Website Berita dan Opini
Indeks

Jangan Jadikan Lukamu sebagai Tontonan

Jangan Jadikan Lukamu sebagai Tontonan
Dokumen Pribadi: Gunung Bromo saat subuh

 

Oleh Nurdin Qusyaeri 

Saat ini, kita hidup di zaman ketika luka sedikit, statusnya panjang. Tersinggung sedikit, sindirannya berlapis. Kecewa kepada seseorang, seluruh dunia diajak menjadi saksi.

Seolah-olah setiap luka harus diumumkan, setiap kekecewaan harus dipertontonkan, dan setiap perselisihan harus dimenangkan di hadapan penonton.

Padahal, tidak semua yang menyakitkan harus diceritakan, apalagi di umbar sana sini, tidak semua tuduhan harus dibalas, dan tidak semua kebenaran harus diperdebatkan.

Kadang, diam bukan tanda kalah. Ia adalah cara menjaga martabat agar tidak ikut kotor oleh pertengkaran yang tak berujung.

Berhentilah sibuk meluruskan penilaian manusia. Kita bisa menghabiskan seluruh usia untuk menjelaskan diri, tetapi tetap saja ada mulut yang tak pernah puas mencari cela.

Cukuplah Allah yang mengetahui apa yang tak sanggup kita ceritakan, memahami apa yang tak mampu kita jelaskan, dan melihat air mata yang kita sembunyikan di balik senyuman.

Ayo renungkan firman Allah SWT:

“Bersabarlah terhadap apa yang mereka katakan dan jauhilah mereka dengan cara yang baik.” (QS. Al-Muzzammil: 10)

Maka, jika terluka, mengadulah kepada Allah. Jika bersalah, perbaikilah. Jika dizalimi, perjuangkanlah kebenaran tanpa kehilangan akhlak.

Tak perlu setiap kesedihan menjadi status. Tak perlu setiap kesabaran diumumkan. Tak perlulah di setiap keikhlasan mencari tepuk tangan.

Sebab, agama bukan sekadar kata-kata indah yang kita unggah, melainkan akhlak yang tetap terjaga ketika hati sedang terluka.

Biarlah manusia sibuk menilai. Terpenting kita sibuk memperbaiki diri.

Biarlah mereka membicarakan apa yang mereka lihat. Allah mengetahui seluruh cerita yang tak pernah kita ungkapkan.

Jangan habiskan hidup untuk memenangkan penilaian manusia, lalu kehilangan ketenangan di hadapan Allah.

Karena, kita tidak akan ditanya berapa banyak orang yang membela kita, tetapi bagaimana kita mempertanggungjawabkan hidup kita di hadapan-Nya.

Baca Juga:  Luka yang Melahirkan Bahagia

Ingat tuan-puan, tak semua luka membutuhkan penonton. Sebagian hanya membutuhkan sajadah, air mata, dan keyakinan bahwa Allah tidak pernah salah memahami hamba-Nya.

Wallahu’alam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *