Mu lebih besar.

Jika tak seorang pun datang kepada-Mu dengan kebaikan, maka aku datang kepada-Mu dengan ampunan.”

Abu Nawas mengajarkan bahwa puisi bisa menjadi jalan kembali kepada Tuhan. Bahkan dari kedalaman dosa, seni bisa menjadi tangga menuju taubat. Lapar yang ia rasakan bukan hanya lapar fisik, tapi lapar akan ampunan. Dan dari kelaparan itu, lahir syair yang tak lekang oleh waktu.

Konon, ketika ditanya mengapa ia banyak menulis puisi tentang anggur, Abu Nawas menjawab:

“Aku menulis tentang yang aku tahu. Tapi aku juga tahu bahwa ampunan Allah lebih luas dari segala dosa.”

Puisi-puisinya menjadi pengingat bahwa seni adalah cermin jiwa—kadang buram, kadang jernih, tapi selalu jujur.

Refleksi

Saudaraku, puasa bukan hanya tentang menahan. Ia juga tentang menuangkan. Ketika perut kosong, jiwa penuh. Ketika nafsu redam, kreativitas menyala.

Di bulan Ramadhan ini, jangan hanya sibuk dengan ritual formal. Sisakan ruang untuk berkarya. Tulislah puisi tentang pengalaman lapar mu. Lukislah keheningan sahur. Ciptakan musik yang mengiringi takbir. Karena seni yang lahir dari keheningan puasa adalah ibadah yang tak kalah nilainya.

Sahal Al-Tustari berkata: lapar adalah untuk ilmu dan hikmah. Maka, manfaatkan lapar ini untuk menghasilkan karya-karya yang menjadi sumber ilmu dan hikmah bagi orang lain. Jadikan puasa sebagai ladang kreativitas, bukan sekadar rutinitas tahunan.

Abdul Wachid B.S. menulis:

“Puisi hadir sebagai medium gerbang itu; tanpa suara, tanpa penjelasan normatif. Ia menghidupkan pengalaman batin, memberi ruang agar makna bernapas perlahan. Membaca puisi tentang puasa bukan membaca aturan, melainkan menyelami peristiwa batin yang sedang berlangsung; sunyi, pelan, namun diam-diam mengubah kesadaran manusia.”

Maka, selamat berpuasa. Selamat berkarya. Semoga dari lapar ini lahir puisi-puisi yang abadi.

Wallahu a’lam bish-shawab.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *