
Oleh Ulul Azmi Alqudus*
Dakwah merupakan aktivitas strategis dalam Islam yang tidak hanya berorientasi pada penyampaian ajaran agama, tetapi juga pada perubahan sosial. Dalam pandangan sosiologis, dakwah berlangsung dalam medan sosial yang kompleks. Di satu sisi, terdapat idealisme dakwah sebagai cerminan nilai-nilai luhur ajaran Islam. Di sisi lain, hadir pula realisme sosial, yakni kondisi empirik masyarakat yang kerap tidak sejalan dengan cita-cita dakwah.
Karena itu, pendekatan sosiologis menjadi penting untuk memahami dinamika antara idealisme dan realisme dalam praktik dakwah. Pemahaman ini membantu dalam menavigasi tantangan sosial sekaligus menjaga kemurnian nilai Islam.
Idealisme Dakwah: Menyampaikan Al-Ḥaqq tanpa Kompromi
Idealisme dakwah berakar pada nilai-nilai transendental yang bersumber dari wahyu. Tujuannya adalah menyampaikan kebenaran (al-ḥaqq) secara utuh tanpa terkontaminasi kepentingan duniawi. Dakwah bukan sekadar ajakan, melainkan proyek perubahan spiritual dan sosial.
Al-Imam Al-Ghazali menyatakan bahwa tugas dakwah merupakan bagian dari ḥisbah—amar makruf nahi munkar—yang menjadi tanggung jawab kolektif umat. Dalam kerangka ini, dakwah ideal membawa pencerahan ruhani dan membangun peradaban sebagaimana dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW. Beliau berhasil membentuk masyarakat Madinah yang berkeadaban tinggi melalui pendekatan moral, spiritual, dan sosial.
Realisme Sosial: Kompleksitas dalam Penerimaan Dakwah
Namun realitas sosial seringkali tidak mendukung idealisme dakwah. Masyarakat bersifat plural, heterogen, dan terus berubah. Dalam hal ini, pendekatan sosiologis sangat membantu memahami tantangan yang ada, melalui beberapa faktor berikut:
1. Struktur Sosial
Struktur sosial menentukan penerimaan dakwah. Kelas sosial, status, dan relasi kuasa sangat memengaruhi bagaimana pesan diterima atau ditolak. Sebuah pesan dakwah bisa diterima baik oleh kelas bawah namun mendapat resistensi dari elite yang merasa terancam.
2. Nilai dan Budaya Lokal
Nilai-nilai budaya lokal tidak selalu selaras dengan prinsip-prinsip Islam. Menurut Nurcholish Madjid, budaya yang tidak selaras dengan kebenaran hanya akan menghasilkan stagnasi (jumud), dan oleh karena itu, harus ditinggalkan. Dakwah mesti dialogis, tetapi tetap kritis terhadap nilai lokal yang bertentangan dengan Islam.
3. Modernisasi dan Globalisasi
Arus modernisasi dan globalisasi mendorong masyarakat pada pemahaman sekuler dan relativisme moral. Nilai-nilai Islam seringkali direduksi menjadi simbol semata, tanpa pemahaman substantif.
Sayyid Qutb, pemikir Mesir, menyatakan bahwa dakwah akan selalu berhadapan dengan sistem jahiliyah modern yang tersusun secara sistemik dan ideologis. Maka, aktivitas dakwah perlu mempertimbangkan mekanisme sosial dan psikologis agar pesan tidak hanya disampaikan, tetapi juga diterima dan diinternalisasi.
Menyesuaikan Strategi: Ijtihad Sosial dan Dakwah Kontekstual
Sosiologi Islam menekankan pentingnya ijtihad sosial—upaya menyesuaikan strategi dakwah dengan dinamika masyarakat tanpa mengorbankan nilai-nilai Islam.
Pemikiran Ali Syariati, sosiolog Muslim dari Iran, relevan di sini. Ia mendorong dakwah yang revolusioner dan kontekstual. Bagi Syariati, dakwah bukan hanya menyampaikan teks, tetapi juga melakukan transformasi terhadap struktur sosial yang menindas.
Penutup
Antara idealisme dan realisme dakwah, diperlukan keseimbangan yang cermat. Dakwah harus tetap berpegang pada nilai-nilai ilahiah, tetapi tidak buta terhadap realitas sosial. Dengan memanfaatkan pendekatan sosiologis, maka dapat dirumuskan strategi dakwah yang efektif dan transformatif untuk menjawab tantangan zaman.
*Penulis adalah Alumni IAI Persis Bandung dan Mahasiswa Pasca Sarjana UIN Sunan Gunung Djati Bandung
Editor: San





