
Redaksi DARAS.ID
Di jantung Bandung, di mana angin pegunungan menyimpan kisah perjuangan, berdiri sebuah mercusuar bernama IAI PERSIS Bandung. Ia bukan sekadar gedung, melainkan katedral ilmu yang dibangun di atas altar pengorbanan dan keikhlasan para pendahulu.
Mereka, para muharrik, Mujaddid, Mujahid dan ulama, membangunnya dengan darah, keringat, dan air mata suci—bekerja siang-malam bagai Sisyphus yang rela, tanpa gemerlap upah, demi obsesi suci: mencerdaskan dan memuliakan umat.
Kitab sejarah itu, berat dan suci, kini terbuka di genggaman kita—para dosen, tendik, pengabdi—penulis babak baru.
Di Ambang Jurang Kegelapan yang Menyelimuti Mercusuar
Namun, mercusuar ini pernah nyaris padam. Kita berdiri di atas puing-puing masa kelam, di mana angin transisi kini bertiup kencang, menyapu debu pengabaian yang menumpuk selama belasan tahun.
Enam Bulan masa Kegelapan (Desember 2024 – 23 Mei 2025) Mercusuar ini terombang-ambing tanpa nahkoda. Jiwa kampus merana, kehilangan arah bagai kapal tanpa kemudi di tengah lautan ganas. Semangat menguap, ketidakpastian merajalela. Kampus hidup dalam bayang-bayang kevakuman kepemimpinan yang menusuk jiwa.
Belasan Tahun Dalam Kabut: Sebelumnya, keterbukaan adalah kata asing. Laporan keuangan, pertanggung jawaban? Sebuah mitos yang tersembunyi rapat. Jangankan civitas akademika biasa, bahkan beberapa level pimpinan pun berjalan dalam gelap, tak mengetahui arus masuk-keluar dana yang mestinya menjadi darah nadi kampus.
Statuta, konstitusi suci lembaga, ditelantarkan bagai kitab usang di rak berdebu. Ruang gelap ini menjadi panggung bagi penyalahgunaan kekuasaan (abuse of power) dan praktik moral hazard dalam pengelolaan keuangan.
Dana kampus, titipan umat, mengalir dalam ketidakjelasan, mengakibatkan luka menganga yang mengancam eksistensi mercusuar ini.
Percikan Api Pergerakan para Dekan yang Menyalakan Obor Kebenaran
Di tengah kegelapan yang pekat dan kebisuan yang mencekik, muncul sebuah nyala keberanian. Diinisiasi para Dekan, menyaksikan langsung mercusuar tercinta merana di kubangan ketidakjelasan dan penyimpangan.
Hati yang tergerak oleh warisan keikhlasan pendahulu dan tanggung jawab moral tak mampu lagi diam. Para Dekanlah inisiator, pemantik api perubahan. Dengan keteguhan hati para pemberani itu, gerakkan kesadaran kolektif itu mendobrak tembok ketertutupan yang telah berdiri kokoh selama belasan tahun.
Suara lantangnya menggema, menuntut keadilan, transparansi mutlak, dan pertanggungjawaban. Jeritan jiwa-jiwa para pemimpin tingkat dekanat yang peduli ini sampai ke puncak. Akhirnya, PP PERSIS, sebagai penyelenggara pendidikan tinggi yang mulia, turun tangan.
Dengan kewenangan dan tanggung jawab penuh, mereka mengambil alih kemudi kapal yang nyaris karam ini. Mereka membersihkan, menata, dan menertibkan. Proses penyelamatan yang berat dan penuh tantangan itu akhirnya membuahkan hasil: keteraturan, transparansi, dan kepemimpinan definitif yang kita rasakan hari ini adalah buah dari perjuangan para muharrik.
Fajar Baru: Mengakui Luka, Menatap Ke Depan dengan Semangat Membaja
Kini, di bawah kepemimpinan definitif, kita berdiri di fajar baru yang masih rapuh. Kami tak lagi menyembunyikan borok di balik tabir.
Di hadapan langit yang menyaksikan, kami akui: luka masa lalu itu ada, dalam, dan nyata—warisan masalah keuangan, kebocoran akibat praktik moral hazard, manajemen yang kacau balau. Inilah realita pahit yang harus kita hadapi bersama, bagai obat yang harus diminum demi kesembuhan.
Di tengah hempasan transisi ini, secercah cahaya patut disyukuri dengan sujud yang panjang: hak-hak pokok para penjaga mercusuar—gaji dosen dan tendik—tetap mengalir bagai sungai kehidupan, tak terpangkas.
Ini janji pimpinan baru yang terpatri: kebutuhan dasar adalah altar suci. Namun, konsekuensinya terasa: nafas operasional dikerem ketat. Penghematan bukan pilihan, tapi kurban wajib demi menyembuhkan luka lama dan menguatkan kapal besar ini. Setiap rupiah yang disisihkan adalah pilar penyangga masa depan.
Bagaikan nahkoda yang memandang bintang setelah keluar badai, Rektor baru Prof. Jajang berseru dengan suara penuh keyakinan:
“Tahun pertama ini adalah medan tempur disiplin dan pemulihan! Fokus kita: menertibkan rimba keuangan yang pernah gelap, membangun sistem transparan yang menjadi antitesis masa lalu. Menyayat biaya tak perlu, mengencangkan ikat pinggang. Kepemimpinan telah tegak! Kini, bukan waktunya bertahan dalam trauma! Saatnya membangun kembali! Bersama! Bangun Bareng-Bareng!”
Tantangannya melambung tinggi, menembus awan: IAI PERSIS Bandung tak boleh terkurung dalam sangkar sempit. Kita harus melompat! Membentangkan sayap ke cakrawala ilmu tanpa batas. Reputasi harus dibangun di atas puing ketidakpercayaan masa lalu, dengan hamparan sawah karya nyata: jurnal bermutu, riset inovatif, kolaborasi pencerahan. Maka dibutuhkan para dosen pencipta, periset tangguh, penjaga api pengetahuan.
Tendik: Orkestra Sunyi yang Kembali Menemukan Irama
Jika dosen adalah jiwa akademik, maka Tenaga Kependidikan (Tendik) adalah denyut nadi yang harus pulih berdetak kencang. Mereka orkestra sunyi di balik layar, tulang punggung yang menopang. Mereka adalah roda administrasi, dan pelayan setia. Setiap lembar surat, jadwal, absensi, pelayanan—semuanya ada di ujung jemari Bapak/Ibu Tendik. Di masa kelam, sistem mungkin kacau, namun kini, di tangan kalianlah ritme baru diukir. Tanpa sigap dan loyalitas kalian, reputasi yang sedang dibangun kembali akan remuk di kaki harapan. Kalian pilar penopang kepercayaan yang harus kokoh.
Pilihan di Antara Bangkit atau Terpuruk Kembali
Maka, di tengah fajar yang masih rentan ini, dengarlah seruan yang ingin merobek selubung kepasifan:
Sadarlah! Kita baru saja terlepas dari pusaran kegelapan berkat sebuah keberanian. Di hadapan kita, hanya terbentang dua jalan takdir:
- Bersatu, mengikat erat tali persaudaraan hasil perjuangan, mengayun dayung searah irama disiplin baru, menjaga agar perahu tak kembali ke jurang.
- Atau, lengah, lalu diam-diam mengulangi bisik-bisik racun, egoisme, dan ketidakpedulian yang membawa kita kembali ke lubang yang sama.
Mari kita menghentikan segala “bola liar” bisik-bisik yang tidak produktif dan meracuni semangat kebersamaan!
Sungguh pengkhianatan terhadap perjuangan jika kita menuntut hak tanpa peduli pada upaya menambal kebocoran besar warisan kelam. Ini era “selamat bersama dan bangkit bersama” atau terpuruk kembali.
Menggenggam Warisan, Menebus Masa Lalu dengan Ikhlas
Ingatlah napas panjang perjuangan para pendiri dan keberanian para pendobrak kegelapan! Mereka bergerak dengan ikhlas dan tanggung jawab yang membara. Upah dan gaji? Tetap debu di kaki langit perjuangan jika niatnya suci. Renungkan: Jika kerja kita hari ini ternoda oleh sisa-sisa sikap masa lalu—kurang ikhlas, malas berkarya—lalu apa bedanya kita dengan bayangan kelam yang telah diperangi?
Mari Luruskan niat di hulu hati! Bekerja di kampus dakwah yang sedang pulih ini adalah ladang amal dan tebusan sejarah. Setiap keringat, setiap dedikasi, adalah kontribusi mencuci nama baik, mengubah warisan luka menjadi mutiara kehormatan, semata untuk Sang Khalik.
Dua Sayap Kebangkitan: Dosen dan Tendik dalam Satu Terbang
Kepada Para Dosen (Penyuluh di Tengah Pemulihan): Bangkitlah lebih gagah! Kobarkan semangat mencipta sebagai jawaban atas kelamnya masa lalu! Ukir pemikiran di jurnal, gali ilmu dengan riset membara, jalin kolaborasi pencerahan.
Jangan biarkan nama IAI PERSIS Bandung dikenang hanya karena skandal, tapi karena karya nyata yang menyinari peradaban.
Kepada Para Tendik (Pemulih Ritme): Kuatkan barisan! Kalian adalah ujung tombak pemulihan kepercayaan. Mari tunjukkan pelayanan prima sebagai bukti perubahan. Setiap senyum tulus, setiap efisiensi, adalah batu bata emas yang membangun kembali istana reputasi.
Kepemimpinan Baru: Transparansi Sebagai Sumpah Suci
Sekarang, para pimpinan baru berdiri di barisan terdepan dengan tangan terbuka dan hati yang bening. Masa lalu yang gelap adalah cermin yang mengerikan—kami bertekad menjadi antitesisnya. Kami bertekad tidak akan ada permainan gelap! Tak ada foya-foya di tingkat pimpinan! Karena transparansi mutlak adalah sumpah dan bendera kami. Setiap laporan terbuka lebar, setiap pertanyaan disambut, setiap audit dipersilakan. Kami tengah membangun sistem dan SOP yang kuat, jelas, adil—sebagai pagar kokoh pengahalang praktik masa lalu.
Agar kerja kita adalah tarian terarah menuju kejayaan yang terjaga. Saat ini para pemantik perubahan, kini berada di garda kepemimpinan baru menjadi penjaga gawang semangat—bukti nyata bahwa perjuangan integritas berbuah tanggung jawab yang lebih besar.
Mercusuar Kita, Warisan Perjuangan, dan Panggilan Sejarah
Bapak/Ibu Dosen. Bapak/Ibu Tendik. Kita semua adalah saksi hidup periode kegelapan dan pelaku di era kebangkitan ini. Mahasiswa dan umat menatap kita, harap mereka bagai air di padang gurun setelah kemarau panjang.
Mercusuar IAI PERSIS Bandung ini adalah milik kita bersama. Ia warisan darah para pendiri yang diselamatkan para muharrik serta kebijakan PP PERSIS, kini dirawat oleh kita semua.
Jika kita bersatu, mengayun dayung searah dengan disiplin dan ikhlas—seperti semangat yang menghidupkan gerakan penyelamatan—fajar kejayaan akan menjadi nyata.
Jika kita lengah, masa lalu yang kelam hanya menunggu untuk menyergap kembali
Genggam erat-erat amanah penyelamatan ini. Buktikan dengan karya, integritas, dan semangat tak kenal lelah bahwa kita layak mewarisi mercusuar ini dan menjaganya untuk generasi mendatang.
Kalau bukan kita, yang merasakan pahitnya masa lalu dan manisnya harapan baru—yang turut berjuang atau menyaksikan perjuangan itu—lalu siapa?
Kalau bukan sekarang, di momen penentu kebangkitan ini, lalu kapan?
IAI PERSIS Bandung — Bangkitlah dari Abu! Dengan semangat kebersamaan yang membara, selamatkan bersama, majukan bersama menuju puncak kehormatan yang baru.
Bangun Bareng-Bareng! Dengan Jiwa, Raga, dan Sejarah Perjuangan yang Kita Warisi.
Wallahu’alam.





