Puasa Arafah & Sunnah “Puasa Gunting Kuku” bagi Pekurban

Shaum Arafah bagi pequrban
Sapi untuk di qurbankan
(Foto thread)

 

Ada satu momen menjelang Hari Raya Qurban yang sering membuat sebagian orang mendadak gelisah. Bukan karena harga kambing naik. Bukan pula karena sapi makin “premium”. Tapi karena kuku mulai panjang, kumis mulai mengganggu, dan kulit ari di jari mulai ingin dikupas.

Padahal, niat qurban sudah terlanjur mantap.

Di sinilah indahnya syariat Islam. Bahkan perkara kecil seperti rambut, kuku, dan kulit pun ternyata memiliki nilai ibadah ketika dikaitkan dengan semangat pengorbanan kepada Allah SWT.

Momentum Dzulhijjah bukan sekadar musim sate dan gulai. Ia adalah musim ketaatan, musim penghambaan, dan musim latihan menahan diri. Jika selama Ramadhan kita belajar menahan lapar dan dahaga, maka di awal Dzulhijjah sebagian umat Islam belajar menahan diri dari hal-hal kecil yang biasa dianggap sepele.

1 Dzulhijjah 1447 H = 18 Mei 2026 (Senin)

9 Dzulhijjah 1447 H = Shaum ‘Arafah, 26 Mei 2026 (Selasa)

10 Dzulhijjah 1447 H = ‘Idul Adha, 27 Mei 2026 (Rabu)

A. Sunnah Shaum ‘Arafah

Betapa besar kasih sayang Allah kepada hamba-Nya. Hanya dengan satu hari puasa sunnah, Allah menjanjikan penghapusan dosa selama dua tahun.

عَنْ أَبِي قَتَادَةَ الْأَنْصَارِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، أَنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ سُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ عَرَفَةَ، فَقَالَ: صِيَامُ يَوْمِ عَرَفَةَ، أَحْتَسِبُ عَلَى اللهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي قَبْلَهُ، وَالسَّنَةَ الَّتِي بَعْدَهُ

“Puasa hari Arafah, aku berharap kepada Allah agar menghapus dosa satu tahun sebelumnya dan satu tahun setelahnya.” (Hr. Muslim)

Dalam lafaz lain disebutkan:

وَسُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ عَرَفَةَ، فَقَالَ: يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ وَالْبَاقِيَةَ

“Beliau ditanya tentang puasa hari Arafah, lalu beliau menjawab: ‘Ia menghapus dosa tahun yang telah lalu dan tahun yang akan datang.’ (Hr. Muslim)

Bayangkan. Di tengah hidup yang penuh salah, lalai, dan khilaf, Allah masih membuka “diskon dosa” lewat satu hari puasa sunnah. Maka sungguh rugi jika hari Arafah berlalu hanya diisi rebahan, scroll media sosial, atau sibuk memperdebatkan harga daging qurban di grup WhatsApp keluarga.

Baca Juga:  Idealisme dan Realisme Dakwah: Perspektif Sosiologi

Puasa Arafah bukan sekadar menahan lapar. Ia adalah momentum membersihkan jiwa. Sebuah latihan agar manusia tidak hanya sibuk menggemukkan badan saat Idul Adha, tetapi juga menghidupkan ruh penghambaan.

B. Sunnah tidak memotong rambut, kuku dan kulit

Bagi orang yang sudah berniat qurban, disunnahkan untuk; tidak memotong rambut, kuku, dan bagian kulit sejak masuk tanggal 1 Dzulhijjah sampai hewan qurbannya disembelih.

Hal ini berdasarkan hadis dari Ummu Salamah RA, bahwa Nabi ﷺ bersabda:

إِذَا دَخَلَتِ الْعَشْرُ، وَأَرَادَ أَحَدُكُمْ أَنْ يُضَحِّيَ، فَلَا يَمَسَّ مِنْ شَعَرِهِ وَبَشَرِهِ شَيْئًا

“Apabila telah masuk sepuluh hari pertama Dzulhijjah, dan salah seorang dari kalian hendak berqurban, maka janganlah ia menyentuh/mengambil sedikit pun dari rambut dan kulitnya.” (HR. Muslim)

Dalam riwayat lain disebutkan:

فَلَا يَأْخُذَنَّ مِنْ شَعْرِهِ، وَلَا مِنْ أَظْفَارِهِ شَيْئًا حَتَّى يُضَحِّيَ

“Janganlah ia mengambil sedikit pun dari rambut dan kukunya sampai ia berqurban.” (HR. Muslim)

 

Di zaman modern ini, mungkin ada yang bertanya dengan nada bercanda,

  • “Kalau kuku panjang bagaimana mengetik di HP?”
  • “Atau bagaimana kalau kumis mulai terasa seperti sapu ijuk?”

Namun justru di situlah letak pendidikan spiritualnya. Islam mengajarkan bahwa ibadah tidak selalu tentang hal besar dan heroik. Kadang, ibadah itu sederhana: menahan diri untuk tidak melakukan sesuatu yang sebenarnya mudah dilakukan.

Karena qurban sendiri hakikatnya adalah pengorbanan. Bukan hanya mengorbankan uang untuk membeli hewan, tetapi juga ego, kenyamanan, dan kebiasaan diri.

Yang termasuk ditahan untuk tidak dipotong:

  1. rambut kepala,
  2. kumis,
  3. jenggot,
  4. bulu ketiak,
  5. bulu kemaluan,
  6. bulu-bulu lainnya,
  7. kuku tangan dan kaki,
  8. kulit yang sengaja dipotong atau dikelupas,
  9. kulit keras/kapalan,
  10. kutil,
  11. borok atau kulit kering, selama tidak ada kebutuhan medis.
Baca Juga:  Fitrah Manusia: Kembali ke Asal, Melawan Modernitas

Waktunya: 1 Dzulhijjah 1447 H bertepatan dengan Senin, 18 Mei 2026.

Maka sejak malam ini, mulai Maghrib, bagi yang sudah berniat qurban disunnahkan untuk mulai menahan diri dari memotong rambut, kuku, dan kulit.

Larangan ini berlangsung sampai hewan qurbannya disembelih.

Jadi, sebelum Maghrib datang, mungkin sebagian orang akan mendadak antre gunting kuku massal di rumah masing-masing. Ada yang buru-buru ke barbershop. Ada pula yang mendadak merasa kulit ari di jari sangat mengganggu dan harus “dibereskan” malam itu juga.

Fenomena tahunan yang sederhana, tapi penuh makna.

Catatan:

Jika ada kebutuhan, seperti sakit, luka, infeksi, atau mengganggu kesehatan, maka boleh dipotong atau diobati.

Dan apabila terlanjur memotong rambut, kuku, atau kulit, maka qurbannya tetap sah dan tidak ada fidyah.

Islam memang tidak dibangun di atas kesulitan yang memberatkan. Syariat hadir untuk mendidik manusia, bukan menyiksa manusia.

Kesimpulan

Bagi yang hendak qurban, mulai masuk 1 Dzulhijjah disunnahkan menjaga rambut, kuku, dan kulitnya sampai qurbannya selesai disembelih.

Idul Adha akhirnya mengajarkan satu hal penting:

bahwa pengorbanan tidak selalu dimulai dari hal besar. Kadang dimulai dari menahan tangan agar tidak mengambil gunting kuku.

Dan dari hal kecil itulah, hati sedang dilatih untuk tunduk kepada Allah.

 

*KAHADIS: Kajian Hamalatul Hadis

Ust. Dr Robi Permana, M.Ag

Hadis 183: 29 Dzulqa’dah 1447 H / 17 Mei 2026 M

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *