Website Berita dan Opini
Indeks

Ungkapan Terimakasih dari sebuah Perjalanan Panjang

Ungkapan Terimakasih dari sebuah Perjalanan Panjang
Foto Humas IAI: Nurdin Qusyaeri bersama tim Penguji sesaat setelah pembacaan Yudicium, Rabu 26 Agustus 2026

 

Alhamdulillah.

Hari ini saya sampai pada satu titik yang sesungguhnya tidak pernah saya tempuh sendirian. Gelar doktor mungkin tertulis atas nama saya.

Tetapi di belakangnya ada begitu banyak nama, doa, pengorbanan, dan kasih sayang yang tidak mungkin seluruhnya saya tuliskan.

Ada yang mengajarkan ilmu. Ada yang membuka jalan. Ada yang menemani dalam lelah.

Ada yang menguatkan ketika langkah terasa berat, dunia terasa sumpek.

Ada juga teman-teman di kampus, di lembaga sosial, keluarga besar yayasan, alumni, dosen, tenaga kependidikan, para pimpinan, dan sahabat-sahabat yang dengan berbagai cara telah ikut menjaga perjalanan ini.

Ada yang memberi waktu, ada yang memberi pikiran, memberi semangat. Ada yang ……

Ada yang memberi karangan bunga, bingkisan, parsel, bahkan sekotak cokelat sebagai tanda sayang.

Hadir pula orang-orang baik yang diam-diam menopang perjalanan ini secara materi, ketika biaya pendidikan dan berbagai kebutuhan studi terasa tidak ringan. Saya tidak ingin menyebut besar kecilnya pemberian itu.

Sebab bagi saya, nilai sebuah pemberian bukan terletak pada jumlahnya, tetapi pada ketulusan ketika seseorang memilih hadir di saat kita membutuhkan.

Ada yang membantu dengan hartanya. Ada yang membantu dengan tenaganya. Ada yang membantu dengan waktunya.

Dan ada yang mungkin tidak pernah memberikan apa-apa secara kasat mata, tetapi setiap saat ia selalu melangitkan doa untuk saya.

Saya percaya, sebagian jalan yang terasa mudah dalam perjalanan ini bukan karena saya kuat, tetapi karena ada doa yang diam-diam bekerja di langit.

Untuk Keluarga 

Ada empat nama yang rasanya tidak boleh saya lewatkan begitu saja: istri saya dan tiga putra saya.

Kepada istriku, terima kasih karena selama perjalanan panjang ini, engkau bukan hanya menjadi istri. Engkau menjadi rumah.

Ketika waktu saya habis untuk membaca, menulis, menghadiri bimbingan, penelitian, sidang, dan berbagai urusan akademik, engkau belajar memahami bahwa tidak semua waktu saya bisa menjadi milik keluarga.

Banyak waktu yang seharusnya menjadi waktu kita, akhirnya menjadi waktu untuk disertasi.

Banyak akhir pekan yang seharusnya menjadi waktu bersama, berubah menjadi waktu membaca dan menulis, dan meja-pun dipenuhi buku-buku referensi.

Baca Juga:  Tangis di Ujung Selempang

Bahkan ketika keluarga ingin pergi berlibur, bermain, atau sekadar berkumpul, abah sering kali tidak sepenuhnya hadir. Dan engkau tidak banyak menuntut. Engkau memilih memahami.

Terima kasih karena telah bersabar terhadap suami yang sedang mengejar targetannya, tetapi kadang lupa bahwa keluarganya juga sedang menunggu waktunya pulang.

Dan untuk tiga putraku— Sabda Mahardika Munggaran, Qalam Maula Haroki, Maula Natsir Islamadina, Maafkan Abah hidep.

Ada masa ketika kalian mungkin ingin bermain bersama Abah, tetapi harus membaca.

Ada liburan yang mungkin ingin kalian nikmati bersama, tetapi Abah membawa laptop dan buku.

Ada cerita kalian yang mungkin seharusnya didengar lebih lama, tetapi perhatian Abah terpotong oleh pekerjaan akademik.

Kalian mungkin tidak pernah menulis satu halaman pun dari disertasi ini. Tetapi sesungguhnya, ada bagian dari disertasi ini yang ditulis dengan waktu bermain kalian yang Abah pinjam.

Maka kalimat itu yang paling ingin saya ingat.

Gelar ini bukan hanya dibayar dengan biaya kuliah dan bertahun-tahun belajar. Ia juga dibayar dengan waktu keluarga.

Karena itu, jika suatu hari kalian melihat Abah memakai gelar doktor di belakang nama, jangan melihatnya hanya sebagai pencapaian Abah.

Di sana ada kesabaran umi kalian. Ada waktu bermain yang pernah kalian relakan. Ada liburan yang pernah terganggu. Ada kebersamaan yang pernah tertunda. Maka sebenarnya gelar ini juga milik kalian.

Untuk Orang Tua Dan di atas semuanya_Bapak dan Ibu

Saya tahu, Ema-Apa tidak pernah meminta saya menjadi doktor. Mereka taunya bahwa saya adalah kuliah S3. Tetapi doa orang tua sering kali bekerja tanpa banyak suara.

Jika hari ini saya berdiri di titik ini, sesungguhnya ada doa Ema-Apa yang lebih dahulu berjalan daripada langkah saya. Bahkan bukan hanya itu, mereka juga memberi materi untuk pembiayaan.

Gelar ini saya persembahkan untuk kalian. Sebab sebelum ada gelar di belakang nama saya, ada nama kalian yang lebih dahulu menjadi alasan saya terus berjalan.

Untuk Mereka yang Pernah Menolong

Saya juga ingin menyampaikan terima kasih secara khusus kepada seorang adik, seorang pengusaha, Nadya Hendra Nur Ichsan yang memberikan dukungan besar untuk menuntaskan perjalanan pendidikan ini.

Baca Juga:  Mengenal Diri Lewat Jendela Johari: Seni Menjadi Pribadi yang Lebih Terbuka dan Tulus

Selain itu, saya juga harus menyebut dua nama yang cukup berjasa besar bukan hanya di akhir perjalanan akademik ini tapi juga dalam karir saya, kang Najib dan kang Khoer (keduanya anggota DPR RI fraksi PAN). Bantuan mereka datang pada saat yang tepat.

Banyak pula mereka yang telah menopang pendanaan akhir akademik saya ini yang gak bisa saya absen satu persatu.

Dan saya belajar dari sana:

Bahwa kadang Allah tidak mengirimkan pertolongan dalam bentuk mukjizat. Ia mengirimkannya melalui tangan orang-orang baik.

Semoga Allah membalasnya dengan keberkahan yang berlipat.

Penutup

Akhirnya, saat ini saya tidak ingin mengatakan bahwa “Saya telah berhasil.” Saya malah ingin  mengatakan:

“Alhamdulillah, saya telah ditolong oleh begitu banyak orang baik untuk sampai di sini.”

Kenapa? Karena telah begitu banyak  pertolongan yang datang dalam berbagai bentuk: Bentuk uang, bentuk ilmu, bentuk waktu, bentuk bingkisan, bentuk kesabaran.

Dan ada juga yang datang dalam bentuk doa yang tidak pernah saya dengar, tetapi mungkin justru itulah yang paling banyak menolong saya.

Maka hari ini, gelar doktor ini saya kembalikan kepada mereka semua. Kepada guru-guru yang mengajarkan ilmu. Kepada sahabat yang menguatkan. Kepada keluarga yang menunggu. Kepada istri yang bersabar. Kepada anak-anak yang merelakan waktunya. Kepada orang tua yang tidak pernah berhenti mendoakan. Dan kepada orang-orang baik yang hadir diam-diam di sepanjang perjalanan.

Sebab saya mengerti bahwa sebuah gelar boleh ditulis dengan satu nama.

Tetapi sebuah perjalanan menuju kepadanya selalu ditopang oleh banyak hati.

Terima kasih telah menjadi bagian dari perjalanan saya.

Semoga setiap waktu yang kalian relakan, setiap rupiah yang kalian keluarkan, setiap bingkisan yang kalian kirimkan, setiap perhatian yang kalian berikan, dan terutama setiap doa yang kalian langitkan, kembali kepada kalian dalam bentuk keberkahan yang jauh lebih indah.

Jazakumullahu khairan katsiran.

Salam baktos,

Nurdin Qusyaeri

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *