AL MIR’AH: Diam yang Islami Bisa Membawa ke Surganya

Ketika Diam Menjadi Bentuk Ibadah dalam Islam

Diam dalam Islam menjaga lisan menuju surga

Oleh Jerri Miftahudin Koesnurrijal 

Saat ini, banyak orang yang merasa harus selalu berbicara, menjelaskan diri, membalas semua ucapan, bahkan ikut serta dalam setiap kejadian.

Padahal dalam Islam, diam bukanlah selalu tanda kelemahan. Terkadang diam adalah bentuk kekuatan jiwa, kematangan hati, dan penjagaan diri dari dosa.

Makna Diam dalam Islam

Diam sering dianggap sebagai cara melindungi diri dari sesuatu yang menyakitkan.

Namun secara psikologis, diam merupakan bentuk komunikasi atau sikap yang menunjukkan perasaan tertentu, seperti kekecewaan, ketidakpuasan, ketidaksetujuan, kemarahan, atau keengganan untuk berbicara.

Dalam Islam, diam dianggap sebagai salah satu tahap awal ibadah dan merupakan bagian dari menjaga lisan.

Diam yang baik dapat menjadi perlindungan diri dari bahaya dan pembicaraan yang tidak perlu.

Diam dalam Islam bukan berarti pasif atau tidak peduli. Diam yang Islami adalah diam yang menjaga diri dari perkataan buruk, fitnah, ghibah, dan ucapan yang tidak bermanfaat.

Diam yang benar dapat menjadi:

  • Bentuk pengendalian diri
  • Cara menjaga hati dan hubungan
  • Bentuknya 
  • Jalan menuju ketenangan jiwa
  • Perlindungan dari dosa lisan

Karena tidak semua hal harus dibalas dengan kata-kata. Terkadang, diam adalah jawaban paling bijaksana.

Rasulullah SAW Mengajarkan Berkata Baik atau Diam

Rasulullah SAW bersabda:

“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata yang baik atau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadits ini menjadi pedoman besar dalam menjaga lisan. Islam mengajarkan bahwa setiap ucapan akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT.

Maka sebelum berbicara, seorang muslim dianjurkan bertanya pada dirinya sendiri:

  • Apakah ucapan ini benar?
  • Apakah ucapan ini baik?
  • Apakah ucapan ini bermanfaat?
  • Apakah ucapan ini menyakiti orang lain?

Jika tidak, maka diam adalah pilihan terbaik.

Baca Juga:  Di Ujung Perjalanan Hidup, Hanya Amal Yang Setia Menemani

Cara Diam Menurut Islam

Abu Ad-Darda’ ra berkata:

Belajarlah berdiam diri sama sebagaimana kamu belajar berbicara.”

“Berdiam diri adalah hikmah yang berharga. Hendaklah kamu lebih banyak mendengar daripada berbicara, dan janganlah kamu berbicara tentang sesuatu yang tidak penting bagimu. Janganlah kamu tertawa kecuali karena dia, dan janganlah kamu berjalan kecuali dengan tujuan.”

Nasihat ini mengajarkan bahwa diam tidak sekadar menutup mulut, tetapi juga melatih kebijaksanaan.

Beberapa adab diam dalam Islam antara lain:

1. Lebih banyak mendengar daripada berbicara

Orang yang bijak tidak terburu-buru dalam berkata-kata.

2. Tidak membicarakan hal yang tidak penting

Karena banyak dosa lahir dari ucapan yang dianggap sepele.

3. Menjaga sikap dan tujuan hidup

Tidak tertawa berlebihan dan tidak berjalan tanpa tujuan yang baik.

 

Cara Menjaga Lisan Menurut Islam

Menjaga lisan adalah bagian penting dari keimanan. Di antaranya:

Pertama: Menjaga Silaturahim

Ucapan yang baik dapat mempererat hubungan sesama manusia.

Kedua: Menghindari Fitnah dan Ghibah

Menghindari fitnah dan ghibah adalah bentuk lain dari menjaga lisan.

Ketiga: Menjaga Persatuan

Lisan yang baik akan menjaga ukhuwah Islamiyah.

Keempat: Menghindari Perkataan yang Meyakiti

Banyak hubungan yang rusak hanya karena ucapan yang tidak dijaga.

Allah SWT berfirman:

“Apabila membacakan Al-Qur’an, maka dengarkanlah dan diamlah agar kamu mendapat rahmat.” (QS. Al-A’raf : 204)

Ayat ini menunjukkan bahwa diam juga merupakan bentuk penghormatan terhadap Al-Qur’an.

Hikmah Diam dalam Kebenaran yang Syar’i

Diam yang benar adalah untuk menjaga lisan, diam bukan berarti membiarkan kebatilan.

Alasan diam untuk menutupi kebenaran dengan rahasia adalah dosa.

Diam juga bisa menjadi pilihan terbaik ketika tidak mampu mengatakan yang baik.

Perintah untuk diam ini dimaksudkan sebagai penghormatan dan pemuliaan terhadap Al Qur’an. Selain itu, diam juga merupakan salah satu contoh etika yang baik saat mendengarkan Al Qur’an.

Baca Juga:  Pasca Ramadhan: Tiga Keutamaan yang Menghidupkan Jiwa

Namun diam yang dianjurkan syariah adalah:

  • Diam untuk menjaga lisan
  • Diam ketika tidak mampu berkata baik
  • Diam agar tidak menyakiti orang lain
  • Diam untuk menjaga hati dari kesombongan
  • Diam agar terhindar dari dosa ucapan

Kadang-kadang seseorang tidak hancur karena perbuatannya, tetapi karena lisannya sendiri.

Diam yang Baik Bisa Membawa ke Surga

Hikmah besar dari menjaga lisan dan diam yang baik adalah:

1. Menjaga diri dari dosa

Karena banyak manusia yang kecewa akibat lisannya.

2. Menenangkan hati

Diam membuat seseorang lebih tenang dan tidak mudah terpancing emosi.

3. Mendatangkan rahmat Allah SWT

Orang yang menjaga lisannya akan lebih dekat dengan akhlak mulia.

4. Menjadi jalan menuju surga

Diam dalam kebaikan adalah bagian dari ibadah yang dicintai Allah SWT.

Tidak semua hal harus dijelaskan. Tidak semua luka harus diceritakan. Dan tidak semua ucapan harus dibalas.

Dalam Islam, diam yang menjaga lisan adalah kemuliaan. Karena lisan yang dijaga akan menyelamatkan hati, menjaga hubungan, dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Maka belajarlah berkata baik. Dan bila tidak mampu, belajarlah diam-diam dengan cara yang benar.

Karena bisa jadi… diam yang Islami adalah jalan yang membawa seseorang menuju surganya Allah SWT.

اَللَّهُمَّ ارْزُقْنِيْ مَا يَكْفِيْنِيْ وَصُنْ عَنِّيْ مَا يُطْغِيْنِيْ

Artinya:

“Ya Allah, berilah aku rezeki yang cukup dan baik, serta jauhkanlah aku dari rezeki yang dapat mencelakakan diriku.”

Aamiin Ya Rabbal ‘Alamin.

 

*Penulis: Pengisi artikel populer di koran PR, Galamedia, Tabloid Pelajar, Tabloid Islam Bandung dll. (PSM)✨ 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *