
Oleh Nurdin Qusyaeri
Ketika seseorang membeli makanan, biasanya hanya ada satu pertanyaan sederhana di kepalanya:
“Ini halal atau tidak?”
Jika melihat label halal, biasanya persoalan dianggap selesai.
Tetapi Yeni Hendriyani mengajukan pertanyaan yang lebih jauh.
Bagaimana kita memastikan bahwa kehalalan itu benar-benar terjaga sepanjang perjalanan makanan tersebut?
Pertanyaan itulah yang kemudian membawanya pada penelitian doktoral tentang “Sistem Halal Traceability Supply Chain di Sektor Industri Makanan: Pengembangan Model Halal Gate-AHP-SCOR (HGAHP-SCOR).”
Bagi Yeni, persoalan halal tidak berhenti pada bahan yang berada di depan mata konsumen. Ada perjalanan panjang sebelum makanan sampai ke meja makan.
Dari pemasok.
Ke gudang.
Ke proses produksi.
Ke distribusi.
Hingga akhirnya dikonsumsi.
Dan setiap titik perjalanan itu menyimpan kemungkinan persoalan.
Di situlah Yeni menemukan ruang penelitian yang menarik: bagaimana membuat kehalalan dapat ditelusuri, dibuktikan, dan dijaga dari hulu hingga hilir.
Dari Pertanyaan Sederhana Menjadi Penelitian Doktoral
Kegelisahan Yeni bukan tanpa alasan.
Dalam penelitian pendahuluannya, ia menemukan bahwa 61 persen konsumen pada rumah makan di Kota Bandung masih meragukan kehalalan makanan karena tidak adanya sistem traceability yang jelas.
Angka itu menjadi pintu masuk bagi Yeni untuk melihat persoalan halal dari perspektif yang lebih luas.
Sebab, menurut logika sederhana, sebuah produk bisa saja sudah dinyatakan halal. Tetapi konsumen tetap membutuhkan jawaban atas pertanyaan:
“Bagaimana saya tahu bahwa kehalalan itu benar-benar dijaga?”
Di sinilah konsep halal traceability menjadi penting.
Traceability pada dasarnya berbicara tentang kemampuan menelusuri perjalanan suatu produk.
Tetapi Yeni tidak berhenti pada persoalan teknis ketertelusuran.
Ia justru menemukan persoalan yang lebih mendasar:
Bagaimana mengukur kinerja rantai pasok halal tanpa menjadikan prinsip halal sebagai sesuatu yang bisa “ditawar” oleh angka-angka kinerja?
Pertanyaan inilah yang kemudian melahirkan gagasan Halal Gate-AHP-SCOR.
Ketika Halal Tidak Bisa Dihitung seperti Biasa
Dalam penelitian Yeni, AHP digunakan untuk menentukan prioritas berbagai kriteria dalam rantai pasok.
Metode ini berguna.
Tetapi ada persoalan ketika logika AHP diterapkan begitu saja dalam konteks halal.
Mengapa?
Karena dalam penilaian yang bersifat kompensatori, kekurangan pada satu aspek dapat dikompensasi oleh kelebihan pada aspek lain.
Misalnya, perusahaan sangat efisien dalam distribusi, tetapi memiliki kelemahan dalam dokumentasi.
Dalam model penilaian tertentu, nilai tinggi pada aspek lain dapat membantu menutup kekurangan tersebut.
Tetapi bagi Yeni, logika seperti itu tidak bisa diterapkan begitu saja pada halal.
Sebab pertanyaannya sederhana:
Apakah efisiensi distribusi dapat mengompensasi bahan yang tidak halal?
Tentu tidak.
Apakah pelayanan yang sangat baik dapat membuat bahan haram menjadi halal?
Tidak.
Apakah keuntungan perusahaan dapat menghapus persoalan keharaman?
Juga tidak.
Dari sinilah muncul gagasan penting Yeni:
Halal tidak boleh menjadi salah satu variabel yang dapat dikompensasi oleh variabel lainnya.
Lahirnya “Halal Gate”
Untuk menjawab persoalan tersebut, Yeni mengembangkan apa yang ia sebut sebagai Halal Gate.
Konsepnya sederhana dan mudah dibayangkan.
Bayangkan sebuah sistem memiliki dua pintu.
Pintu pertama adalah Halal Gate.
Sebelum perusahaan dinilai dari segi efisiensi, produktivitas, kecepatan, atau kinerja rantai pasok, terlebih dahulu harus melewati pemeriksaan halal.
Ada enam dimensi yang harus diperiksa:
- bahan;
- penyembelihan;
- bebas kontaminasi;
- proses produksi;
- distribusi;
- validitas dokumen.
Semuanya harus terpenuhi.
Tidak boleh mengatakan:
“Memang dokumennya belum lengkap, tetapi produksinya bagus.”
Atau:
“Memang ada masalah pada salah satu bahan, tetapi distribusinya sangat efisien.”
Dalam Halal Gate, logikanya sederhana:
Lulus semua → boleh masuk.
Gagal satu → tidak boleh masuk.
Inilah yang dalam penelitian Yeni disebut sebagai logika non-kompensatori.
Baru Setelah Itu Bicara Kinerja
Jika pintu pertama sudah dilewati, barulah pintu kedua dibuka.
Di sinilah AHP-SCOR bekerja.
Perusahaan kemudian dinilai berdasarkan kinerja rantai pasoknya:
Plan atau perencanaan;
Source atau pengadaan;
Transform atau produksi;
Order atau pemesanan;
Fulfill atau distribusi.
Hasil penelitian Yeni menunjukkan bahwa perencanaan menjadi aspek paling penting dengan bobot 32,5 persen, disusul pengadaan 25,6 persen dan produksi 23,8 persen.
Temuan ini membawa pesan yang menarik:
Menjaga halal ternyata tidak cukup dimulai ketika makanan masuk dapur. Ia harus dimulai sejak perusahaan merencanakan dan memilih bahan yang akan digunakan.
Dengan demikian, model yang dikembangkan Yeni dapat diringkas dalam sebuah kalimat:
“Halal dulu, kinerja kemudian.”
Temuan yang Membuat Yeni Tidak Berhenti pada Sertifikat
Salah satu hasil penelitian Yeni yang menarik adalah adanya perbedaan antara sertifikasi dan kelengkapan sistem dokumentasi.
Dalam penerapan SCOR di Bandung, sertifikasi halal produk utama mencapai 100 persen.
Namun kelengkapan dokumentasi baru mencapai 80 persen. Sementara kelengkapan pesanan berada pada 97,5 persen dan kinerja tepat waktu 87,5 persen.
Temuan tersebut menunjukkan bahwa memiliki sertifikat halal belum otomatis berarti seluruh sistem ketertelusuran sudah sempurna.
Dan justru di situlah penelitian Yeni menemukan persoalan yang penting.
Sebab ketika terjadi audit, pergantian pemasok, perubahan bahan, atau persoalan dalam rantai pasok, industri membutuhkan bukti yang dapat ditelusuri.
Dengan kata lain:
Sertifikat menunjukkan status halal. Traceability menunjukkan perjalanan yang menjaga status halal itu.
Maqāṣid al-Sharī‘ah Masuk ke Dapur Industri
Yang membuat penelitian Yeni semakin menarik adalah ia tidak hanya menggunakan pendekatan manajemen rantai pasok.
Ia menempatkan Maqāṣid al-Sharī‘ah sebagai fondasi normatif.
Perlindungan agama (hifẓ al-dīn), jiwa (hifẓ al-nafs), dan harta (hifẓ al-māl) digunakan untuk membingkai sistem halal traceability.
Di sinilah Yeni mencoba mempertemukan dua dunia yang sering dipisahkan:
nilai-nilai syariah dan manajemen modern.
Bagi Yeni, Maqāṣid al-Sharī‘ah tidak semestinya berhenti menjadi teori yang dibahas di ruang kelas.
Nilai itu harus bisa diterjemahkan ke dalam sistem.
Masuk ke gudang.
Masuk ke proses pengadaan.
Masuk ke produksi.
Masuk ke dokumentasi.
Bahkan masuk ke sistem digital rantai pasok.
Dengan kata lain, nilai syariah harus bisa bekerja.
Dari Supplier hingga Konsumen
Karena itu, rekomendasi yang ditawarkan Yeni juga tidak berhenti pada perusahaan sebagai produsen.
Ia mendorong penguatan sistem sejak tingkat perencanaan, pengadaan, hingga operasional.
Pada level perencanaan, ia menawarkan gagasan Halal Planning Center untuk mengintegrasikan perencanaan dengan database sertifikasi sehingga bahan yang tidak memiliki identitas halal dapat dicegah masuk ke dalam sistem.
Pada level supplier, diperlukan ekosistem digital traceability yang memungkinkan data sertifikasi diverifikasi secara lebih cepat.
Sementara pada level produksi diperlukan Critical Control Point, pencatatan otomatis, dan kompetensi halal bagi sumber daya manusia yang terlibat.
Artinya, bagi Yeni, halal bukan pekerjaan satu orang.
Bukan hanya pekerjaan auditor.
Bukan hanya pekerjaan lembaga sertifikasi.
Dan bukan hanya urusan produsen.
Halal adalah tanggung jawab seluruh rantai pasok.
Gagasan Yeni: Mengubah Cara Kita Melihat Halal
Jika dirangkum, kontribusi Yeni sebenarnya bukan sekadar menghasilkan sebuah formula atau model bernama HGAHP-SCOR.
Lebih dari itu, ia sedang menawarkan cara pandang baru.
Selama ini kita sering melihat halal sebagai:
“Apakah produk ini halal?”
Yeni mengajak kita bergerak menuju pertanyaan:
“Bagaimana kehalalan produk ini dijaga sepanjang perjalanan?”
Perubahan pertanyaan tersebut kelihatannya sederhana.
Tetapi konsekuensinya besar.
Karena ketika pertanyaan berubah, sistem juga harus berubah.
Dari sekadar sertifikasi menjadi traceability.
Dari sekadar pemeriksaan produk menjadi pemeriksaan rantai pasok.
Dari sekadar kepatuhan administratif menjadi integritas sistem.
Dan dari sekadar mengukur kinerja menjadi memastikan bahwa kinerja tersebut berjalan di atas fondasi halal.
Halal Tidak Bisa Dikompensasi
Barangkali inilah gagasan paling sederhana sekaligus paling kuat dari penelitian Yeni.
Dalam dunia bisnis, sebuah kelemahan mungkin bisa ditutup oleh keunggulan lain.
Tetapi dalam halal, logikanya berbeda.
Satu unsur haram tidak bisa ditutup oleh seribu keunggulan.
Restoran boleh sangat cepat.
Boleh sangat efisien.
Boleh sangat menguntungkan.
Boleh sangat modern.
Tetapi semua itu tidak dapat mengompensasi jika terdapat unsur yang tidak memenuhi prinsip halal.
Karena itu, Halal Gate menjadi penting.
Ia menjadi semacam pintu etis sebelum perusahaan masuk ke ruang evaluasi kinerja.
Dan inilah kebaruan yang ditawarkan Yeni melalui model Halal Gate-AHP-SCOR: memisahkan secara tegas antara verifikasi kehalalan yang bersifat absolut dan pengukuran kinerja yang bersifat relatif.
Yeni Hendriyani dan Masa Depan Industri Halal
Penelitian Yeni Hendriyani pada akhirnya membawa kita pada kesadaran sederhana:
konsumen tidak hanya membutuhkan makanan halal. Konsumen membutuhkan alasan untuk percaya bahwa makanan itu benar-benar halal.
Dan kepercayaan tidak cukup dibangun dengan kata-kata.
Ia membutuhkan sistem.
Membutuhkan bukti.
Membutuhkan keterlacakan.
Membutuhkan transparansi.
Dan membutuhkan konsistensi dari hulu hingga hilir.
Karena itu, gagasan Yeni tentang Halal Gate-AHP-SCOR bukan hanya berbicara tentang bagaimana sebuah rumah makan mengelola rantai pasok.
Ia berbicara tentang masa depan industri halal itu sendiri.
Industri halal masa depan bukan hanya industri yang mampu mengatakan:
“Produk kami halal.”
Tetapi industri yang mampu menjawab:
“Ini buktinya. Ini pemasoknya. Ini prosesnya. Ini dokumentasinya. Ini jejak perjalanannya.”
Di situlah halal berubah dari sekadar label menjadi sistem kepercayaan.
Dan melalui penelitian doktornya, Yeni Hendriyani mencoba membuka jalan ke arah sana.
Sebab pada akhirnya, makanan yang sampai ke meja kita bukan hanya membawa rasa.
Ia membawa kepercayaan.
Dan kepercayaan itu harus dijaga sejak hulu sampai hilir.
Halal dulu. Baru unggul.
Itulah gagasan sederhana yang lahir dari penelitian Yeni Hendriyani.
Wallahu ‘alam





