Tangis di Ujung Selempang

Tangis diujung selempang
Foto Penulis: Para peserta sidang Munaqosah IAI PERSIS Bandung tahun 2025

Oleh Popi Sri Mulyani 

Mencoba melangkah…

meski lutut gemetar dan dada sesak oleh ragu.

Kami tahu, kaki ini rapuh, tapi tetap harus berjalan…

karena waktu tidak pernah menunggu yang takut.

Sidang Munaqasyah, dua kata yang menghantui malam-malam kami, membuat tidur tak pernah nyenyak, membuat sarapan terasa hambar, dan membuat kami berdoa lebih panjang .

Di lorong kampus itu, kami duduk berjejer, diam-diam menggenggam tangan sendiri, berpura-pura kuat di hadapan teman yang sama-sama gemetar.

Tapi dalam hati, berdebar tak karuan, mual, pusing tujuh keliling, seperti hendak runtuh…

namun kami tahu, kami harus tetap berdiri.

Di balik pintu ruangan itu, ada ujian paling menegangkan dalam hidup kami.

Meja yang menyeramkan, tatapan penguji yang tajam seperti pisau, pertanyaan yang seolah ingin mencabik segala keyakinan yang kami punya.

Kami datang dengan naskah skripsi penuh coretan,

ditulis dengan air mata, diedit dengan letih, direvisi sambil menggendong anak, sambil menyeka peluh di dapur, sambil menahan kantuk di tengah malam.

Tapi di ruangan itu, semuanya diuji.

Tak ada lagi yang bisa disembunyikan.

Tak ada lagi tempat untuk lari.

Hanya kami, karya kami, dan keberanian untuk mempertahankannya.

Ya, kadang penguji terlalu tajam, seolah lupa bahwa kami juga manusia. Ya, kadang revisi seperti tak ada ujungnya.

Namun kami tahu, inilah harga dari sebuah pencapaian.

Dan ketika hasil itu diumumkan… ketika satu per satu nama kami dipanggil, tangan ini tak kuasa menahan tangis, bukan karena nilai, bukan karena angka, tapi karena kami berhasil—menjawab semua keraguan yang dulu menghantui kami.

Ternyata kami bisa.

Ternyata kami mampu.

Ternyata kami layak berada di titik ini.

Titik yang tak pernah mudah, titik yang kami capai dengan darah, air mata, dan kesabaran yang diuji berulang kali.

Bukan karena kami hebat,

tapi karena kami saling menopang.

Karena kami tidak berjalan sendiri.

Karena kami ibu-ibu KPI Tamhied 23,

yang saling menguatkan di tengah badai,

yang saling menyalakan cahaya saat satu lilin hampir padam.

Kini, kami berdiri dengan selempang di dada, bukan hanya sebagai simbol kemenangan, tapi sebagai bukti bahwa tak ada yang tak mungkin bagi yang terus melangkah.

Kami bukan lagi sekadar ibu rumah tangga, kami kini juga sarjana,

dan yang lebih penting—kami adalah bukti hidup bahwa mimpi tak mengenal usia, dan ilmu tak mengenal batas.

Selamat untuk kita semua… yang pernah merasa tak sanggup, tapi tetap melangkah.

Yang pernah menangis dalam diam, tapi tetap berdiri.

Kini, mari kita sambut babak baru kehidupan.

Dengan kepala tegak, dengan hati yang penuh syukur, dan dengan tekad yang tak akan pernah padam: untuk terus belajar, untuk terus memberi makna, dan untuk terus menjadi cahaya.

Baca Juga:  Hanya dengan Melepaskan, Kau akan Menemukan Damai

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *