Website Berita dan Opini
Indeks

Bandung Jangan Sampai Kehilangan Rasa Aman

Bandung Kehilangan Rasa Aman
Ketua Umum Komunitas BBC H. Bagus Machdiantoro

Oleh H. Bagus Machdiantoro*

Dini hari, Rabu 17 Juni 2026, seorang pengendara motor bernama Ardi baru saja pulang kerja melintasi Jalan Melong Kaler, Cikawao, Kecamatan Lengkong. Dua orang berboncengan memepetnya, motor Ardi terjatuh, dan salah satu pelaku menghunus celurit serta membacoknya berkali-kali. Seorang pengemudi ojek daring yang sempat berniat menolong justru lari ketakutan begitu melihat senjata tajam itu, meninggalkan motornya sendiri dengan kunci masih menggantung. Pelaku kemudian membawa kabur motor dan ponsel sang pengemudi ojek daring. Seluruh kejadian terekam CCTV, videonya menyebar cepat di media sosial, dan dalam waktu satu jam polisi berhasil menangkap dua pelakunya.

Kasus Cikawao bukan yang pertama, dan sayangnya juga bukan yang terakhir. Sepekan menjelang pertengahan Juli 2026, Polrestabes Bandung kembali mencatat rentetan kejadian serupa. Seorang pengendara motor di Fly Over Kopo, Bojongloa Kidul, kehilangan kendaraan setelah dilukai dengan senjata tajam. Tidak lama kemudian, terjadi pula kasus di Jalan BKR ketika tiga pelaku berpura-pura sebagai debt collector sebelum merampas sepeda motor korban. Sementara itu, pada awal Juni, seorang tersangka begal di Babakan Ciparay bahkan diduga tidak hanya merampas harta benda, tetapi juga melakukan kekerasan seksual terhadap korban perempuan yang ditargetkannya pada malam hari.

Pola inilah yang membuat saya gelisah. Yang kita hadapi bukan satu insiden yang berdiri sendiri, melainkan rangkaian kejadian dengan modus yang terus berulang di titik-titik berbeda, dalam rentang waktu yang berdekatan, serta terekam dan tersebar luas di media sosial hingga membentuk persepsi kolektif warga Bandung.

Lebih dari sekadar angka kriminalitas, rangkaian peristiwa tersebut memperlihatkan bahwa Bandung kehilangan rasa aman secara perlahan. Inilah persoalan yang semestinya menjadi perhatian bersama.

Begal Bukan Lagi Kasus yang Berdiri Sendiri

Di sinilah saya melihat bahwa begal bukan semata-mata persoalan kriminalitas. Ia adalah alarm yang memberi tahu kita bahwa rasa aman sebagai salah satu fondasi kehidupan kota sedang diuji.

Rasa aman sering kali dianggap sebagai sesuatu yang otomatis ada. Padahal, ia merupakan modal sosial yang dibangun melalui kerja keras banyak pihak selama bertahun-tahun. Kita baru benar-benar menyadari nilainya ketika mulai kehilangannya. Itulah yang tampak dari cerita Ardi, dari korban di Jalan BKR, hingga perempuan yang menjadi sasaran di Babakan Ciparay.

Perubahan kecil mulai terlihat dalam kehidupan sehari-hari. Orang berpikir dua kali untuk pulang larut malam. Sebagian memilih memutar jalan agar melewati ruas yang lebih ramai. Ada pula yang merasa lebih tenang jika bepergian bersama orang lain daripada berkendara sendirian.

Baca Juga:  Ketika Elite Saling Membuka Kartu

Rasa Aman adalah Fondasi Kemajuan Kota

Persoalan ini tidak berhenti pada aspek keamanan semata. Ketika Bandung kehilangan rasa aman, dampaknya akan merembet ke berbagai sektor kehidupan.

Kita sering berbicara mengenai investasi, pertumbuhan ekonomi, pariwisata, ekonomi kreatif, hingga upaya menjadikan Bandung sebagai kota yang semakin kompetitif. Semua itu tentu penting. Namun, ada satu syarat yang sering terlupakan, yaitu tidak ada kota yang benar-benar maju apabila warganya hidup dalam ketakutan.

Investor membutuhkan kepastian. Wisatawan mencari kenyamanan. Orang tua ingin anak-anaknya dapat beraktivitas dengan aman. Mahasiswa dari berbagai daerah memilih kota yang bukan hanya memiliki kampus terbaik, tetapi juga lingkungan yang membuat mereka merasa terlindungi. Pekerja yang harus pulang dini hari—seperti Ardi maupun pengemudi ojek daring yang menjadi korban di Cikawao—berhak merasakan hal yang sama.

Karena itu, ketika isu begal kembali menjadi percakapan sehari-hari, sesungguhnya yang dipertaruhkan bukan hanya keselamatan individu. Yang ikut dipertaruhkan adalah citra Bandung sebagai kota yang layak dihuni, dikunjungi, dan dijadikan tempat membangun masa depan.

Oleh sebab itu, pembahasan mengenai begal seharusnya tidak berhenti pada kronologi kejahatan semata. Kita juga perlu melihat dampaknya terhadap kehidupan kota secara keseluruhan.

Keberhasilan Tidak Cukup Diukur dari Banyaknya Pelaku yang Ditangkap

Saya juga melihat bahwa kita perlu berhati-hati agar tidak menyederhanakan persoalan ini. Menangkap pelaku tentu merupakan langkah yang mutlak diperlukan. Bahkan, respons kepolisian dalam kasus Cikawao yang berhasil menangkap pelaku hanya sekitar satu jam setelah kejadian patut diapresiasi karena menunjukkan kemampuan aparat bertindak cepat.

Namun demikian, ukuran keberhasilan sebuah kota dalam menghadapi kriminalitas tidak cukup dihitung dari banyaknya pelaku yang ditangkap.

Ukuran yang lebih penting adalah apakah masyarakat kembali merasa aman. Apakah seorang ibu tidak lagi cemas ketika anaknya pulang malam setelah mengikuti kegiatan kampus? Apakah pekerja yang selesai bertugas pada dini hari dapat kembali ke rumah tanpa dihantui rasa takut?

Jika jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut masih belum sepenuhnya “ya”, berarti pekerjaan kita belum selesai.

Pendekatan seperti inilah yang menurut saya perlu menjadi orientasi utama dalam kebijakan keamanan perkotaan.

Apalagi, pola lokasi kejadian mulai dapat dipetakan. Cikawao, Jalan BKR, dan Fly Over Kopo merupakan ruas yang relatif sepi pada jam-jam tertentu serta sering dilalui pekerja shift malam maupun pengemudi ojek daring.

Karena itu, perhatian seharusnya diarahkan pada langkah-langkah yang lebih terukur. Pemerintah daerah bersama kepolisian dapat melakukan audit terhadap titik-titik rawan tersebut. Mulai dari kualitas pencahayaan jalan, cakupan CCTV publik, hingga pola patroli yang disesuaikan dengan jam-jam rawan berdasarkan data yang dimiliki aparat. Persoalan ini bukan semata-mata soal membuat aturan baru, melainkan memastikan langkah-langkah yang sudah dapat dipetakan benar-benar dijalankan secara konsisten.

Baca Juga:  PLTSa dan Ujian Ekonomi Sirkular Majalengka

Begal Adalah Gejala Persoalan yang Lebih Besar

Di sisi lain, kita juga perlu jujur mengakui bahwa fenomena begal tidak lahir dari ruang hampa.

Kejahatan jalanan sering kali merupakan gejala dari persoalan sosial yang lebih kompleks. Perubahan karakter kota, melemahnya kontrol sosial di sebagian lingkungan, tekanan ekonomi, hingga berkurangnya kepercayaan antarwarga dapat menjadi faktor yang menciptakan ruang bagi tumbuhnya kriminalitas.

Tentu saja, hal-hal tersebut tidak dapat dijadikan pembenaran bagi pelaku kejahatan. Akan tetapi, faktor-faktor itu juga tidak boleh diabaikan apabila kita ingin menghadirkan solusi yang benar-benar berkelanjutan.

Karena itu, penyelesaiannya harus dilakukan secara menyeluruh, bukan hanya bersifat reaktif setiap kali muncul kasus yang viral.

Jangan Biarkan Ketakutan Menjadi Hal yang Normal

Yang paling saya khawatirkan bukan hanya bertambahnya kasus kriminalitas. Yang lebih mengkhawatirkan adalah ketika masyarakat mulai menganggap rasa takut sebagai sesuatu yang normal.

Kalimat seperti, “Jangan lewat jalan itu kalau malam,” mungkin terdengar sederhana. Namun, apabila ungkapan seperti itu semakin sering kita dengar—ditambah video-video aksi begal yang terus beredar luas tanpa diimbangi rasa aman yang kembali pulih—berarti standar keamanan kota kita sedang bergeser. Kita perlahan menyesuaikan hidup dengan ketakutan, bukan mengembalikan kota pada kondisi yang semestinya aman.

Kota yang sehat tidak meminta warganya terus-menerus beradaptasi dengan ancaman. Sebaliknya, kota yang baik menghadirkan sistem yang memungkinkan masyarakat menjalani aktivitas sehari-hari secara normal tanpa dihantui rasa cemas.

Menjaga Rasa Aman Berarti Menjaga Masa Depan Bandung

Sebagai bagian dari komunitas masyarakat, saya percaya bahwa modal terbesar Bandung bukan hanya kreativitas warganya, melainkan juga kepercayaan yang selama ini tumbuh di antara mereka. Kepercayaan bahwa anak-anak dapat berangkat dan pulang dengan selamat. Kepercayaan bahwa setiap orang memiliki hak yang sama untuk menggunakan ruang publik tanpa rasa takut.

Begal memang merampas kendaraan maupun harta benda. Namun, dampak yang jauh lebih besar adalah ketika kejahatan itu ikut merampas kepercayaan masyarakat terhadap kotanya sendiri. Itulah sebabnya, persoalan Bandung kehilangan rasa aman harus dipandang sebagai tantangan bersama, bukan sekadar persoalan kriminalitas yang datang dan pergi.

Bandung tidak boleh sampai kehilangan rasa aman. Sebab, ketika rasa aman memudar, yang hilang bukan hanya ketenangan warga, melainkan juga salah satu fondasi terpenting bagi kemajuan kota. Menjaga rasa aman berarti menjaga martabat Bandung sebagai kota yang layak dihuni, dicintai, dan diwariskan kepada generasi berikutnya.

*Penulis adalah Ketua Umum Komunitas Buah Batu Corps (BBC).

Editor: San

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *