Website Berita dan Opini
Indeks

“Semua Pulang Pada Ibu, Tapi Ibu Pulang Pada Siapa?”

Sebuah renungan tentang lelah seorang ibu yang selalu menjadi rumah, namun diam-diam merindukan rumah untuk dirinya sendiri.

Tempat Pulang Seorang Ibu
Foto Ilustrasi

Oleh Popi Sri Mulyani 

Dalam hidup ini, satu kata yang selalu menghangatkan hati adalah ibu. Ia adalah rumah, tempat pulang bagi anak-anak yang lelah, pelabuhan rindu bagi suami yang penat, dan pelipur lara bagi keluarga yang kehilangan arah.

Namun, pernahkah kita bertanya dalam hati: ketika seorang ibu lelah, capek, penat, dan pusing, kemana tempat pulang seorang ibu?

Setiap hari, seorang ibu bangun lebih awal dari siapa pun. Tangannya sibuk di dapur, hatinya penuh dengan doa, pikirannya memikirkan seribu hal untuk keluarga.

Malamnya, ketika semua tertidur, ia masih terjaga. Memastikan anak-anaknya nyaman, menjaga rumah tetap teduh, memastikan semuanya baik-baik saja.

Namun dibalik semua itu, ada kelelahan seorang ibu yang jarang terlihat. Senyumnya seolah menutupi tangis yang ia tahan. Kuatnya seluruh lapisan sering menutupi rapuhnya hati.

Baca Juga:  Sepi yang Tak Pernah Kita Janjikan

Rumah yang Juga Merindukan Rumah

Kita sering lupa, bahwa rumah juga butuh rumah. Bahwa ibu sebagai rumah sebenarnya juga rindu tempat untuk pulang. Ia rindu pelukan, rindu kata-kata yang membuatnya merasa cukup, rindu ruang di mana ia bisa jujur​​ dengan semua letihnya.

Kasih sayang ibu memang tiada batas. Namun, bukankah dia juga berhak mendapatkan kasih sayang yang sama?

Sajadah: Tempat Pulang yang Tak Pernah Menolak

Ketika dunia terlalu bising untuk mendengar tangisnya, ibu selalu kembali pada satu tempat: sajadah . Di sanalah ia menumpahkan seluruh keluh kesah, menitipkan doa untuk anak-anaknya, dan menggantungkan harapan kepada Allah.

Di hadapan manusia, ibu berusaha kuat. Tapi di hadapan Allah, ia bisa menjadi selemah-lemahnya. Dan justru di situlah kekuatannya lahir kembali.

Maukah Kita Menjadi Tempat Pulang Itu?

Namun, bukankah kita—anak-anaknya, pasangannya—juga bisa menjadi rumahnya?

Kita bisa mendengarkan cerita tanpa menghakimi.

Memberikan pelukan hangat tanpa diminta.

Bisa sekedar berkata, “ Terima kasih, Bu. Aku tahu kamu lelah.”

Sebab, di balik setiap doa seorang ibu, ada luka yang ia pendam. Di balik setiap senyum, ada air mata yang ia sembunyikan. Dan di balik setiap langkahnya yang kuat, ada kerinduan untuk sekedar dipeluk.

Baca Juga:  “Menghapus Luka, Menenangkannya di Pelukan Alam”

Menjadi Rumah bagi Sang Ibu

Hari ini, mari kita pulang—bukan hanya kepada ibu, tetapi juga menjadi tempat pulang seorang ibu . Jangan biarkan ia hanya menumpahkan semuanya di sajadah, tanpa pernah merasakan hangatnya dukungan dari keluarga yang ia cintai.

Sebab, terlalu lama seorang ibu menjadi rumah bagi semua orang, tanpa sempat bertanya:
Apakah saya juga punya rumah untuk pulang?”

Semoga renungan ini membuat kita lebih peka akan mengorbankan ibu, lebih sadar pada kasih sayang ibu yang tak pernah padam. Karena ibu bukan hanya tempat kita pulang—tetapi ia juga manusia yang berhak punya tempat pulang.

🌹 Mari kita hadir untuknya. Mari kita menjadi rumah bagi ibu, sebelum terlambat.

Ciwidey, 26 September 2025

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *