Website Berita dan Opini
Indeks
IAIPI  

Media dan Politik: Ketika Partai Islam Bernegosiasi dengan Logika Media Sosial

Media dan Politik
Dr. Nurdin Qusyaeri, M. Si berfoto bersama setelah mempertahankan sidang promosi doktor di UIN Sunan Gunung Djati Bandung, 26 Agustus 2026

Oleh Dr. Banan Nailin Najihah, MA

Sidang terbuka promosi Dr. Nurdin Qusyaeri, M.Si. di UIN Sunan Gunung Djati Bandung berlangsung penuh khidmat dan dihadiri oleh banyak penonton dari berbagai kalangan, mulai dari akademisi, praktisi media, hingga pengurus Partai Keadilan Sejahtera (PKS) datang memberikan dukungan moral.

Ruang sidang tampak sesak oleh undangan yang antusias menyaksikan momen bersejarah bagi putra terbaik Garut tersebut. Suasana haru dan bangga menyelimuti ruangan ketika promotor utama dalam sambutannya menyanjung Nurdin sebagai putra Garut yang hebat, yang telah berhasil menyelesaikan perjalanan akademik panjang dengan disertasi yang cemerlang secara teoretis dan relevan secara praktis bagi dinamika politik Islam di Indonesia.

Sidang yang berlangsung selama lebih dari dua jam itu menjadi panggung pembuktian bahwa perjuangan doktoral Nurdin selama bertahun tahun telah membuahkan hasil yang gemilang di hadapan para penguji yang terdiri dari profesor dan pakar di bidang studi agama dan media.

Perjalanan Nurdin Qusyaeri menuju gelar doktor melalui perjalanan yang penuh tantangan. Dari proses pengajuan proposal, penelitian lapangan yang memakan waktu, hingga penulisan disertasi yang melewati berbagai tahap ujian yang ketat, semuanya dijalani dengan kesabaran dan ketekunan yang luar biasa.

Sepanjang proses tersebut, Nurdin terus berpegang pada keyakinannya bahwa studi agama dan media membutuhkan pendekatan yang tidak terjebak pada dikotomi sempit antara perubahan dan perlawanan.

Ketika banyak peneliti lain cenderung memilih salah satu kutub antara kontinuitas dan transformasi, Nurdin justru berani merumuskan jalan tengah yang lebih produktif melalui konsep negosiasi dialektis.

Keberanian Intelektual dalam Disertasi

Keberanian intelektual inilah yang akhirnya membuat disertasinya dinilai sebagai terobosan penting oleh para promotor dan penguji, yang mengapresiasi kemampuannya menggabungkan teori Living Religion dari McGuire dan Mediatisasi dari Hjarvard menjadi sebuah kerangka analitis yang utuh.
>Disertasi yang berjudul “Mediatisasi Identitas Politik Islam: Adaptasi dan Akomodasi Logika Media Sosial pada Partai Keadilan Sejahtera” ini mengungkap temuan tentang bagaimana PKS melakukan negosiasi di media sosial.

Baca Juga:  Penyatuan Kampus PERSIS, Solusi Cerdas atau Masalah Baru

Di tengah gempuran logika digital yang menuntut visualitas, kecepatan, personalisasi, dan interaktivitas, PKS ternyata tidak serta merta mengubah nilai nilai Islamnya, tetapi secara cerdas menyesuaikan cara representasi mereka. Penelitian yang menganalisis 127 postingan PKS sepanjang tahun 2025 hingga 2026 ini menemukan bahwa partai tersebut melakukan adaptasi struktural dengan membentuk bidang Komdigi, perubahan simbolik melalui pembaruan identitas visual dan logo, serta inovasi teknologis seperti PKS TV dan PKSArt.

Namun yang lebih menarik adalah temuan tentang strategic resistance yang dijalankan melalui institusi internal seperti Majelis Syura, Dewan Syariah, dan Dewan Pertimbangan yang memastikan bahwa adaptasi tidak pernah melampaui batas nilai nilai tarbiyah yang menjadi fondasi gerakan PKS.

Temuan lain yang mengesankan dari disertasi Nurdin adalah bagaimana nilai nilai fundamental Islam diterjemahkan ulang ke dalam bahasa isu isu publik kontemporer tanpa kehilangan esensi spiritualnya. Rahmah diobjektifikasi menjadi kemanusiaan, ukhuwah menjadi kerukunan, khalifah menjadi ekologi, amanah menjadi integritas, maslahah menjadi kemanfaatan, dan keadilan menjadi perlindungan.

Temuan ini membuktikan bahwa PKS mampu menjaga kontinuitas nilai di tengah arus transformasi media yang deras, sebuah pencapaian yang membuat promotor terkesan dan menyebut Nurdin sebagai putra Garut yang berhasil menjembatani dunia akademik dengan realitas sosial politik.

Rujukan Penting bagi Studi Agama dan Media di Indonesia

Bahkan dalam sambutan penutupnya, sang promotor menyatakan bahwa Nurdin Qusyaeri berhak menyandang gelar doktor dan penelitiannya berpotensi menjadi rujukan penting bagi studi agama dan media di Indonesia karena berhasil memecahkan puzzle akademik yang selama ini menghantui para peneliti, yaitu bagaimana agama bisa tetap relevan dan mempertahankan jati dirinya di era digital yang serba cair.

Baca Juga:  Yeni Hendriyani dan Gagasan "Dua Pintu" untuk Menjaga Kehalalan Makanan

Kontribusi terbesar dari penelitian Nurdin terletak pada model negosiasi dialektis yang ia tawarkan sebagai kerangka baru dalam memahami relasi agama dan media.

Model ini menunjukkan bahwa transformasi representasi identitas politik Islam bukanlah akibat dominasi logika media sosial secara sepihak, melainkan hasil negosiasi aktif yang dikelola melalui agensi organisasi.

Dengan kata lain, yang berubah adalah cara agama direpresentasikan, sedangkan yang dipertahankan adalah kontinuitas nilai. Penemuan ini membawa implikasi luas tidak hanya bagi studi akademik tetapi juga bagi praktik komunikasi politik partai partai Islam di Indonesia.

Mediatisasi Tidak Harus Dimaknai sebagai Ancaman bagi Identitas Keagamaan

Nurdin berhasil membuktikan bahwa mediatisasi tidak harus dimaknai sebagai ancaman bagi identitas keagamaan, melainkan sebagai ruang negosiasi yang dapat dimanfaatkan untuk memperluas pengaruh dan relevansi nilai nilai Islam di ruang publik. Gagasan ini menjadi sorotan utama dalam sesi tanya jawab dan mendapat apresiasi mendalam dari para penguji yang menganggapnya sebagai sumbangan orisinal bagi pengembangan keilmuan.

Di akhir sidang yang penuh haru, Nurdin Qusyaeri resmi menyandang gelar doktor dengan predikat sangat memuaskan.

Dalam pidato singkatnya, Nurdin menyampaikan rasa terima kasih yang mendalam kepada promotor, keluarga, dan seluruh pihak yang telah mendukung perjalanan panjangnya. Ia juga berpesan bahwa penelitian ini hanyalah awal dari pengabdian yang lebih luas bagi pengembangan studi agama dan media di Indonesia.

Sang promotor kembali mengulangi sanjungannya, menyebut Nurdin sebagai putra Garut yang hebat yang telah mengharumkan nama daerahnya.

Dengan disertasi ini, Nurdin meninggalkan warisan pemikiran yang akan terus menginspirasi generasi peneliti selanjutnya. Terutama mereka yang tertarik untuk memahami dinamika negosiasi antara agama, politik, dan media di era transformasi digital yang terus bergerak cepat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *