
Herdiana alias mang Acil sedang membacakan puisi “Julidisme Politik Satir tentang Janji yang Mati di acara FGD evaluasi kepemimpinan yang responsif dan Berkelanjutan 21 November 2024.
Oleh Herdiana
Di panggung megah penuh lampu pijar,
Janji bersahut bagai mimpi besar.
Lidah melingkar, janji memutar,
Tapi aksi, entah kapan terujar.
“Rakyat dulu!” seru penuh gairah,
Tapi kursi empuk tetap jadi kiblat.
Jubah retorika membungkus dusta,
Sembunyi di balik tata bahasa.
Manuver tajam, licik bagai belati,
Menggorok mimpi dengan janji mati.
Kemilau kuasa jadi candu,
Menyisakan rakyat dalam pilu.
Di meja rapat penuh drama sunyi,
Ada politikus bersandiwara lagi.
Tepuk tangan palsu mengiringi mimpi,
Yang terbang rendah, patah sebelum tinggi.
Oh, negeri penuh dagelan mulia,
Dimana suara rakyat hanya selingan belaka.
Julid ku bukan karena benci,
Hanya kecewa melihat janji mati berdiri.
Namun begitulah cerita negeri,
Dimana kejujuran sulit berdiri.
Semoga kelak ada fajar baru,
Tanpa julidisme, tanpa tipu.
Editor: dinur






