
Oleh Lina Roslina*
Pagi itu, matahari belum terlalu tinggi saat kami—rombongan mahasiswi emak-emak dari kampus—bersiap memulai perjalanan. Tujuan kami bukanlah tempat wisata, bukan pula sekadar jalan-jalan santai. Kami diundang oleh salah satu teman sekelas yang rumahnya paling jauh, terletak di sebuah sudut tenang di pinggiran Kota Bandung, tepatnya di Paseh, Majalaya.
Meski usia kami tak lagi muda dan status kami bukan lagi remaja, semangat kami seakan seperti gadis SMA yang akan melakukan touring perdana. Kami berboncengan motor, tertawa, sesekali berhenti mengabadikan pemandangan indah yang terbentang: sawah hijau yang luas, kolam-kolam air tenang yang dipagari bambu, kebun-kebun dengan tanaman rapi, hingga aliran anak sungai yang jernih menyusuri perkampungan.
Namun, perjalanan ini bukan tanpa tantangan. Di satu titik, jalan yang kami lewati mengharuskan kami menyeberangi sungai kecil dengan sebuah jembatan kayu sederhana. Dibuat oleh warga sekitar, jembatan ini tidak lebar, bergoyang saat dilintasi, namun cukup kokoh untuk kami lewati satu per satu dengan motor. Saling menyemangati dan membantu, kami menertawakan ketegangan kecil yang terasa seperti sedang mengikuti petualangan alam.
Pengorbanan, Persahabatan, dan Cinta pada Ilmu
Ini adalah jalan pintas menuju rumah sahabat kami itu. Tapi ternyata, untuk bisa hadir ke kampus setiap pekan, sahabat kami harus melewati rute berbeda. Rute yang jauh lebih panjang dan melelahkan: naik turun kendaraan umum beberapa kali, berjalan kaki, dan menunggu dengan sabar di setiap titik transit. Kadang, sahabat lain yang memiliki kendaraan akan menjemput di titik terakhir. Dalam diam, kami semua tersentuh.
Kami pun saling bertukar cerita. Ada yang harus meninggalkan anak-anak kecilnya di rumah, ada yang izin dari pekerjaan, ada yang mengatur waktu di sela kesibukan rumah tangga. Dan semua itu dilakukan demi satu hal: menuntut ilmu.
Di tengah-tengah tawa dan kehangatan itu, aku merenung. Betapa besar pengorbanan yang dilakukan oleh kami semua—terutama sahabat kami yang rumahnya di pelosok, untuk perjalanan menuju ilmu. Tapi di balik pengorbanan itu, ada cinta. Cinta pada ilmu. Cinta pada perubahan diri. Dan cinta pada cita-cita untuk menjadi pribadi yang lebih baik, dengan bekal ilmu yang berkah.
Dalam hati aku teringat pada sabda Rasulullah ﷺ:
“Barang siapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim)
Perjalanan kami hari itu hanyalah satu bentuk kecil dari perjalanan besar menuju ridha Allah. Dan sungguh, mencari ilmu bukan sekadar soal membayar uang kuliah, membeli buku, atau hadir di kelas. Tapi tentang keikhlasan, konsistensi, dan pengorbanan—dari diri sendiri dan dari orang-orang tercinta di sekitar kita.
Sesampainya di rumah sahabat kami, sambutan hangat, makanan khas kampung, dan suasana kekeluargaan membuat lelah kami seolah menguap. Hari itu kami tak hanya mendapat suguhan fisik, tapi juga santapan batin. Bahwa perjalanan menuju ilmu, meski berliku dan jauh, akan selalu indah bila dilandasi niat yang benar.
Hikmah dari Perjalanan Ini
Menuntut ilmu butuh pengorbanan, bukan hanya dari diri sendiri tapi juga dari keluarga dan orang sekitar.
Jalan pintas menuju rumah sahabat kami mengajarkan bahwa ilmu juga punya banyak jalur, dan terkadang yang paling melelahkan justru yang paling banyak mendewasakan.
Keindahan alam yang kami lewati menjadi saksi bahwa setiap langkah menuju ilmu dicatat oleh semesta dan Allah Yang Maha Mengetahui.
Persahabatan dan dukungan dari teman sekelas adalah bentuk ukhuwah yang mendekatkan kita pada surga.
*Penulis adalah Mahasiswi KPI IAI Persis Bandung






