Merebut Hati Generasi Z: Pemikiran Dr. Tri Utomo Wiganarto tentang Masa Depan Kampus Islam

Merebut Hati Generasi Z: Pemikiran Dr. Tri Utomo Wiganarto tentang Masa Depan Kampus Islam
Dr. Tri Utomo Wiganarto, MH

 

Oleh Nurdin Qusyaeri

Dunia pendidikan tinggi sedang mengalami perubahan besar. Kampus tidak lagi cukup hanya mengandalkan nama besar, gedung megah, atau akreditasi semata. Hari ini, pertarungan sesungguhnya terjadi di ruang digital—di layar smartphone, media sosial, dan algoritma internet yang setiap hari dikonsumsi Generasi Z.

Pandangan inilah yang ditegaskan oleh Dr. Tri Utomo Wiganarto dalam Focus Group Discussion (FGD) bertajuk “Merebut Hati Generasi Z: Strategi Branding dan Digital Marketing Jitu untuk PMB Kampus Islam” yang digelar di Aula IAI PERSIS Bandung. Dalam paparannya, Dr. Tri Utomo menekankan bahwa kampus Islam harus segera mengubah cara berkomunikasi jika ingin tetap relevan di era digital.

Menurut Dr. Tri Utomo Wiganarto, Generasi Z merupakan generasi yang lahir dan tumbuh bersama internet. Mereka adalah digital natives yang hidup dalam budaya visual, cepat, dan sangat responsif terhadap konten autentik. Karena itu, pendekatan promosi kampus yang terlalu formal, kaku, dan birokratis dinilai sudah tidak efektif lagi.

Ia menjelaskan bahwa Generasi Z tidak menyukai komunikasi yang terasa seperti iklan. Mereka lebih tertarik pada cerita nyata, pengalaman personal, dan konten yang terasa manusiawi. Dalam pemikirannya, kampus harus berhenti hanya menjual slogan dan mulai menghadirkan pengalaman emosional yang bisa dirasakan calon mahasiswa.

Dr. Tri Utomo menyebut bahwa kampus hari ini tidak cukup hanya menjadi institusi pendidikan, tetapi harus menjadi sebuah “pengalaman”. Sebab bagi Generasi Z, memilih kampus bukan hanya soal tempat kuliah, melainkan memilih ruang untuk bertumbuh, membangun identitas, dan menemukan komunitas.

Dalam FGD tersebut, Dr. Tri Utomo memaparkan konsep Customer Experience Journey 5A sebagai strategi penting dalam merebut hati Generasi Z. Konsep ini menggambarkan perjalanan calon mahasiswa dari mulai mengenal kampus hingga akhirnya menjadi promotor kampus tersebut.

Baca Juga:  Mengapa Literasi Digital Anak Perlu Dimulai Sejak Dini

Menurut pemikiran Dr. Tri Utomo Wiganarto, tahapan pertama adalah Aware, yakni bagaimana calon mahasiswa pertama kali mengenal kampus melalui media sosial, influencer, teman, atau pencarian digital. Karena perhatian Generasi Z sangat singkat, maka kesan pertama harus mampu menarik perhatian hanya dalam hitungan detik.

Tahap berikutnya adalah Appeal. Dalam fase ini, Generasi Z mulai membandingkan kampus satu dengan lainnya. Di sinilah, kata Dr. Tri Utomo, kampus harus mampu menunjukkan diferensiasi yang kuat. Tidak cukup hanya menampilkan gedung atau fasilitas, tetapi perlu memperlihatkan kehidupan kampus yang nyata: suasana belajar, aktivitas mahasiswa, komunitas, hingga cerita sukses alumni.

Ia menegaskan bahwa media sosial kampus harus tampil lebih hidup dan relevan. Konten seperti day in my life, behind the scenes, podcast santai, hingga video pendek yang relatable dianggap jauh lebih efektif dibanding sekadar poster formal kegiatan.

Menurut Dr. Tri Utomo Wiganarto, salah satu kesalahan terbesar kampus hari ini adalah menjadikan media sosial hanya sebagai papan pengumuman digital. Padahal, media sosial adalah ruang membangun emosi dan kedekatan dengan calon mahasiswa.

Dalam fase Ask, Dr. Tri Utomo menjelaskan bahwa Generasi Z akan aktif mencari informasi detail sebelum mengambil keputusan. Mereka ingin respons cepat, transparan, dan personal. Karena itu, pelayanan PMB tidak bisa lagi berjalan lambat dan konvensional.

Ia bahkan menekankan pentingnya respons kurang dari dua jam terhadap pertanyaan calon mahasiswa. Sebab menurutnya, di era digital, keterlambatan respons bisa langsung membuat calon mahasiswa berpindah ke kampus lain.

Dr. Tri Utomo juga menyoroti pentingnya integrasi digital dalam sistem PMB kampus Islam. Ia menyebut bahwa penggunaan chatbot, WhatsApp Business, CRM, email automation, hingga live session interaktif bukan lagi pilihan tambahan, melainkan kebutuhan utama.

Baca Juga:  Perjalanan Menuju Ilmu, Menembus Jalanan dan Pengorbanan

Menariknya, dalam pemikiran Dr. Tri Utomo Wiganarto, kekuatan terbesar branding kampus sebenarnya bukan berasal dari iklan mahal, tetapi dari mahasiswa itu sendiri.

Ia menjelaskan bahwa ketika mahasiswa merasa nyaman dan bangga terhadap kampusnya, mereka akan secara alami menjadi ambassador kampus. Mereka akan membuat konten, membagikan pengalaman, dan merekomendasikan kampus kepada teman-temannya.

Karena itu, menurut Dr. Tri Utomo, kampus harus fokus membangun pengalaman mahasiswa yang positif dan komunitas yang sehat. Sebab loyalitas dan advocacy lahir dari pengalaman nyata, bukan dari slogan promosi.

Dalam paparannya, Dr. Tri Utomo Wiganarto juga menekankan bahwa kampus Islam harus berani tampil modern tanpa kehilangan nilai-nilai keislamannya. Menurutnya, modernitas dan Islam bukan dua hal yang bertentangan.

Ia justru melihat bahwa Generasi Z membutuhkan wajah Islam yang ramah, terbuka, suportif, dan relevan dengan kehidupan mereka hari ini. Karena itu, branding kampus Islam tidak cukup hanya menampilkan simbol religius, tetapi harus menghadirkan nilai Islam dalam budaya kampus sehari-hari.

FGD di Aula IAI PERSIS Bandung tersebut menjadi gambaran bahwa transformasi kampus Islam tidak cukup hanya pada kurikulum atau fasilitas, tetapi juga pada cara membangun komunikasi dengan generasi baru.

Melalui pemikiran-pemikirannya, Dr. Tri Utomo Wiganarto menegaskan bahwa kampus masa depan adalah kampus yang mampu memahami emosi, kebiasaan digital, dan pola pikir Generasi Z.

Karena pada akhirnya, Generasi Z tidak hanya mencari tempat belajar. Mereka mencari tempat yang mampu memahami mereka.

Wallahu ‘alam

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *