
Oleh Popi Sri Mulyani*
Di tengah rutinitas akademik yang sering kali kaku dan formal, kelas KPI B 23 menghadirkan sesuatu yang berbeda. Sebuah kelas yang istimewa, bukan hanya karena isinya para ibu-ibu tangguh yang tetap semangat menuntut ilmu di tengah kesibukan rumah tangga, tetapi juga karena kebersamaan mereka menciptakan ritual baru yang menyentuh hati: botram.
Botram, istilah khas Sunda untuk makan bersama secara lesehan, menjadi simbol persaudaraan dan kehangatan di antara mahasiswa dan dosen. Tidak ada lagi jarak antara yang mengajar dan yang diajar. Di atas tikar dan di tengah hidangan sederhana yang dibawa bersama-sama, sekat-sekat akademik runtuh. Gelar, jabatan, dan usia melebur menjadi tawa, cerita, dan rasa syukur.
Kelas KPI B 23 bukan sekadar tempat belajar teori komunikasi, tetapi juga tempat praktik langsung bagaimana nilai-nilai komunikasi interpersonal terjalin dalam suasana yang penuh kekeluargaan. Ritual botram menjadi ruang tanpa kasta. Sebuah pertemuan jiwa yang menguatkan, menghibur, dan menyegarkan.
Setiap suapan dalam botram di kelas KPI B 23 bukan hanya tentang rasa, tetapi tentang kenangan. Ibu-ibu mahasiswa yang sebelumnya datang dari berbagai latar belakang kini merasa memiliki rumah kedua: kampus. Makanan menjadi perekat, simbol cinta, dan wujud syukur karena masih diberi kesempatan untuk belajar dan berkembang.
Tak jarang, momen botram di kelas KPI B 23 menjadi detik-detik paling dirindukan. Ada yang mengenang kepala kambing, ada juga yang mengenang lalapan. Di saat semua kembali pada kesibukan masing-masing, kenangan botram-lah yang kerap muncul dan mengundang senyum. Rasanya ingin lagi, lagi, lagi, dan lagi…
Semoga ritual ini tidak hanya dikenang, tetapi juga menginspirasi kelas-kelas lain untuk membangun kebersamaan yang tulus. Karena sejatinya, pendidikan adalah pertemuan hati, bukan sekadar transfer ilmu.
*Penulis Mahasiswi KPI IAI Persis Bandung






