Website Berita dan Opini
Indeks
IAIPI  

Dari Ruang Kelas ke Ruang Kehidupan

Dari Ruang Kelas ke Ruang Kehidupan
DPL Berfoto Bersama KKN Kelompok 3 Desa Ciluluk di IAI Persis Bandung (dokumen penulis)

Refleksi KKN Kelompok 3 Desa Ciluluk, Kecamatan Cikancung

Kuliah Kerja Nyata (KKN) bukan sekadar kegiatan mahasiswa meninggalkan kampus, melaksanakan program, kemudian kembali membawa laporan. KKN adalah perjalanan dari ruang kelas ke ruang kehidupan—ketika pengetahuan, teori, dan pengalaman akademik berhadapan langsung dengan realitas masyarakat.

KKN Kelompok 3 di Desa Ciluluk, Kecamatan Cikancung, telah selesai dilaksanakan. Secara administratif kegiatan telah berakhir, mahasiswa telah kembali ke kampus, dan program-program telah diselesaikan. Namun, secara substantif, KKN tidak benar-benar selesai. Pengalaman hidup bersama masyarakat akan tetap menjadi bagian dari cara mahasiswa memahami kehidupan.

Dalam perspektif hermeneutika Heidegger, manusia tidak pernah berhadapan dengan realitas dalam keadaan kosong. Ia selalu membawa Vorhabe, Vorsicht, dan Vorgriff—bekal pengetahuan, cara pandang, serta pemahaman atau harapan awal dalam memahami sesuatu.

Dari Pengetahuan Menuju Pemahaman

Mahasiswa datang ke Desa Ciluluk membawa Vorhabe: ilmu dari ruang kuliah, teori, pengalaman organisasi, keterampilan, dan berbagai pemahaman tentang masyarakat.

Namun, kehidupan nyata sering kali lebih kompleks daripada teori. Di ruang kelas masyarakat dipahami melalui konsep, sedangkan di lapangan masyarakat hadir sebagai manusia nyata dengan kebutuhan, pengalaman, harapan, tradisi, dan persoalannya sendiri.

KKN akhirnya menjadi ruang untuk menguji dan memperkaya pengetahuan. Mahasiswa belajar bahwa masyarakat bukan objek yang harus “diperbaiki”, melainkan subjek yang memiliki pengetahuan dan pengalaman yang juga patut dipelajari.

Belajar Mengubah Cara Pandang

Melalui Vorsicht, mahasiswa menyadari bahwa realitas dipahami berdasarkan cara pandang tertentu. Persoalan masyarakat dapat dilihat secara berbeda dari perspektif pendidikan, komunikasi, keagamaan, ekonomi, maupun sosial.

Karena itu, KKN tidak cukup hanya bertanya, “Apa yang akan kami berikan?”, tetapi juga, “Apa yang dapat kami pelajari dari masyarakat?”

Baca Juga:  IAI PERSIS Bandung Gelar Kuliah Umum Iqra’ Bismirabbik 5.0

Pertanyaan tersebut mengubah posisi mahasiswa: dari pihak yang merasa mengetahui menjadi pihak yang bersedia mendengar, memahami, dan belajar bersama masyarakat.

Ketika Harapan Bertemu Kenyataan

Mahasiswa juga datang dengan Vorgriff—rencana, harapan, dan pemahaman awal tentang apa yang ingin dicapai. Tetapi realitas Desa Ciluluk mengajarkan bahwa tidak semua yang direncanakan berjalan persis seperti yang dibayangkan.

Di sinilah terjadi proses hermeneutis: pemahaman awal bertemu kenyataan, kenyataan mengoreksi pemahaman, lalu lahir pemahaman baru.

KKN karena itu bukan hanya proses memberi kepada masyarakat, tetapi juga proses menerima pengalaman dan belajar dari kehidupan masyarakat.

Mahasiswa membawa ilmu, masyarakat memberikan pengalaman. Mahasiswa membawa program, masyarakat memperkenalkan realitas.

Pulang Membawa Pemahaman

Desa Ciluluk akhirnya bukan hanya menjadi lokasi KKN, tetapi menjadi ruang pembelajaran kehidupan.

Mahasiswa pulang ke kampus bukan hanya membawa laporan kegiatan, tetapi juga membawa pengalaman, cerita, dan cara pandang yang mungkin telah berubah. Sesuatu yang tidak semuanya dapat ditemukan dalam buku dan ruang perkuliahan.

KKN telah selesai, tetapi pembelajarannya belum. Sebab pendidikan tidak hanya terjadi ketika mahasiswa duduk di ruang kelas. Pendidikan juga terjadi ketika mereka hadir, mendengar, mengalami, dan belajar bersama masyarakat.

Dari ruang kelas mahasiswa membawa ilmu.
Di ruang kehidupan ilmu itu diuji.
Dan dari ruang kehidupan mahasiswa kembali membawa pemahaman.

Bravo KKN Kel. 3 Desa Ciluluk.

DPL
A. Badru Rifa’i. M.Hum.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *