Website Berita dan Opini
Indeks

Lima Cahaya Jobs: Bisikan dari Ujung Hidup

Lima Cahaya Jobs: Bisikan dari Ujung Hidup
Foto dibuat Meta

Oleh Nurdin Qusyaeri 

Di ambang senja yang tak terelakkan, Steve Jobs—arsitek mimpi digital yang lahir dari garasi dan mati di ranjang rumah sakit—melepas lima kebenaran tak tergoyahkan. Bukan manifesto bisnis, bukan blueprint inovasi, melainkan warisan hati: pelajaran dari seorang pria yang menatap kematian sambil tersenyum tipis.

Saya, seorang dosen basajan di kampus beraroma PERSIS Bandung, membacanya seperti membaca puisi lama di sela coding konten TikTok politik.

Setiap bait begitu menusuk dada, mengajaknya untuk direnungkan: di tengah deadline disertasi dan scroll X yang tak berujung, apa yang kita kejar saat akhirnya tiba, hanyalah bayang-bayang kebahagiaan sejati?

Pertama, jangan tanam benih kekayaan di hati anak. Atau jangan ajari anakmu untuk kaya. Namun, ajarilah mereka bahagia, katanya.

Kelak saat dewasa, mereka tak lagi terpesona oleh harga, tapi nilai—seperti pohon kelapa di halaman rumah, nampak rindang meski tak bernilai pasar.

Saya ingat anak saya kecil, main lumpur tanah di jalan sempit Banjaran Bandung, bukan iPad mahal. Kaya? Tentu tidak. Tapi, apakah bahagia? Itu yang saya tanam saat mengawasi riset mahasiswa, di mana sukses bukan gaji, tapi momen “Aha!” saat teori mediatisasi politik nyambung dengan reel viral Prabowo.

Jobs tahu, uang hanyalah angka di spreadsheet; sedangkan kebahagiaan adalah seni melihat dunia sebagai kanvas riset, bukan neraca Scopus.

Kedua, jadikan makanan sebagai obatmu, sebelum obat menjadi makananmu.

Kata-katanya itu cambuk bagi saya yang sering larut malam transkrip video Instagram politik, ditemani mie instan dan kopi Arabika pemberian Mahasiswa.

Ternyata tubuh bukan mesin riset tak berbatas; melainkan hanya taman rapuh yang butuh pupuk alami.

Saya pernah ambruk (punya penyakit dua sekaligus: Typus dan Mag) saat masih jadi aktivis jalanan, tapi Alhamdulillah bisa bangkit setelah mengkonsumsi ramuan kampung dari ibu.

Baca Juga:  Persib Juara, KPI Membara: Dari Studio ke Surga Digital, Jalanmu Terbuka!

Jobs, lawan kankernya, dia mengingatkan: kesehatan bukan bonus disertasi, tapi pondasi. Kini, pagi di teras rumah, saya kadang makan pepes ikan segar seperti doa—mengingatkan diri, riset politik tak berguna jika badan roboh sebelum publikasi.

Lalu, ketiga, ada enam dokter terbaik di dunia: sinar matahari yang membakar kabut pagi kaki gunung Manglayang, istirahat yang kadang saya curi ngalengut di kursi saat ngobrol, olahraga jalan pagi di sekitar lapang Trail atau di Summarecon sambil dengar podcast mediatisasi politik, makanan sehat seperti sayur kolplay, kiciwis dari warteg, kepercayaan diri, dan teman baik—kolega riset yang debat panjang soal framing politik di TikTok.

Syukurilah berkah hidupmu, bisik Jobs, dan bahagia datang seperti hujan deras musim hujan Jakarta.

Saya sering lupa di tengah hiruk-pikuk coding kualitatif, tapi suatu sore berlari di sepanjang jalan Babakan Sumedang ditemani sahabat dosen, merasakan: obat paling manjur ada di luar pil, yaitu pelukan alam dan diskusi politik plus jurnal malam-malam.

Keempat, jika ingin berjalan cepat,  berjalanlah sendiri. Tapi jika ingin jalan jauh, maka berjalanlah bersama-sama. Jobs, lone wolf Apple, paham: perjalanan disertasi itu panjang butuh rombongan. Saya sendirian saat awal riset media sosial politik—scroll solo hingga subuh—tapi jauh saat kolaborasi dengan tim: temen dosen A analisis video, teman  dosen B kode tema.

Dekatilah orang yang menyinari hidupmu, seperti angin ekor karavan di padang pasir politik Indonesia. Di grup WhatsApp riset, pilih teman yang jadi booster citaasi, bukan drama deadline.

Terakhir, mereka yang mencintaimu takkan pergi. Seribu alasan menyerah—Mereka cari satu alasan bertahan.

Cinta sejati bukan dongeng Disney, tapi jangkar di badai. Jobs, ditinggal ibu angkatnya di awal hidup, tahu betul: ikatan hati tak patah oleh waktu atau badai. Saya lihat itu di keluarga saya, di sahabat yang tetap ada meski jarak terbentang memisah. Cinta adalah satu-satunya investasi yang terus untung selamanya.

Baca Juga:  Tips Hidup Sehat ala dr. Cahyono

Pamiarsa, Lima kebenaran ini cermin retak bagi jiwa akademik seperti saya. Jobs tak sempurna, tapi di ujungnya pilih kebijaksanaan. Saat senja tiba—entah di ranjang RS atau balkon rumah—saya akan bisikkan pada anak: Sholat, Baca Qur’an, berbuat baik! Kalian pasti bahagia! riset, bisa nyusul.

Maka di usia yang mendekati setengah abad ini, saya mulai membiasakan: minum jahe/sereh, makan kulub-kuluban: Singkong, boled, lalab bageulis, pohpohan, dll, dibarengi jalan pagi, peluk dekap keluarga, dan undang temen-teman ngopi dan balakecrakan.

Karena akhirnya saya sadar bahwa hidup bukan melulu soal jurnal Q1, tapi soal bagaimana berjalan jauh, bahagia, berjamaah!

Wallahu’alam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *