
Oleh Arief Permadi
PERSOALAN pendidikan pada akhirnya selalu bermuara pada satu pertanyaan sederhana, soal siapa yang paling layak mendapatkan perhatian kita. Mereka yang sejak awal sudah unggul, atau mereka yang tertinggal dan nyaris kehilangan kesempatan?
Di sinilah perdebatan tentang Sekolah Maung versus Guru Maung menjadi relevan. Dua konsep yang sekilas terdengar serupa, tetapi sesungguhnya membawa arah yang sangat berbeda bagi masa depan pendidikan kita.
Karena itu, alih-alih membangun menara gading sekolah elit yang pada akhirnya hanya menjadi karpet merah bagi mereka yang sejak awal sudah unggul dan berkecukupan dalam banyak hal, yang lebih kita butuhkan hari ini justru adalah melahirkan pasukan “Guru Maung”.
Pasukan pendidik terpilih dengan kompetensi psikologi di atas rata-rata yang diterjunkan secara khusus untuk mendampingi, memulihkan, dan menyelamatkan anak-anak yang bukan “Maung”. Anak-anak yang selama ini kerap luput dari perhatian, yang padahal merekalah yang sesungguhnya paling membutuhkan uluran tangan negara.
Logika kebijakan publik kita memang perlu ditinjau ulang. Di luar sana masih banyak anak yang nilai akademiknya tertinggal, atau terlanjur mendapat cap sebagai anak “bermasalah”, padahal mereka sesungguhnya adalah korban dari keluarga yang tidak harmonis.
Ada pula yang harus bekerja hingga sepuluh jam sehari demi membantu ekonomi keluarga, sehingga nyaris tidak memiliki kesempatan untuk kembali membuka buku dan melanjutkan pendidikan mereka.
Dalam kondisi seperti itu, kegagalan masuk sekolah unggulan, bisa jadi, bukanlah cerminan kemampuan mereka yang sebenarnya. Namun ketika sistem mendepak mereka dari sekolah favorit karena kalah bersaing, mereka akhirnya terdampar di sekolah yang telanjur dicap sebagai sekolah sisa. Padahal, justru di sanalah tantangan pendidikan yang sesungguhnya berada.
Karena itu, ketimbang menghabiskan energi dan anggaran daerah untuk terus memoles sekolah yang sudah berkilau, bukankah jauh lebih revolusioner jika kita mulai mencetak gurunya?
Di sinilah konsep Guru Maung hadir. Mereka adalah arsitek sosial yang bekerja di ruang-ruang kelas yang sering kali dianggap sisa oleh sistem. Mereka bukan sekadar pengajar yang fasih menghafal rumus matematika atau tata bahasa, melainkan barisan pendidik pilihan yang ditempa melalui pelatihan khusus dan penugasan yang tidak mudah.
Mereka wajib memiliki karakter landung kandungan laer aisan, sebuah filosofi Sunda yang menggambarkan sosok manusia dengan kesabaran tanpa batas, wawasan yang luas, serta kasih sayang yang mendalam tanpa kehilangan ketegasan. Sebab tugas yang mereka emban memang sangat spesifik sekaligus menantang.
Guru Maung tidak dikirim ke sekolah-sekolah megah dengan fasilitas terbaik. Mereka justru diterjunkan ke sekolah pinggiran yang sarat dengan persoalan sosial maupun akademik. Mereka hadir untuk melakukan intervensi. Menjemput anak-anak yang hampir menyerah pada masa depannya. Mengembalikan kepercayaan diri mereka yang telah lama terkikis. Lalu menuntun mereka tumbuh menjadi “Maung” yang sesungguhnya, yakni manusia berkualitas yang memiliki kecerdasan, kearifan, sekaligus keahlian praktis yang berguna bagi kehidupan.
Secara akademis, gerakan penyelamatan di akar rumput ini memiliki landasan teoritis yang kuat. Salah satunya adalah konsep Zona Perkembangan Proksimal yang diperkenalkan oleh psikolog Lev Vygotsky. Teori ini mengajarkan bahwa anak-anak dengan tantangan akademis maupun moral yang berat tidak selalu membutuhkan fasilitas laboratorium berteknologi tinggi atau ruang kelas yang serba mewah. Hal yang mereka butuhkan adalah scaffolding, yaitu jembatan emosional dan kognitif yang kokoh dari seorang pendidik.
Di titik inilah peran Guru Maung menjadi sangat penting. Ketika seorang guru dengan kompetensi psikologi yang tinggi mampu melihat anak “bandel” bukan sebagai produk gagal, melainkan sebagai mutiara yang tertutup lumpur, maka di sanalah Efek Pygmalion mulai bekerja. Ekspektasi positif, kepercayaan, dan perlakuan yang humanis dari guru dapat melahirkan transformasi perilaku yang sangat besar dalam diri seorang siswa.
Pada saat yang sama, pendekatan ini juga menjadi upaya nyata untuk memutus rantai Matthew Effect dalam sosiologi pendidikan, yakni situasi ketika mereka yang sudah diuntungkan akan semakin diuntungkan.
Sekolah unggulan konvensional sering kali tanpa sadar melanggengkan mekanisme tersebut. Anak-anak pintar memperoleh guru terbaik, fasilitas terbaik, dan lingkungan belajar terbaik. Sebaliknya, mereka yang tertinggal harus berjuang dengan sumber daya yang tersisa.
Guru Maung adalah antitesis dari ketimpangan itu.
Konsep ini merupakan wujud nyata dari keadilan distributif. Kita mengirimkan pasukan pendidik terbaik ke medan pertempuran yang paling sulit. Kita menempatkan sumber daya manusia terbaik pada titik yang paling membutuhkan intervensi. Dengan kata lain, kita memilih berinvestasi pada manusianya, bukan sekadar pada status akreditasi, peringkat sekolah, atau kemegahan bangunan fisik.
Mengubah anak pintar menjadi juara olimpiade tentu merupakan pencapaian yang membanggakan. Namun mendidik anak yang tadinya gemar tawuran menjadi seorang wirausahawan yang santun, atau mengubah anak dengan NEM rendah menjadi ahli mekanik yang kompeten dan berdaya saing, itulah prestasi pendidikan yang sesungguhnya luar biasa.
Di sanalah esensi sejati dari nilai lokal Gapura Pancawaluya menemukan relevansinya. Pendidikan tidak hanya bertugas melahirkan manusia yang pinter. Pendidikan harus mampu membentuk manusia yang cageur, bageur, bener, pinter, dan singer. Manusia yang sehat jasmani dan rohani, baik perilakunya, benar sikapnya, cerdas pikirannya, serta memiliki kesadaran diri dan kepekaan terhadap lingkungannya.
Tentu saja, gagasan yang membumi seperti ini menuntut keberanian politik yang tidak kecil. Menjadi Guru Maung adalah tugas berat yang menguras tenaga, emosi, dan mental. Oleh karena itu, negara tidak boleh hanya menuntut pengabdian. Pemerintah harus menjamin sistem insentif yang adil, perlindungan profesi yang kuat, akses terhadap pengembangan kompetensi yang berkelanjutan, serta ruang yang cukup bagi mereka untuk berinovasi tanpa terus-menerus dibebani administrasi birokrasi yang kaku.
Sudah saatnya kita berhenti mengukur keberhasilan pendidikan hanya dari berapa banyak lulusan yang berhasil masuk universitas top dunia. Ukuran keberhasilan harus bergeser pada nilai tambah atau value-added, yakni seberapa jauh seorang guru mampu mengangkat harkat, martabat, dan kemampuan seorang anak dari titik terendahnya.
Sebab pendidikan bukanlah arena pacuan kuda untuk menentukan siapa yang paling cepat mencapai garis finis. Pendidikan adalah lengan terbuka yang merangkul mereka yang terjatuh agar dapat kembali berdiri tegak.
Sekolah Maung memang mempesona. Tapi, sudah waktunya pemerintah juga melahirkan para Guru Maung yang bersedia bekerja di akar rumput, mendampingi mereka yang tertinggal, dan memastikan tidak ada satu pun anak yang kehilangan masa depan hanya karena sistem yang belum sempurna, atau lahir dari titik start yang berbeda.
— arief permadi, menulis ini sambil menangis.





