Website Berita dan Opini
Indeks

Ketika Silent Treatment Pasangan Suami Istri Berujung Komedi Pagi Hari

Ketika Diam Menjadi Perang Drama Subuh Sepasang suami istri
Ilustrasi Foto: Seorang wanita berselimut seolah berpaling dengan pasangannya karena sedang “genjatan senjata”

 

Oleh Nurdin Qusyaeri

Dalam dunia rumah tangga, ada seni yang disebut silent treatment. Seni ini biasanya terjadi setelah pertengkaran kecil, yang kalau dilihat dari luar, seringkali lebih lucu daripada dramatis. Salah satu kisah epik yang tercatat dalam sejarah rumah tangga adalah cerita pasangan suami istri ini.

Malam itu, suasana hening menyelimuti rumah mereka. Setelah cekcok adu argumen sengit tentang topik yang mungkin hanya Tuhan dan mereka yang tahu, keduanya memutuskan untuk berbicara lewat bahasa universal, diam.

Tapi, sebagai makhluk yang tak mungkin abadi dalam keheningan, sang suami akhirnya mengambil langkah pertama. Tentu saja, bukan dengan bicara—itu terlalu mainstream.

Dengan gaya penuh gengsi, dia mengambil secarik kertas, menuliskan pesan penuh perhitungan, dan menyodorkannya ke istri. Pesannya berbunyi:
“Bangunkan aku pada jam7 pagi.”

Sang istri membaca kertas itu tanpa mengubah ekspresi wajahnya. Tidak ada anggukan, tidak ada senyum, bahkan tidak ada suara “huh” yang biasanya keluar saat malas menanggapi. Hanya tatapan datar khas profesional silent treatment.

Merasa misi telah selesai, sang suami pun tidur nyenyak, yakin bahwa perintah tertulisnya akan dilaksanakan dengan sempurna.

Pagi harinya, sang suami terbangun karena sinar matahari yang menusuk wajahnya. Dia langsung teringat tugas penting yang harus diselesaikan pagi itu. Dengan panik, dia melirik jam dinding.

Jam menunjukkan pukul 9 pagi.

“APA?! Kok aku nggak dibangunin?! Wah  ini sabotase namanya!” pikirnya.

Sambil mengumpat dalam hati, dia bangkit dengan tergesa-gesa. Tapi, tunggu. Ada sesuatu yang membuatnya tertegun. Di atas bantal, terselip secarik kertas kecil yang ditulis dengan rapi oleh sang istri.

“Ayo segera bangun, sekarang sudah pukul 7 pagi.”

Sang suami terpaku membaca pesan itu. Antara kesal, kagum, dan ingin tertawa. Dia tak bisa memutuskan apakah ini pembalasan paling cerdik atau bukti bahwa dia baru saja kalah telak dalam permainan “siapa yang lebih diam”.

Baca Juga:  Akal yang Ditinggalkan, Kebodohan yang Dirayakan

Sementara itu, di ruang makan, sang istri terlihat santai menikmati sarapan. Dengan wajah penuh kepuasan, dia menyeruput teh Upet Wangi Melati  sambil membaca koran, seolah berkata, “Mission accomplished.”

Sang suami hanya bisa menghela napas. Dia tahu, dalam dunia silent treatment, istrinya adalah grandmaster yang tak terkalahkan. Gehel..

Pesan moral yang dapat diambil adalah, dalam rumah tangga, komunikasi itu penting. Tapi kalau sedang perang dingin, gunakan strategi yang kreatif. Hanya saja, pastikan Anda tidak ketinggalan jam seperti sang suami ini.

Cag!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *