Terjebak dalam Penyakit Tersembunyi: Apakah Kita Sudah Seperti Umat yang Diperingatkan Rasulullah?

Penyakit Tersembunyi

Dalam kehidupan sehari-hari, sering kali kita terjebak dalam rutinitas dan hiruk-pikuk dunia yang membuat kita lupa akan tujuan sejati kita sebagai hamba Allah.

Terkadang, tanpa disadari, sifat-sifat buruk seperti kesombongan, iri hati, atau sikap bermegah-megahan mulai menyusup ke dalam diri kita. Kita mungkin merasa aman, menganggap bahwa sebagai Muslim, kita sudah berada di jalan yang benar.

Namun, sudahkah kita benar-benar mengevaluasi diri? Apakah perilaku kita masih selaras dengan ajaran Rasulullah ﷺ, atau jangan-jangan kita telah mulai menyerupai umat-umat terdahulu yang mendapat peringatan keras dari Allah?

Sebelum kita terlalu jauh merasa aman, ada baiknya kita merenungi peringatan yang pernah disampaikan Rasulullah ﷺ tentang “penyakit-penyakit” yang bisa menyerang umatnya.

Penyakit-penyakit ini bukanlah sesuatu yang asing—justru sering kali mereka menyelinap dalam bentuk yang halus, menguasai hati dan pikiran kita tanpa kita sadari. Rasulullah ﷺ telah memperingatkan kita mengenai hal ini dalam sebuah hadis yang patut kita renungkan dengan serius.

Jangan-jangan Kita Sudah Seperti Mereka.

Dalam sebuah hadis, Rasulullah ﷺ bersabda:

سيُصيبُ أُمَّتُي داءُ الأُممِ، فقالوا: يا رسولَ اللهِ وما داءُ الأُممِ؟ قال:
١- الأشرُ
٢- البطرُ
٣- والتكاثرُ
٤- والتناجشُ في الدنيا،
٥- والتباغضُ
٦- والتحاسدُ حتى يكونَ البغيُ

“Penyakit umat-umat (lain) akan mengenai umatku, (yaitu):
1. Mengingkari nikmat,
2. Sombong,
3. Bermegah-megahan,
4. Bermusuhan dalam (perkara) dunia,
5. Saling membenci,
6. Saling mendengki hingga melampaui batas.”

(HR. Hakim, Ibn Abi Dunya, dan al-Thabarani dari Abu Hurairah RA)

Hadis ini adalah peringatan bagi umat Islam, bahwa penyakit-penyakit yang pernah menimpa umat terdahulu bisa juga menimpa kita. Rasulullah ﷺ menyebutkan beberapa perilaku buruk yang harus diwaspadai:

Baca Juga:  Quarter Life Crisis: Bingung, Capek, Tapi Tetap Hidup

1. Mengingkari Nikmat. Kita mungkin tidak selalu menyadari nikmat yang Allah berikan, dan lebih sering mengeluh daripada bersyukur.

2. Sombong. Kesombongan muncul ketika kita merasa lebih baik dari orang lain, padahal Allah tidak menyukai orang yang merasa angkuh.

3. Bermegah-megahan. Dalam hal ini, kita terlalu sibuk mengejar dunia, menumpuk harta, dan berkompetisi tanpa tujuan yang benar.

4. Bermusuhan dalam Urusan Dunia. Dunia menjadi ajang perselisihan, baik itu soal harta, jabatan, maupun status sosial.

5. Saling Membenci. Perasaan benci muncul karena iri, dengki, atau prasangka buruk, yang akhirnya merusak hubungan persaudaraan.

6. Saling Mendengki. Rasa iri terhadap keberhasilan orang lain bisa memicu tindakan yang melampaui batas, bahkan berujung pada permusuhan.

Peringatan ini jelas menunjukkan bagaimana umat Islam harus berhati-hati agar tidak terjebak dalam perilaku-perilaku yang merusak ini. Allah menginginkan umat Islam memiliki karakter yang mulia, sebagaimana dijelaskan dalam Al-Qur’an, surah Al-Fath: 29:

“Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dia keras terhadap orang-orang kafir (yang mengajak kepada kekafiran) tetapi harmonis sesama mereka. Kamu lihat mereka ruku’ dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud.”

Ayat ini menggambarkan bagaimana umat Islam seharusnya bersikap, yaitu keras terhadap orang-orang kafir yang mengajak kepada kekafiran, namun penuh kasih sayang di antara sesama Muslim. Sikap tegas terhadap kekafiran ini adalah bentuk keteguhan untuk tidak meniru perilaku orang-orang kafir yang disebutkan oleh Rasulullah ﷺ dalam hadis di atas.

Ruku’ dan sujud dalam ayat tersebut bukan hanya sekadar gerakan fisik dalam sholat, melainkan juga mengandung makna spiritual yang dalam.

Baca Juga:  Belajar Melambat di Perjalanan Menuju Pasir Jawa, Kamojang

Ruku’ dan sujud adalah simbol ketundukan total kepada Allah, yang berdampak pada pembentukan karakter seorang Muslim. Orang yang benar-benar menghayati sholatnya akan memiliki sikap ikhlas, rendah hati, dan jauh dari sifat sombong.

Tanda bekas sujud yang tampak di wajah bukan hanya berarti tanda fisik, melainkan juga tanda spiritual. Bekas sujud ini menggambarkan wajah yang sejuk dan damai, yang memancarkan ketulusan seorang hamba yang ikhlas dan bebas dari keangkuhan. Orang seperti ini tidak akan terjebak dalam penyakit-penyakit umat terdahulu seperti sombong, bermegah-megahan, dan saling dengki.

Kita harus senantiasa bertanya pada diri sendiri: Jangan-jangan kita sudah seperti mereka? Sudahkah kita menjaga diri dari penyakit-penyakit yang Rasulullah ﷺ peringatkan? Apakah kita sudah menjauhkan diri dari sifat sombong, iri, dan kebencian yang merusak ukhuwah? Atau justru kita telah larut dalam persaingan duniawi yang membuat kita lupa akan tujuan hidup yang sesungguhnya?

Marilah kita selalu memohon kepada Allah agar dijauhkan dari sifat-sifat buruk tersebut, dan senantiasa menjadi bagian dari umat yang Rasulullah ﷺ gambarkan dalam Al-Qur’an, yakni umat yang ikhlas, penuh kasih sayang, dan tegas dalam menegakkan kebenaran.

Semoga kita tidak termasuk umat Rasulullah ﷺ yang memiliki perilaku orang-orang kafir seperti yang disebutkan dalam hadis di atas. Aamiin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *