Website Berita dan Opini
Indeks

UMKM Tidak Cukup Hanya Religius dan Digital: Dudi Sudirman Menemukan Kunci yang Sering Dilupakan

UMKM Tidak Cukup Hanya Religius dan Digital: Dudi Sudirman Menemukan Kunci yang Sering Dilupakan
Dr. Dudi Sudirman (tengah) sesaat setelah mempertahankan sidang doktoralnya di UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Rabu 19 Agustus 2026

 

Oleh Nurdin Qusyaeri

Ada satu keyakinan yang selama ini terasa masuk akal dalam membangun usaha.

Kalau pelakunya religius, usahanya akan baik.

Kalau sistem informasinya sudah digital, bisnisnya akan semakin maju.

Kalau keduanya sudah dimiliki, mestinya kinerja UMKM tinggal menunggu waktu untuk meningkat.

Tetapi Dudi Sudirman justru menemukan cerita yang tidak sesederhana itu.

Melalui penelitian doktornya selama tiga tahun pada Program Studi Hukum Islam, Konsentrasi Ekonomi Syariah, Pascasarjana UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Dudi menguji tiga hal yang selama ini dianggap penting bagi kinerja UMKM: kompetensi sumber daya manusia, sistem informasi akuntansi, dan religiusitas.

Hasilnya?

Tidak semuanya bekerja seperti yang mungkin kita bayangkan.

Kompetensi SDM justru tampil sebagai kunci.

Sementara sistem informasi akuntansi dan religiusitas ternyata tidak menunjukkan pengaruh langsung yang signifikan terhadap kinerja UMKM dalam model yang diuji.

Temuan ini membuat disertasi Dudi menarik bukan hanya bagi dunia akademik, tetapi juga bagi pemerintah, pendamping UMKM, dan para pelaku usaha itu sendiri.

Sebab ada satu pesan sederhana yang terasa sangat kuat:

«Jangan buru-buru membeli teknologi jika manusianya belum siap. Jangan pula merasa cukup religius jika nilai-nilai itu belum berubah menjadi kompetensi dan perilaku kerja.»

UMKM Tumbuh Pesat, Tetapi Apakah Benar-Benar Makin Kuat?

Dudi memulai penelitiannya dari sebuah paradoks. UMKM adalah salah satu tulang punggung ekonomi. Jumlahnya terus tumbuh.

Dalam paparan penelitiannya, jumlah UMKM di kawasan Bandung Raya menunjukkan perkembangan yang sangat besar hingga mencapai lebih dari satu juta unit. Data yang ditampilkan mencakup Kabupaten Bandung, Kabupaten Bandung Barat, Kota Bandung, dan Kota Cimahi.

Pertumbuhan kuantitas tersebut tentu menggembirakan.

Semakin banyak UMKM berarti semakin banyak aktivitas ekonomi, semakin banyak peluang kerja, dan semakin luas pula basis kewirausahaan masyarakat.

Tetapi Dudi tidak berhenti pada pertanyaan:

“Berapa banyak UMKM?”

Ia menggeser pertanyaan menjadi: “Seberapa baik kinerja UMKM tersebut?”

Ini pertanyaan yang jauh lebih penting.

Sebab banyaknya unit usaha belum tentu identik dengan kuatnya usaha.

Pertumbuhan jumlah UMKM tidak otomatis berarti produktivitas meningkat.

Banyaknya pelaku usaha juga belum tentu berarti daya saing semakin tinggi.

Di sinilah Dudi melihat adanya paradoks:

«Kuantitas UMKM tumbuh, tetapi kualitas kinerjanya tetap membutuhkan perhatian.»

Maka persoalan berikutnya adalah: apa yang sebenarnya membuat UMKM berkinerja baik?

Tiga Tersangka Utama

Untuk menjawab pertanyaan itu, Dudi membawa tiga variabel ke meja pengujian.

Pertama, Kompetensi Sumber Daya Manusia (SDM).

Kedua, Sistem Informasi Akuntansi (SIA).

Ketiga, Religiusitas.

Ketiganya bukan dipilih secara sembarangan.

Dudi membangun masing-masing variabel dengan landasan teoritis yang jelas.

Kompetensi SDM dibaca melalui pengetahuan, keterampilan, dan sikap atau perilaku.

Sistem Informasi Akuntansi dilihat melalui kualitas sistem, kualitas informasi, dan pengendalian internal.

Sementara religiusitas tidak sekadar diukur dari seberapa sering seseorang beribadah, tetapi mencakup dimensi keyakinan, ibadah, dan konsekuensi atau perilaku.

Sedangkan kinerja UMKM dilihat secara lebih luas, bukan hanya dari keuntungan.

Dalam kerangka Balanced Scorecard, kinerja mencakup aspek keuangan, pelanggan, proses bisnis internal, serta pembelajaran dan pertumbuhan.

Dengan demikian, Dudi tidak sedang bertanya:

«“Apakah UMKM menghasilkan uang?”»

Tetapi:

«“Apakah UMKM memiliki kinerja yang sehat secara menyeluruh?”»

Yang Diuji Bukan Sekadar Dugaan

Penelitian Dudi menggunakan pendekatan kuantitatif empiris-eksplanatori.

Populasinya adalah UMKM di wilayah Bandung Raya, dengan 100 responden sebagai sampel.

Data primer diperoleh melalui kuesioner dengan skala Likert 1–5.

Untuk menguji hubungan antarvariabel, Dudi menggunakan Structural Equation Modeling–Partial Least Squares (SEM-PLS) dengan bantuan SmartPLS 3.29.

Secara sederhana, ia ingin mengetahui:

  • Apakah X1 memengaruhi Y?
  • Apakah X2 memengaruhi Y?
  • Apakah X3 memengaruhi Y?

Dan yang tidak kalah penting:

Bagaimana ketiganya bekerja secara bersama-sama?

Jadi penelitian ini bukan sekadar mengatakan bahwa SDM penting, religiusitas penting, atau teknologi penting.

Semua itu diuji secara empiris.

Hasilnya Justru Menarik

Hasil pengujian memberikan kejutan.

Dari tiga variabel yang diuji secara parsial, kompetensi SDM terbukti berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja UMKM.

Nilai koefisiennya 0,283, dengan p-value 0,031, yang berada di bawah batas signifikansi 0,05.

Artinya, dalam model penelitian Dudi, kompetensi manusia benar-benar menjadi faktor yang terbukti bekerja.

Sebaliknya, Sistem Informasi Akuntansi tidak menunjukkan pengaruh signifikan.

Baca Juga:  Kesbangpol Kabupaten Bandung Gelar Fasilitasi Kerukunan Umat 2024

Koefisiennya hanya 0,011, dengan p-value 0,954.

Sementara religiusitas juga tidak menunjukkan pengaruh langsung yang signifikan.

Koefisiennya -0,004, dengan p-value 0,986.

Maka kesimpulan yang muncul cukup tegas:

«Dari tiga variabel yang diuji, kompetensi SDM-lah yang terbukti menjadi motor langsung kinerja UMKM.»

Ini bukan berarti sistem informasi akuntansi tidak penting.

Bukan pula berarti religiusitas tidak penting.

Justru di sinilah kedalaman temuan Dudi.

Teknologi Hebat Tidak Akan Berjalan Sendiri

Bayangkan sebuah UMKM memiliki aplikasi akuntansi yang canggih.

Semua transaksi bisa dicatat.

Laporan keuangan dapat dibuat.

Data tersimpan secara digital.

Sistem pengendalian internal tersedia.

Tetapi siapa yang mengoperasikannya?Manusia.

Kalau pelaku UMKM tidak memahami sistem tersebut, teknologi hanya menjadi perangkat yang mahal.

Dengan kata lain:

«Teknologi adalah alat. Manusialah yang menentukan apakah alat itu menghasilkan perubahan.»

Temuan Dudi tentang SIA yang tidak berpengaruh signifikan secara langsung justru dapat dibaca sebagai peringatan agar digitalisasi UMKM tidak berhenti pada pengadaan perangkat lunak.

Jangan sampai program digitalisasi berhenti pada: “Sudah punya aplikasi.”

Pertanyaan jauh lebih pentingnya adalah:

“Sudahkah orangnya mampu menggunakan aplikasi itu untuk mengambil keputusan bisnis?”

Lalu Bagaimana dengan Religiusitas?

Temuan tentang religiusitas mungkin justru yang paling menarik untuk dibicarakan dalam konteks ekonomi syariah.

Sebab ada anggapan bahwa semakin religius seseorang, semakin baik pula kinerja usahanya.

Tetapi Dudi menunjukkan bahwa religiusitas tidak terbukti memberikan pengaruh langsung yang signifikan terhadap kinerja UMKM dalam model yang diuji.

Mengapa?

Di sinilah pembahasan Dudi menjadi menarik.

Religiusitas berada pada wilayah nilai.

Ia berbicara tentang keyakinan, ibadah, dan konsekuensi perilaku.

Tetapi nilai tidak otomatis berubah menjadi produktivitas ekonomi.

Seseorang bisa memiliki keyakinan agama yang kuat.

Bisa rajin beribadah.

Tetapi bisnis tetap membutuhkan:

  • kemampuan membaca pasar;
  • kemampuan mengelola keuangan;
  • keterampilan menggunakan teknologi;
  • kemampuan mengambil keputusan;
  • kemampuan berkomunikasi;
  • kemampuan memecahkan masalah; dan
  • kemampuan mengembangkan usaha.

Dengan kata lain:

«Kesalehan perlu diterjemahkan menjadi kompetensi agar menghasilkan kinerja ekonomi.»

Inilah salah satu pembacaan paling menarik dari penelitian Dudi.

Maqāṣid al-Sharī‘ah: Nilai Harus Menjadi Tindakan

Dudi tidak berhenti pada teori manajemen.

Ia membangun konstruksi teoritis dengan Maqāṣid al-Sharī‘ah sebagai grand theory, merujuk pada pemikiran Wahbah Al-ihsan.

Tiga dimensi yang ditekankan adalah perlindungan:

  • agama — hifẓ al-dīn,
  • akal — hifẓ al-‘aql,
  • dan harta — hifẓ al-māl.

Di sinilah penelitian Dudi mencoba menghubungkan nilai-nilai Islam dengan realitas ekonomi.

Religiusitas berada pada wilayah nilai.

Sistem informasi akuntansi menjadi alat.

Tetapi manusia yang kompeten menjadi pihak yang menghidupkan keduanya.

Dalam bahasa yang lebih sederhana:

«Nilai memberi arah. Sistem memberi alat. Kompetensi membuat keduanya bekerja.»

Dan gagasan ini kemudian menjadi dasar penting bagi novelty yang ditawarkan Dudi.

Model INSK: Nilai, Sistem, Kompetensi

Dari sintesis tersebut, Dudi menawarkan sebuah gagasan yang ia sebut:

Model INSK — Integrasi Nilai, Sistem, dan Kompetensi

Model ini berangkat dari satu kritik terhadap pendekatan yang berjalan sendiri-sendiri.

Meningkatkan religiusitas saja belum tentu cukup.

Mengadopsi teknologi saja juga belum tentu cukup.

UMKM membutuhkan integrasi.

Dalam model INSK, religiusitas ditempatkan sebagai nilai, sistem informasi akuntansi sebagai sistem pendukung, sedangkan kompetensi SDM menjadi mekanisme integratif atau katalisator yang menghubungkan keduanya dengan kinerja UMKM.

Analogi yang digunakan Dudi sangat menarik.

Bayangkan sebuah mesin. Nilai religiusitas menjadi energi yang memberi arah. Sistem menjadi perangkat.

Tetapi kompetensi manusia adalah mekanisme yang membuat mesin tersebut benar-benar bergerak.

Tanpa manusia yang mampu mengoperasikannya, sistem akan pasif.

Tanpa nilai, kompetensi bisa kehilangan orientasi.

Tanpa sistem, kompetensi dapat bekerja tetapi tidak selalu efisien dan terukur.

Maka: Nilai + Sistem + Kompetensi → Kinerja

Namun Dudi memberi penekanan khusus: Kompetensi adalah katalisatornya.

Manusia Bukan Beban Biaya, tetapi Modal

Di sinilah teori Human Capital T.W. Schultz menjadi penting.

Dalam perspektif human capital, manusia bukan sekadar faktor produksi. Manusia adalah aset.

Karena itu, investasi kepada manusia bukan pengeluaran yang harus ditekan, melainkan investasi yang harus dikembangkan.

Temuan Dudi menjadi semakin relevan.

Jika kompetensi SDM terbukti menjadi satu-satunya variabel yang berpengaruh langsung secara signifikan dalam model, maka program pengembangan UMKM seharusnya tidak hanya berorientasi pada bantuan modal, perangkat digital, atau pelatihan administratif.

Baca Juga:  Cinta Ibu: Luka yang Ia Bagi, Bahagia yang Ia Relakan"

Pertanyaan yang lebih fundamental adalah:

Bagaimana meningkatkan kualitas manusianya?

Bukan sekadar:

“Apa yang kita berikan kepada UMKM?”

Tetapi:

“Manusia seperti apa yang kita bangun di balik UMKM?”

R² Hanya 8,3 Persen: Apakah Modelnya Lemah?

Ada satu angka lain yang justru membuat penelitian Dudi semakin menarik.

Koefisien determinasi atau R² sebesar 0,083, atau 8,3 persen.

Artinya, ketiga variabel dalam model hanya menjelaskan sekitar 8,3 persen variasi kinerja UMKM.

Sebanyak 91,7 persen dipengaruhi faktor lain di luar model.

Bagi pembaca awam, angka ini mungkin terasa kecil.

Tetapi justru di sinilah kita perlu membaca penelitian secara hati-hati.

Dudi tidak mengklaim bahwa kompetensi SDM, SIA, dan religiusitas adalah seluruh jawaban tentang kinerja UMKM.

Tidak.

Modelnya justru menunjukkan bahwa masih banyak faktor lain yang berperan.

Misalnya inovasi, orientasi pasar, akses modal, dan berbagai faktor lain di luar model.

Dengan demikian, penelitian Dudi tidak sedang mengatakan:

“Saya sudah menemukan semua penyebab kinerja UMKM.”

Ia mengatakan sesuatu yang lebih proporsional:

“Dari variabel yang saya uji, kompetensi SDM terbukti menjadi faktor yang paling nyata bekerja secara langsung.”

Ini justru membuat kesimpulannya lebih realistis.

Dari “Memberi Bantuan” Menjadi “Membangun Manusia”

Temuan Dudi memiliki implikasi yang cukup besar bagi kebijakan pemberdayaan UMKM.

Selama ini intervensi UMKM sering berkutat pada:

  • bantuan modal,
  • peralatan,
  • digitalisasi,
  • pelatihan,
  • dan akses pasar.

Semua itu penting.

Tetapi penelitian Dudi mengingatkan:

«Jangan lupa manusianya.»

Program pemberdayaan perlu bergerak menuju human development.

Pelatihan tidak cukup hanya mengajarkan cara menggunakan aplikasi.

Pelaku UMKM perlu memahami mengapa aplikasi itu digunakan, bagaimana membaca data, bagaimana mengambil keputusan berdasarkan informasi, dan bagaimana mengubah informasi menjadi strategi bisnis.

Demikian pula pendidikan kewirausahaan Islam.

Tidak cukup mengajarkan halal-haram dalam bisnis.

Nilai tersebut perlu diterjemahkan menjadi etos kerja, disiplin, integritas, tanggung jawab, kemampuan mengelola usaha, dan keberanian mengambil keputusan secara tepat.

Tawaran Pesan Sederhana

Pada akhirnya, disertasi Dudi Sudirman membawa kita pada sebuah kesimpulan yang sederhana tetapi penting.

UMKM tidak cukup hanya besar jumlahnya. Tidak cukup hanya religius pelakunya.

Tidak cukup pula hanya digital sistemnya.

Yang paling menentukan adalah:

manusia yang mampu menghidupkan nilai dan sistem tersebut menjadi tindakan nyata.

Karena itu, jika pemerintah ingin meningkatkan kinerja UMKM, jangan hanya bertanya:

“Berapa bantuan yang kita berikan?”

Tetapi:

“Berapa banyak manusia UMKM yang berhasil kita tingkatkan kompetensinya?”

Jika lembaga keuangan ingin membantu UMKM, jangan hanya bertanya:

“Berapa modal yang bisa disalurkan?”

Tetapi:

“Apakah penerimanya memiliki kapasitas mengelola modal itu?”

Dan jika program digitalisasi ingin berhasil, jangan hanya bertanya:

“Berapa UMKM yang sudah menggunakan aplikasi?”

Tetapi:

“Berapa pelaku UMKM yang benar-benar mampu menggunakan informasi digital untuk membuat keputusan bisnis yang lebih baik?”

Dari Religiusitas ke Etos Kerja

Di sinilah gagasan Dudi menjadi relevan bagi ekonomi syariah.

Religiusitas tidak boleh berhenti sebagai identitas.

Ia harus menemukan bentuknya dalam perilaku ekonomi.

Kejujuran menjadi praktik bisnis.

Amanah menjadi tata kelola.

Disiplin menjadi budaya kerja.

Pengetahuan menjadi kompetensi.

Keterampilan menjadi produktivitas.

Dan sistem menjadi alat untuk memperkuat semuanya.

Maka mungkin kita dapat merumuskan pesan besar dari disertasi Dudi dalam satu kalimat:

“Nilai memberi arah, sistem memberi alat, tetapi kompetensi manusialah yang menggerakkan UMKM.”

Dan jika ingin dibuat lebih “nendang”:

“UMKM tidak akan naik kelas hanya karena diberi modal dan aplikasi. UMKM naik kelas ketika manusianya ikut naik kelas.”

Inilah pesan penting yang dapat kita tangkap dari perjalanan akademik Dudi Sudirman.

Di tengah gegap-gempita digitalisasi dan jargon ekonomi syariah, ia mengingatkan kita pada sesuatu yang sangat mendasar:

Pada akhirnya, yang menjalankan sistem adalah manusia.

Dan manusia yang kompeten bukan sekadar pelaksana.

Ia adalah modal utama, penghubung nilai dan teknologi, sekaligus motor penggerak kinerja UMKM.

Barangkali karena itulah temuan Dudi terasa relevan jauh melampaui ruang sidang doktornya.

Sebab persoalan UMKM kita hari ini bukan hanya bagaimana membuat usahanya lebih banyak.

Tetapi bagaimana membuatnya lebih kuat, lebih profesional, lebih adaptif, dan lebih berdaya saing.

Dan jawabannya, setidaknya dari model yang diuji Dudi Sudirman, dimulai dari satu tempat: manusianya.

Wallahu ‘alam 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *