Puisi  

Cinta yang Seharusnya

Dok.pribadi

 

Oleh: Bramantyo S.

Cinta,
Harusnya kelapangan tanpa tepi,
Yang tak mengenal awal,
Dan tak punya akhir,
Bukan garis yang memisah di tengah,
Tapi lingkaran yang tak pernah putus,
Mengalir lembut,
Bukan keras dan kaku,
Namun juga bukan yang mudah mencair,
Tetap tegar, namun lentur dalam badai.

Cinta,
Harusnya perasaan-perasaan sederhana,
Yang menyulap belukar dalam tiap kepala,
Menjadi taman penuh bunga,
Di mana resah berubah menjadi rindu,
Dan keraguan menjadi keyakinan,
Di mana kita bisa berjalan tanpa beban,
Menghitung bintang-bintang yang kita ukir dalam senyuman,
Karena cinta tak butuh hiasan megah,
Hanya kebersamaan yang diam-diam mendewasakan.

Cinta,
Harusnya kita,
Bukan sekadar kamu dan aku,
Tapi dua jiwa yang menyatu dalam diam,
Dalam setiap langkah yang tak selalu searah,
Namun selalu saling mencari,
Mendekap dalam hening malam,
Menguatkan ketika dunia terasa jauh,
Menjadi rumah,
Ketika tak ada lagi tempat lain untuk pulang.

Cinta,
Harusnya kita,
Bukan pada janji-janji yang terikat kata,
Tapi pada tatapan yang berbicara lebih banyak dari bibir,
Pada diam yang saling memahami,
Pada jarak yang tak pernah memisahkan,
Karena cinta tak mengenal ruang,
Ia ada di antara setiap tarikan napas,
Mengisi kekosongan yang tak pernah bisa ditembus waktu.

Cinta,
Harusnya kita,
Dalam kebersamaan yang tak terucap,
Namun dirasakan dalam setiap detak,
Dalam pelukan tak kasat mata,
Yang menyelubungi jiwa-jiwa kita,
Meskipun kadang, kita lupa,
Bahwa cinta adalah kelapangan,
Yang menerima segala yang ada,
Dan merelakan apa yang hilang.

Harusnya cinta adalah kita,
Yang berjalan di tengah hujan,
Namun tetap saling menggenggam,
Tak perlu kata,
Hanya rasa.

 

Baca Juga:  Ketika Isi Kepala Menari di Tengah Sempitnya Waktu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *