
Oleh Popi Sri Mulyani*
Kadang dunia terasa terlalu sempit untuk dada yang sesak oleh harap,
karena kita terlalu menggantungkan jiwa pada yang fana,
pada manusia yang berubah-ubah, pada cinta yang rapuh,
pada kehadiran yang sewaktu-waktu bisa berubah jadi kehilangan.
Kita lupa—bahwa tak ada satu pun yang tinggal selamanya.
Pasangan bisa pergi, anak bisa tumbuh dan menjauh,
orang tua bisa kembali kepada-Nya lebih cepat dari dugaan,
dan harta—tak lebih dari debu yang beterbangan saat angin ujian datang.
Segalanya… hanya titipan.
Diberi bukan untuk dimiliki, tapi untuk diuji,
diberi bukan untuk dilekati, tapi untuk disyukuri.
Lalu tiba saatnya, semua akan kembali.
Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un…
Lepaskan dengan air mata,
tapi jangan biarkan air mata itu menenggelamkan keyakinanmu.
Karena takdir Allah tak pernah keliru,
hanya kita yang tak sabar menanti makna di balik luka.
Belajarlah ikhlas, meski hatimu terkoyak,
belajarlah ridho, meski kenyataan tak seindah doa.
Sebab berharap pada makhluk, hanya memperbesar kecewa,
tapi berharap pada Allah—itulah kekuatan sejati yang tak pernah runtuh.
Ketika dunia tak lagi ramah,
ketika semua orang satu per satu menjauh,
Allah tetap ada…
di tempat yang paling dekat: hatimu yang bersujud.
Maka bangkitlah, wahai jiwa yang sedang patah,
berhentilah mengejar yang tak kekal,
dan mulailah mencintai yang abadi.
Karena hanya dengan melepaskan, kau akan menemukan damai.
Karena hanya dengan ikhlas, kau akan menemukan Tuhan.
*Penulis adalah mahasiswa KPI B semester VIII






