Website Berita dan Opini
Indeks

Kau Tuntun Aku Merayu Tuhanku

Kau-tuntun -aku-merayu-tuhanku

Oleh Kala Senja

Di suatu senja yang seolah-olah memikul seluruh duka dunia, kita berdiri berdua— bukan sebagai dua insan yang ditakdirkan bersama, kecuali sebagai dua hati yang dipertemukan hanya untuk saling melukai pelan-pelan dengan cara paling indah.

Aku masih ingat, angin sore hari itu kecil, tak berani berhembus,

Sepertinya takut mengganggu doa yang tersembunyi di antara jarak kita yang sebenarnya terlalu dekat untuk disebut “teman”, namun terlalu jauh untuk disebut “takdir.”

Saat aku pamit hari itu, langit seakan membuka jendela rahasia,

Menggulung mendung yang syahdu, lalu menurunkanku tepat di belakang punggungmu—punggung seseorang yang tak pernah kusangka akan menjadi sumber getar terdalam dalam hidupku.

Ada rasa damai yang tak pernah bisa kuterjemahkan, seperti pulang ke rumah yang tak pernah kumiliki.

Aku berdiri sebagai makmum mu, meski hanya sebagai makmum sholatmu, Bukan makmum di hidup mu.

Damai sekali rasanya…

menjadi bayang-bayang di belakang punggungmu, mendengar lantunan ayat yang kau ucapkan dengan kikuk, yang justru membuatku semakin ingin tinggal.

Entah apa yang berkecamuk di kepalamu waktu itu, dan aku pun tak ingin menebak, cukup bagiku bahwa detik itu adalah kenangan yang mencatat dirimu di tempat paling lembut di dalam hatiku.

Lalu pada pertemuan terakhir, kau kembali mengimami.

Kali ini suaramu lebih mantap, lebih fasih, lebih menghujam.

Ayat-ayat itu menembus dadaku, mengoyak sesuatu yang selama ini kutahan.

Tangisku pecah.

Bukan lagi mengalir—tapi pecah.

Pecah seperti kaca yang dibanting ke lantai.

Pecah seperti dada yang disayat takdir.

Pecah seperti hati yang tahu bahwa orang yang paling ia harapkan bukanlah orang yang bisa ia genggam.

Baca Juga:  Ketika Rasa Menjadi Alasan

Aku menangis dalam sujud yang patah, dalam haru yang tak sempat kubenahi, dalam rindu yang tak tahu kepada siapa harus pulang.

Di titik paling rendah itu aku lancang merayu Tuhanku:

“Ya Allah… aku ingin imam seperti ini.”

Doa yang keluar dari hati yang tak mampu lagi berdiri tegak, hati yang ingin waktu berhenti di titik itu, pada saat itu, agar kita bisa abadi tanpa perlu takut dihakimi.

Itu doa yang tak pernah kurencanakan.

Doa yang lahir dari hati yang terlalu banyak menyimpan luka namun tetap  ingin di sembuhkan.

Tapi aku tahu, waktu tak pernah bisa kuminta untuk berhenti.

Kita hanya tamu di kehidupan masing-masing, datang sebentar,

Namun, meninggalkan jejak sepanjang usia.

Mungkin ini kesempatan terakhir kau menjadi imamku.

Mungkin ini kesempatan terakhir aku mendengar ayat-ayatmu yang membuat jantungku seperti hancur di pelukan Tuhan.

Yang tersisa hanyalah doa—doa yang menjadi saksi bahwa aku pernah mencintai seseorang dengan cara yang paling suci, meski aku tak pernah bisa memilikinya.

Dan kau…

yang tak pernah kumiliki, yang hanya singgah sesaat, namun sempat menuntunku untuk merayu Tuhanku dengan air mata paling jujur yang pernah kupunya, justru menjadi doa paling sunyi yang tak pernah selesai hingga hari ini.

Bandung, 19 Desember 2025

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *