
Oleh Nurdin Qusyaeri
Di zaman ketika manusia merasa paling pintar justru saat berhenti berpikir, Sayyidina Ali bin Abi Thalib berdiri jauh di depan sejarah dan berkata tanpa basa-basi: tiada kekayaan yang paling utama selain akal.
Kalimat ini hari ini terdengar seperti ejekan halus bagi peradaban yang gemar memuja angka tetapi alergi pada makna.
Kita hidup di era orang kaya tetapi miskin nalar. Harta menumpuk, tetapi pertimbangan ambruk. Jabatan menjulang, tetapi kebijaksanaan tak pernah naik kelas. Akal dibiarkan berdebu, sementara keserakahan dirawat seperti anak emas. Padahal tanpa akal, kekayaan hanyalah bensin yang disiramkan ke api kesombongan.
Akal seharusnya menjadi rem, bukan sekadar mesin. Ia berfungsi menghentikan manusia sebelum tergelincir, bukan hanya mempercepat laju menuju jurang. Namun hari ini, yang disebut “cerdas” sering kali hanyalah yang paling licik membaca peluang, bukan yang paling jujur membaca kenyataan.
Lalu Sayyidina Ali menancapkan kalimat kedua—lebih tajam, lebih menyakitkan: tiada keadaan yang lebih menyedihkan daripada kebodohan.
Kebodohan modern bukanlah ketiadaan informasi. Ia justru lahir dari banjir pengetahuan yang tak pernah direnungkan. Orang tahu banyak hal, tetapi tak memahami apa pun. Mereka hafal slogan, tetapi miskin kesadaran.
Kebodohan hari ini berisik dan percaya diri. Ia menolak koreksi, memusuhi perbedaan, dan memeluk kebencian dengan dalih kebenaran. Yang menyedihkan, kebodohan tak lagi malu pada dirinya sendiri. Ia tampil gagah, disambut sorak, bahkan dipilih untuk memimpin.
Dalam kondisi seperti ini, kebodohan bukan lagi tragedi personal, melainkan wabah sosial. Ia merusak bahasa, mengerdilkan nurani, dan membuat kezaliman terasa wajar. Manusia tidak lagi takut salah, selama merasa berada di barisan yang ramai.
Maka Sayyidina Ali menawarkan satu-satunya jalan keluar yang tidak instan: tiada warisan yang lebih baik daripada pendidikan.
Bukan pendidikan yang sibuk mengejar ijazah, tetapi pendidikan yang menumbuhkan keberanian berpikir. Bukan pendidikan yang mencetak kepatuhan buta, melainkan yang melahirkan manusia merdeka secara akal.
Pendidikan adalah perlawanan paling sunyi sekaligus paling radikal. Ia tidak berteriak di jalan, tetapi mengubah arah hidup. Ia tidak menjanjikan kekuasaan cepat, tetapi membangun fondasi agar kekuasaan tidak membusuk. Pendidikan menyiapkan manusia untuk tidak mudah dibodohi, dan—ini yang lebih sulit—tidak gemar membodohi orang lain.
Di sinilah tiga kalimat Sayyidina Ali bertaut menjadi satu kritik peradaban:
ketika akal ditinggalkan, kebodohan dirayakan, dan pendidikan direduksi menjadi formalitas, maka runtuhlah martabat manusia tanpa perlu perang.
Tulisan ini bukan nostalgia kebijaksanaan masa lalu. Ia adalah cermin. Dan seperti semua cermin yang jujur, ia tidak selalu menyenangkan. Tetapi barangkali, dari rasa tidak nyaman itulah, akal kembali dihidupkan—sebelum semuanya benar-benar terlambat.
Wallahu’alam






