Website Berita dan Opini
Indeks

Sepi yang Tak Pernah Kita Janjikan

Ketika Riuh Percakapan Berubah Menjadi Sunyi

Sepi yang tak pernah dijanjikan
Foto : Ilustrasi ketika Handphone sudah sepi dari notifikasi

Oleh Popi Sri Mulyani “Tidak semua cinta berakhir dengan konflik; sebagian mati perlahan dalam keheningan. Aku menitipkan kepercayaan, sembilan puluh sembilan persen utuh, hanya untuk dihancurkan oleh ego setinggi langit. Kadang-kadang, cinta yang paling keras bersuara justru cinta yang berakhir dalam diam.”

Ada cinta yang tak pecah karena bentrok, melainkan perlahan mati dalam sunyi. Dulu, setiap notifikasi adalah detak jantung; setiap panggilan telepon adalah napas baru untuk bertahan. Obrolan yang tak mengenal jeda membuat waktu seolah berhenti. Tapi kini semua beku. Kolom chat yang dulu riuh kini seperti kota mati—sunyi, dingin, dan nyaris tanpa tanda kehidupan.

Aku pernah menitipkan percaya, sembilan puluh sembilan persen penuh, tanpa celah untuk curiga. Bodohnya, aku tak pernah bersiap jika kepercayaan itu hancur oleh ego yang terlalu tinggi.

Baca Juga:  “Aku Pernah Tersengat, Tapi Tak Terbakar”

Katanya, kamu tak pernah tantrum. Nyatanya, sudah berkali-kali badai kecilmu meruntuhkan duniaku. Dan aku tetap bertahan—seolah candu pada luka yang kerap kau tinggalkan.

Rasa ini buta dan naif. Aku hanya ingin percaya bahwa kamu akan selalu ada. Tapi setiap kali aku mendekat, kau menegakkan tembok angkuh yang semakin tinggi. Setiap kali aku mencoba bertahan, kau runtuhkan lagi sisa-sisa harapku dengan diam yang menyiksa.

Tak ada lagi dering telepon mendadak. Tak ada lagi pesan panjang penuh tawa dan cerita. Hanya sepi—sunyi yang hampir sekarat—mengganti riuh yang dulu membuat hidup. Aku menitipkan rasa dan percaya, kau membalas dengan angkuh yang menyakiti. Katamu tak pernah mengamuk, nyatanya badai itu datang berkali-kali. Dan bodohnya, aku selalu memaafkan.

Mungkin inilah saatnya aku menyerah. Menyerah dari fantasi gila yang memabukkan, dari candu yang mengikatku begitu erat. Biarlah semua ini menjadi kenangan yang tak akan kuhapus.

Karena meski luka telah berakhir, aku pernah merasakan indahnya aman dan nyaman berbagi cerita bersamamu—walaupun kau tak pernah benar-benar menganggapku apa-apa.

Sepi yang Tak Pernah Kita Janjikan

Ada ruang diskusi yang kini mati,

padahal dulu riuh, seperti langit yang tak pernah kehabisan bintang.

Tak ada lagi dering telepon tiba-tiba,

tak ada suara jauh yang selalu memanggilku pulang ke dadamu—

yang dulu hangat, kini asing.

 

Aku menitipkan percaya, sembilan puluh sembilan persen utuh,

kau balas dengan ego setinggi langit,

Angkuh, menusuk tanpa peduli luka yang kau tinggalkan.

Katamu tak pernah tantrum,

tapi entah sudah berapa kali badai kecilmu meruntuhkan duniaku,

dan bodohnya, aku tetap menyimpan rasa—

tanpa curiga, tanpa pelindung.

 

Mungkin ini waktunya menyerah

pada fantasi gila yang memabukkan,

pada candu yang hanya meninggalkan sunyi.

Biarlah ini jadi kenangan yang tak akan kuhapus,

paling tidak, sekali dalam hidupku,

aku pernah merasa aman, nyaman,

bercerita padamu, yang bahkan tak pernah menganggapku apa-apa.

Tidak semua rasa harus dipertahankan. Ada rasa yang memang diciptakan untuk mengajarkan arti kehilangan, bukan untuk menetap selamanya. Ada janji yang dilahirkan hanya untuk diuji, bukan untuk dipenuhi. Dan ada seseorang yang datang bukan untuk dimiliki, tetapi untuk mengajarkan bahwa hati bisa mencintai tanpa syarat, meskipun harus hancur berkali-kali.

Kini, ruang dialog itu tak lagi bersuara. Telepon yang dulu menjadi jembatan, kini hanya benda mati di atas meja. Semua percakapan terhenti, bukan karena kehabisan kata, tetapi karena rasa sudah kalah oleh ego. Dan aku… aku memilih menyerah—bukan karena tak ada lagi rasa, tapi karena terlalu cinta hingga tak ingin terus tersakiti.

Baca Juga:  Boleh ya, Sayang...?

Biarlah luka ini tersimpan dalam ingatan, bukan untuk dilupakan, tapi untuk dikenang. Sebab luka juga punya cara yang indah, untuk mengingatkan kita: bahwa pernah ada seseorang yang membuat dunia terasa hidup, sebelum akhirnya meninggalkannya menjadi sunyi.

Cinta tak selalu harus dimiliki untuk diabadikan. Kadang-kadang, justru cinta yang berakhir diam itulah yang paling keras bersuara di dalam hati.

Pasirjambu, 24 Agustus 2025

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *