
Oleh Herdiana, Daras.id
Dalam workshop yang diselenggarakan oleh HIPA PPI Pesantren Persis 75 Nanjung, Margaasih, pada Sabtu, 21 Juni 2025, Anggota Komisi X DPR RI, Muhammad Hoerudin Amin, menyampaikan sebuah gagasan mendalam:
“Keluhuran ilmu bisa diidentifikasi dengan keluhuran adab.”
Ungkapan ini bukan sekadar retorika. Ia mengingatkan kita bahwa pendidikan Islam sejati tidak berhenti pada hafalan, teori, atau silabus teknis. Pendidikan Islam hidup melalui kepribadian, akhlak, dan kehalusan rasa. Sebab, ilmu tanpa adab ibarat bara: panas namun membakar, bukan menerangi.
Tradisi Rasa yang Tergerus dalam Pesantren
Kang Hoer, sapaan akrabnya, mengungkapkan keprihatinan atas mengendurnya nilai-nilai seni dan rasa dalam kurikulum pesantren kontemporer. Padahal, dalam sejarah dakwah Islam, seni bukan sekadar pelengkap—melainkan sarana utama dalam menyentuh hati manusia.
Ia menegaskan:
“Seni di dalam agama itu wajib. Tanpa seni, agama tidak akan sampai.”
Beliau mencontohkan, bahkan menyanyikannya secara langsung, kekayaan tradisi dakwah kita yang beriringan dengan syair dan nada. Di antaranya:
Nadhoman karya Ustaz Abdullah, tokoh pendidikan Persis:
Sadaya rukun agama — aya tilu sing uninga
Hiji iman — dua islam — nomer katiluna ihsan
Syair-syair agung para Wali:
Sunan Bonang – Tombo Ati
Tombo ati iku limo perkarane:
Kaping pisan, moco Qur’an lan maknane
Kaping pindo, sholat wengi lakonono
Kaping telu, wong kang sholeh kumpulono
Kaping papat, kudu weteng ingkang luwe
Kaping limo, dzikir wengi ingkang suwe
Salah sijine sopo biso ngelakoni
Mugi-mugi Gusti Allah nyembadani.
Sunan Kalijaga – Lir-Ilir
Lir ilir, lir ilir, tandure wis sumilir
Tak ijo royo-royo, tak sengguh temanten anyar…
Sunan Ampel – Turi Putih, yang menggambarkan kefanaan hidup dan pentingnya kesadaran akan akhirat.

Adab Lebih Dahulu daripada Ilmu
Kang Hoer juga mengutip perkataan Syaikh Abdurrahman bin Qasim, seorang ulama besar, yang berkata:
“Aku belajar adab selama 11 tahun, sedangkan fiqih hanya 9 tahun.”
Ungkapan ini menunjukkan bahwa adab adalah pilar utama dalam membentuk insan kamil. Adab bukan sekadar aturan lahir, tetapi juga keberlangsungan akhlak dalam kehidupan sehari-hari.
Seni sebagai Medium Dakwah: Bukan Kompromi, Tapi Kearifan
Dakwah Islam di Nusantara berkembang bukan karena kekuatan retorika semata, melainkan karena kebijaksanaan para ulama dalam menggunakan seni dan budaya lokal sebagai jembatan makna. Para wali tidak membawa agama sebagai beban, tetapi sebagai pelita yang menyatu dengan kehidupan masyarakat.
Syair, tembang, kaligrafi, bahkan arsitektur masjid—semuanya adalah ekspresi keindahan dakwah. Ketika dakwah menjadi terlalu formalistik dan kering, pendekatan seni hadir sebagai oase yang menyegarkan jiwa umat.
Saatnya Dakwah Menyentuh Hati Kembali
Kang Hoer mengajak semua pihak, khususnya pesantren, untuk melakukan revitalisasi dakwah berbasis seni dan rasa. Ini bukan berarti mengorbankan prinsip-prinsip syariat, tetapi memperkaya metode dan pendekatan.
Menghidupkan kembali nadhoman, kisah hikmah, puisi, seni digital Islami, hingga film pendek bernilai edukatif adalah langkah kreatif menyampaikan Islam secara lebih mendalam dan menyentuh.
Pesantren sebagai laboratorium kader dakwah dan pendidikan harus mencetak bukan hanya pemikir dan pengkhotbah, tetapi juga pendidik ruhani yang memahami bahasa hati.
Rasa adalah Ruh Dakwah
Ilmu yang tidak menjelma adab, hanya menjadi bara panas.
Adab tanpa ilmu hanyalah bentuk kosong.
Dan rasa tanpa keduanya, hanya fana yang menguap.
Kita tidak sedang kehabisan warisan. Kita hanya sedang melupakannya. Sudah saatnya kita menyulam kembali dakwah dan pendidikan dengan benang-benang rasa, agar ilmu tidak sekadar diketahui, tetapi juga dihayati dan dihidupi.
“Sesungguhnya dalam syair ada hikmah, dan sebagian hikmah itu menggerakkan hati.” (HR. Bukhari)
Catatan: Artikel ini ditulis berdasarkan refleksi dari Workshop HIPA PPI Pesantren Persis 75 Nanjung Margaasih, 21 Juni 2025.






