Website Berita dan Opini
Indeks

Sumpah Pemuda: Jangan Hanya Mewarisi Sejarah, Tetapi Lanjutkan Perjuangannya!

Sumpah Pemuda: Jangan Hanya Mewarisi Sejarah, Tetapi Lanjutkan Perjuangannya
ilustrasi hasil screenshot

 

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا.

وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.

اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ.

 

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Marilah kita meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT dengan sebenar-benarnya takwa.

Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,

Dua hari yang lalu, tepatnya 28 Oktober, bangsa Indonesia memperingati Hari Sumpah Pemuda.

Sebuah peristiwa bersejarah ketika para pemuda dari berbagai latar belakang suku, daerah, dan organisasi berkumpul, kemudian mengikrarkan satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa: Indonesia.

Coba renungkan!

Tahun 1928, ketika Indonesia belum merdeka, ketika penjajahan masih mencengkeram negeri ini, para pemuda justru mampu berpikir melampaui kepentingan kelompok dan daerahnya.

Mereka tidak bertanya, “Saya berasal dari suku apa? Daerah mana? Kelompok siapa?”

Mereka justru menyatukan tekad untuk masa depan bersama.

Pertanyaannya sekarang: Setelah 98 tahun Sumpah Pemuda, apakah semangat persatuan itu masih hidup dalam diri kita?

Kita rajin memperingati Sumpah Pemuda, tetapi apakah kita sudah mewarisi semangat perjuangannya?

Jangan-jangan kita hanya mewarisi tanggalnya, tetapi kehilangan nilai-nilainya.

Kita berbicara tentang persatuan, tetapi mudah terpecah karena perbedaan pilihan. Kita berbicara tentang kebangsaan, tetapi masih sibuk dengan kepentingan kelompok. Kita berbicara tentang masa depan Indonesia, tetapi tidak serius mempersiapkan generasi mudanya.

Jangan sampai Sumpah Pemuda hanya menjadi upacara tahunan, sementara semangat persatuannya mati dalam kehidupan sehari-hari.

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Islam sesungguhnya telah memberikan teladan tentang bagaimana pemuda seharusnya bersikap.

Tentang Ashabul Kahfi:

نَحْنُ نَقُصُّ عَلَيْكَ نَبَأَهُمْ بِالْحَقِّ ۚ إِنَّهُمْ فِتْيَةٌ آمَنُوا بِرَبِّهِمْ وَزِدْنَاهُمْ هُدًى

“Sesungguhnya mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka, dan Kami tambahkan petunjuk kepada mereka.” (QS. Al-Kahfi: 13).

Perhatikan, Allah mengabadikan kisah mereka bukan karena kekayaan, jabatan, atau popularitasnya, tetapi karena keimanan dan keteguhan prinsipnya.

Mereka berani mempertahankan kebenaran sekalipun menghadapi tekanan.

Inilah pelajaran bagi generasi muda: pemuda hebat bukan mereka yang sekadar mengikuti arus, tetapi mereka yang memiliki prinsip, keberanian, dan tanggung jawab.

Rasulullah SAW juga menyebutkan salah satu golongan yang mendapat naungan Allah pada hari kiamat:

وَشَابٌّ نَشَأَ فِي عِبَادَةِ اللَّهِ

“Seorang pemuda yang tumbuh dalam ibadah kepada Allah.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Mengapa pemuda yang taat mendapat kedudukan istimewa? Karena masa muda adalah masa ketika energi besar, keinginan kuat, dan godaan begitu banyak.

Baca Juga:  Berlindung dari Penyakit Hati dan Fisik: Meneladani Doa Rasulullah Saw.

Maka, pemuda yang mampu menjaga iman di tengah derasnya godaan adalah pemuda yang luar biasa.

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Lalu, seperti apa pemuda yang dibutuhkan oleh umat dan bangsa hari ini?

Setidaknya ada empat karakter.

Pertama, pemuda yang beriman dan berilmu.

Firman Allah SWT:

وَقُلْ رَبِّ زِدْنِي عِلْمًا

“Ya Tuhanku, tambahkanlah ilmu kepadaku.” (QS. Thaha: 114).

Kita hidup pada zaman ketika informasi berlimpah, tetapi kedalaman berpikir belum tentu meningkat.

Orang bisa berbicara tentang agama tanpa mendalami agama. Berbicara tentang politik tanpa memahami politik. Bahkan berani menghakimi orang lain hanya berdasarkan potongan video.

Kita membutuhkan pemuda yang bukan hanya pandai berkomentar, tetapi juga mau belajar, membaca, berpikir kritis, dan menghasilkan gagasan.

Ingat: Suara yang keras tidak selalu menunjukkan pikiran yang cerdas.

Kedua, pemuda yang berakhlak dan menjaga persatuan.

Sumpah Pemuda mengajarkan bahwa perbedaan bukan alasan untuk bermusuhan.

Dalam Islam, Allah mengingatkan:

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا

“Berpegang teguhlah kamu semuanya kepada tali Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai.” (QS. Ali Imran: 103).

Hari ini, kita menyaksikan perbedaan sering berubah menjadi permusuhan. Berbeda pendapat sedikit, saling menghina. Berbeda pilihan, saling menjatuhkan. Media sosial yang seharusnya menjadi ruang silaturahmi justru kadang menjadi ruang kebencian.

Padahal, persatuan tidak berarti harus selalu sama. Persatuan berarti mampu hidup bersama, saling menghormati, dan bekerja untuk tujuan yang lebih besar.

Jangan menjadi generasi yang lebih sibuk mencari kesalahan sesama daripada mencari solusi bagi bangsa.

Ketiga, pemuda yang produktif dan berkarya.

Sabda Rasulullah SAW:

احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ، وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلَا تَعْجَزْ

“Bersemangatlah terhadap sesuatu yang bermanfaat bagimu, mintalah pertolongan kepada Allah, dan janganlah engkau lemah.” (HR. Muslim).

Jangan sampai usia muda habis untuk mengonsumsi karya orang lain, tetapi tidak pernah menghasilkan karya sendiri.

Setiap hari menonton, tetapi tidak belajar menciptakan sesuatu. Setiap hari mengomentari keberhasilan orang lain, tetapi tidak pernah berusaha membangun keberhasilan sendiri.

Bangsa ini tidak cukup hanya memiliki pemuda yang pandai berbicara tentang perubahan. Bangsa ini membutuhkan pemuda yang berani menghasilkan perubahan.

Keempat, pemuda yang memiliki visi dan keberanian memimpin.

Kepemimpinan tidak harus menunggu menjadi pejabat atau kepala daerah.

Ketika seorang pemuda mampu memimpin dirinya, menjaga amanah, membantu masyarakat, dan berani membela kebenaran, ia sedang menjalankan kepemimpinan.

Sejarah Islam mengenal Ali bin Abi Thalib dan Usamah bin Zaid yang sejak usia muda telah mengambil tanggung jawab besar.

Baca Juga:  Di Balik Kabut Duka Percayalah, Takdirmu Adalah Pelukan Terindah-Nya

Maka, jangan gunakan usia muda sebagai alasan untuk menghindari tanggung jawab.

Muda bukan alasan untuk diremehkan, tetapi juga bukan alasan untuk dimanjakan. Muda adalah kesempatan untuk ditempa.

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Ada satu hal lagi yang harus kita renungkan.

Ketika pemuda bermasalah, kita cepat menyalahkan mereka. Tetapi pernahkah kita bertanya, apakah orang tua telah memberikan pendidikan yang baik? Apakah lembaga pendidikan memberikan ruang kreativitas? Apakah masjid ramah terhadap generasi muda? Apakah para pemimpin memberikan kesempatan kepada mereka?

Jangan sampai kita menuntut pemuda menjadi pemimpin, tetapi ketika mereka diberi tanggung jawab, kita tidak percaya.

Jangan hanya meminta mereka kreatif, tetapi setiap gagasan barunya selalu dipatahkan.

Jangan hanya mewariskan nasihat kepada generasi muda. Wariskan juga kepercayaan, kesempatan, dan keteladanan.

Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,

Akhirnya, mari kita kembali kepada semangat Sumpah Pemuda.

Dahulu, para pemuda bersatu untuk merebut masa depan bangsa. Sekarang, tugas generasi muda adalah mengisi kemerdekaan dengan ilmu, iman, persatuan, akhlak, dan karya nyata.

Kepada para pemuda, jangan hanya bangga menjadi generasi penerus. Buktikan bahwa kalian layak menjadi generasi penentu.

Jangan menunggu tua untuk bertanggung jawab. Jangan menunggu kaya untuk berbagi. Jangan menunggu terkenal untuk berkarya.

Dan kepada para orang tua, guru, ulama, serta pemimpin, jangan padamkan cahaya generasi muda dengan ketidakpercayaan.

Sebab, masa depan bangsa tidak ditentukan oleh seberapa meriah kita memperingati Sumpah Pemuda, tetapi oleh seberapa serius kita menyiapkan generasi penerusnya.

Semoga Allah menjadikan generasi muda kita generasi yang beriman, berilmu, berakhlak, bersatu, dan bermanfaat bagi agama, bangsa, dan kemanusiaan.

بَارَكَ اللَّهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ.

أَقُولُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ الْعَظِيمَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِينَ، فَاسْتَغْفِرُوهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.

 

KHUTBAH KEDUA

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ.

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ.

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Mari kita jadikan semangat Sumpah Pemuda bukan sekadar kenangan sejarah, tetapi energi untuk membangun masa depan.

Mari kita siapkan generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga beriman. Tidak hanya sukses secara pribadi, tetapi juga bermanfaat bagi masyarakat. Tidak hanya mencintai kelompoknya, tetapi juga menjaga persatuan bangsa.

Wallahu’alam

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *