
Jakarta, daras.id — Epidemiolog senior dan pengamat global health security, Kamaluddin Latief, Ph.D, mengingatkan bahwa ancaman hantavirus di Indonesia tidak boleh lagi dipandang sebelah mata. Menurutnya, Indonesia sebenarnya sudah lama memiliki jejak paparan hantavirus, baik pada tikus maupun manusia, tetapi perhatian terhadap penyakit ini masih sangat minim.
Di tengah modernisasi kota-kota besar, Kamaluddin menilai ancaman penyakit justru kerap muncul dari ruang-ruang yang diabaikan, seperti tumpukan sampah, selokan, dan permukiman padat yang menjadi habitat tikus.
“Hantavirus sering dianggap penyakit luar negeri. Padahal sejak 1980-an virus ini berulang kali ditemukan pada tikus dan manusia di berbagai kota Indonesia,” jelasnya.
Ia menyebut berbagai penelitian menunjukkan Indonesia bukan wilayah pinggiran dalam peta penyebaran hantavirus di Asia Tenggara. Bahkan, analisis terhadap lebih dari 11.000 mamalia kecil di kawasan Asia Tenggara memperkirakan sekitar satu dari enam hewan di Indonesia membawa hantavirus.
Menurut Kamaluddin, jejak paparan virus ini juga ditemukan pada manusia. Studi terhadap pasien demam akut di delapan rumah sakit besar menunjukkan sekitar satu dari sepuluh pasien memiliki antibodi hantavirus.
“Ini bukti paparan masa lalu yang luput dari statistik,” katanya.
Sering Disangka Dengue
Kamaluddin menjelaskan hantavirus dapat menyerang paru-paru maupun ginjal. Gejalanya meliputi demam, nyeri otot, mual, trombosit turun, sesak napas, hingga gangguan ginjal.
Masalahnya, gejala tersebut sangat mirip dengan dengue berat maupun leptospirosis sehingga banyak kasus diduga tidak terdeteksi.
“Di Indonesia, hampir semua infeksi hantavirus akut awalnya didiagnosis dengue,” jelasnya.
Baru setelah sampel diperiksa ulang di laboratorium penelitian, sebagian pasien diketahui terinfeksi Seoul virus. Temuan serupa, lanjut Kamaluddin, muncul di Jakarta, Maumere, hingga Makassar.
“Bukan virusnya yang jarang, tetapi sistem kita yang jarang menoleh,” ujarnya.
Tikus Jadi Alarm yang Diabaikan
Selain pada manusia, penelitian juga menunjukkan tingginya paparan hantavirus pada tikus di Indonesia. Sejak 1980-an, studi di pelabuhan dan kawasan permukiman menemukan sekitar 10–30 persen tikus membawa hantavirus.
Mayoritas merupakan Seoul virus pada tikus got dan tikus rumah, termasuk varian lokal yang dikenal sebagai Serang virus.
Bahkan, penelitian terbaru di pasar Bogor menunjukkan seekor tikus dapat membawa hantavirus sekaligus bakteri leptospirosis.
Meski demikian, ledakan populasi tikus di pasar, pelabuhan, dan kawasan padat penduduk masih sering dipandang hanya sebagai persoalan kebersihan lingkungan.
“Data tentang tikus jarang dibaca sebagai sinyal kesehatan,” kata Kamaluddin.
Jangan Tunggu Menjadi Krisis Baru
Belajar dari pandemi COVID-19, Kamaluddin menilai Indonesia tidak boleh kembali terlambat membaca ancaman penyakit zoonosis.
Ia mendorong pemerintah memperkuat sistem deteksi dini dengan menjadikan sejumlah rumah sakit besar sebagai pos pemantauan hantavirus, khususnya di wilayah dengan tingkat paparan tinggi seperti Jakarta, Semarang, Denpasar, Makassar, Maumere, dan Bogor.
Pasien demam dengan gangguan ginjal atau paru yang hasil pemeriksaan dengue dan leptospirosisnya negatif, menurutnya, perlu dipertimbangkan menjalani pemeriksaan hantavirus.
Selain itu, ia juga menekankan pentingnya integrasi data kesehatan, lingkungan, dan populasi tikus melalui pendekatan One Health.
“Membangun sistem yang tangguh bukan soal menebak virus baru apa yang akan muncul, tetapi soal kejujuran membaca data yang sudah ada dan menutup celah yang jelas di depan mata,” tegasnya.
Menurut Kamaluddin, Indonesia sebenarnya sudah memiliki data hantavirus selama lebih dari tiga dekade. Karena itu, persoalan utamanya bukan kekurangan data, melainkan kesiapan sistem dalam merespons ancaman tersebut sebelum berkembang menjadi krisis kesehatan baru. (San)






