Website Berita dan Opini
Indeks

Ketika Berita Membuat Kita Lelah

News Fatigue
Ilustrasi

 

Oleh Arief Permadi*

DULU, orang harus mencari berita. Pagi hari mereka membuka koran, siang mendengarkan radio, atau malam menunggu siaran berita di televisi.

Kini keadaannya justru berbalik. Bukan lagi audiens yang mencari berita, melainkan berita yang terus memburu audiens.

Berita hadir melalui notifikasi ponsel, linimasa media sosial, grup WhatsApp, video TikTok, Instagram Reels, hingga rekomendasi algoritma. Satu peristiwa bahkan dapat muncul berkali-kali dalam sehari. Dikemas dalam berbagai bentuk, mulai dari berita teks, video pendek, infografik, thread, komentar, hingga reaksi pengguna.

Perubahan ini tentu membawa banyak keuntungan. Masyarakat kini dapat memperoleh informasi dengan cepat, mudah, dan hampir tanpa batas waktu.

Namun, derasnya arus informasi juga membawa persoalan baru. Salah satunya adalah news fatigue atau kelelahan berita, kondisi ketika seseorang mulai merasa lelah, jenuh, kewalahan, bahkan apatis dan sinis karena terus-menerus terpapar berita.

Pada awalnya, kejenuhan itu mungkin hanya membuat seseorang melewati beberapa konten. Jika berlangsung terus-menerus, ia bisa mulai mengurangi konsumsi berita, mematikan notifikasi, atau bahkan sengaja menjauh dari pemberitaan. Perilaku menghindari berita inilah yang kemudian dikenal sebagai news avoidance.

Namun, menghindari berita juga tidak selalu berarti seseorang tidak peduli terhadap persoalan di sekitarnya. Dalam banyak kasus, seseorang justru menghindari berita karena merasa terlalu banyak menerima informasi.

Baca Juga:  Tidak Takut Wartawan? Keren!

Audiens Bukan Makhluk Tanpa Batas

Untuk menjelaskannya, ada dua pendekatan yang bisa kita pakai. Pertama, Information Overload Theory. Kedua, Limited Capacity Model atau LCM.

Istilah information overload pertama kali diperkenalkan Bertram M. Gross pada 1964 melalui bukunya The Managing of Organizations. Konsep yang kemudian berkembang menjadi teori ini semakin dikenal setelah dibahas Alvin Toffler dalam Future Shock pada 1970. Teori ini membantu menjelaskan persoalan dari sisi jumlah dan kecepatan informasi yang diterima seseorang.

Secara sederhana, information overload terjadi ketika jumlah informasi yang diterima seseorang melebihi kemampuannya untuk memproses informasi tersebut secara efektif. Persoalannya bukan lagi kekurangan informasi, melainkan justru kelebihan informasi.

Situasi seperti ini sangat mudah ditemukan dalam kehidupan sehari-hari. Bayangkan seseorang baru bangun tidur dan langsung membuka ponsel. Ada puluhan notifikasi. Di WhatsApp terdapat beberapa pesan baru. Instagram menampilkan sejumlah unggahan. TikTok menyodorkan berbagai video. X dipenuhi perdebatan mengenai isu politik. Portal berita mengirimkan breaking news. Belum selesai membaca satu informasi, muncul informasi lainnya. Semuanya terjadi hampir bersamaan.

Dahulu, audiens memiliki batas yang relatif jelas dalam mengonsumsi berita. Mereka membaca koran pada pagi hari, mendengarkan radio pada waktu tertentu, atau menonton televisi pada jam berita. Sekarang batas tersebut hampir hilang. Berita tersedia selama 24 jam dan dapat muncul kapan saja.

Perubahan ini juga mengubah posisi audiens dalam mengendalikan konsumsi informasi. Jika dahulu audiens relatif bebas menentukan kapan ingin membaca berita dan informasi apa yang ingin mereka cari, kini algoritma platform ikut menentukan informasi yang muncul di hadapan mereka.

Akibatnya, seseorang dapat menerima informasi mengenai peristiwa yang sebenarnya tidak sedang ia cari. Ketika informasi datang dalam jumlah besar dan terus-menerus, otak harus bekerja lebih keras untuk menentukan mana yang penting, mana yang tidak penting, mana yang perlu dibaca, mana yang cukup dilewati, dan mana yang perlu dipercaya.

Pada titik tertentu, kemampuan tersebut dapat mengalami kelelahan. Respons yang muncul bisa sangat sederhana. Seseorang mulai melewati unggahan berita, mematikan notifikasi, mengurangi frekuensi membuka portal berita, atau sengaja menghindari pembicaraan mengenai isu tertentu. Bukan karena tidak peduli, tetapi karena merasa sudah terlalu penuh dengan informasi.

Baca Juga:  Masa Depan Mahasiswa Jurusan KPI

Bukan Hanya Banyak, tetapi Juga Membebani Otak

Jika Information Overload Theory membantu menjelaskan persoalan dari sisi banyaknya informasi, Limited Capacity Model membantu melihat apa yang terjadi dalam proses kognitif audiens.

LCM yang dikembangkan oleh Annie Lang (2000) berpijak pada gagasan bahwa manusia memiliki kapasitas yang terbatas dalam memproses informasi. Otak tidak memiliki sumber daya yang tidak terbatas untuk memperhatikan, memahami, menyimpan, dan mengingat semua pesan yang diterimanya.

Ketika seseorang mengonsumsi berita, terdapat sejumlah proses kognitif yang berlangsung. Informasi perlu diperhatikan dan dikodekan atau encoding. Informasi tersebut kemudian dihubungkan dengan pengetahuan yang sudah dimiliki atau storage. Selanjutnya, informasi dan pengetahuan yang tersimpan dapat dipanggil kembali atau retrieval ketika dibutuhkan.

Persoalan muncul ketika tuntutan sebuah pesan lebih besar daripada sumber daya kognitif yang tersedia.
Contohnya dapat dilihat pada video berita di media sosial. Sebuah video berdurasi 30 detik memang terlihat singkat. Namun, dalam waktu sesingkat itu audiens dapat dihadapkan pada teks yang bergerak, gambar yang berganti cepat, suara narator, musik latar, efek suara, grafik, angka, dan potongan wawancara. Semua unsur tersebut menuntut perhatian dalam waktu yang hampir bersamaan.

Bagi pembuat konten, berbagai elemen tersebut mungkin dimaksudkan untuk membuat video lebih menarik dan mempertahankan perhatian penonton. Namun, dari perspektif kognitif, semakin banyak unsur yang harus diproses, semakin besar pula tuntutan terhadap sumber daya mental audiens.

Situasinya menjadi semakin berat ketika berita dikonsumsi saat seseorang sedang lelah, bekerja, belajar, mengobrol dengan orang lain, atau berpindah-pindah aplikasi. Akibatnya, informasi mungkin tidak benar-benar dipahami. Audiens melihat videonya, tetapi tidak mengingat isinya. Mereka membaca judulnya, tetapi tidak memahami konteksnya. Mereka mengikuti perdebatan, tetapi kesulitan mengingat bagaimana persoalan tersebut bermula.

Pada akhirnya muncul perasaan sederhana, mereka merasa lelah.

News Fatigue

Dari Doomscrolling Menuju News Avoidance

Salah satu contoh yang paling mudah diamati adalah fenomena doomscrolling.

Ketika terjadi pandemi, bencana besar, konflik, pemilu, atau krisis lainnya, orang cenderung terus mengikuti perkembangan berita. Mereka menggulir layar berulang-ulang untuk mencari informasi terbaru.

Ironisnya, semakin lama mereka menggulir, semakin banyak pula informasi yang muncul.

Satu peristiwa dapat diberitakan berkali-kali. Informasi yang sama dikemas dengan judul berbeda. Komentar pengguna berkembang menjadi perdebatan. Setelah itu muncul analisis, klarifikasi, bantahan, video reaksi, dan pembaruan terbaru. Audiens sebenarnya sedang mencari kepastian. Namun, yang mereka dapatkan justru arus informasi yang semakin panjang.

Dalam kondisi seperti ini, information overload dan keterbatasan kapasitas kognitif dapat bekerja secara bersamaan. Informasi datang terlalu banyak, sementara kemampuan manusia untuk mengolahnya tetap terbatas.

Pada akhirnya, perilaku doomscrolling dapat berubah menjadi news avoidance.

Orang yang sebelumnya aktif mengikuti berita mulai mengurangi konsumsi informasi. Ia tidak lagi membuka berita ketika bangun tidur. Notifikasi dimatikan. Konten berita dilewati. Bahkan pembicaraan mengenai isu tertentu mulai dihindari.

Dengan demikian, news avoidance tidak selalu menunjukkan ketidakpedulian. Dalam situasi tertentu, menghindari berita dapat menjadi cara seseorang mengurangi beban mental akibat paparan informasi yang berlebihan.

Baca Juga:  Yuk, Bikin Kebun Digital!

Ketika Berita Kriminal Terlalu Sensasional

Fenomena yang sama dapat terjadi pada pemberitaan kriminal.

Satu kasus dapat dipecah menjadi puluhan berita. Setiap perkembangan dibuat menjadi artikel baru dengan judul yang semakin menarik perhatian. Tidak jarang judul dibuat provokatif atau clickbait untuk mendorong orang membuka berita.

Masalah muncul ketika audiens ingin memahami kasus secara utuh, tetapi harus berpindah dari satu berita ke berita lainnya.

Berita pertama menjelaskan kronologi. Berita kedua membahas pelaku. Berita berikutnya mengutip keluarga korban. Berita lain menghadirkan komentar polisi. Setelah itu muncul berita mengenai rekonstruksi dan perkembangan terbaru.

Informasinya memang banyak, tetapi konteksnya bisa terpecah-pecah.

Audiens akhirnya harus terus mengingat informasi dari berita sebelumnya untuk memahami berita berikutnya. Proses tersebut dapat melelahkan, terutama ketika informasi baru yang diberikan sebenarnya hanya sedikit berbeda dari informasi sebelumnya.

Karena itu, persoalan jurnalistik tidak berhenti pada pertanyaan apakah sebuah berita menarik perhatian. Jurnalis juga perlu mempertimbangkan apakah berita tersebut membantu audiens memahami persoalan dengan lebih baik.

Bahkan Isu Lokal Bisa Menimbulkan Kelelahan

News fatigue bukan hanya persoalan berita mengenai perang, pandemi, politik nasional, atau bencana besar. Isu lokal pun dapat menghasilkan gejala yang sama.

Bayangkan sebuah polemik tata kota yang berlangsung selama berminggu-minggu. Setiap hari muncul berita baru. Di Instagram muncul carousel. Di TikTok beredar video penjelasan. Di X berkembang perdebatan. Di WhatsApp beredar potongan video. Kemudian muncul komentar pejabat, tanggapan warga, pendapat pengamat, dan berbagai versi informasi lainnya.

Situasi serupa dapat ditemukan dalam pemberitaan olahraga.

Ketika sebuah klub dengan basis pendukung besar seperti Persib Bandung bertanding, linimasa dapat dipenuhi informasi sebelum, selama, dan setelah pertandingan. Ada susunan pemain, prediksi, komentar suporter, jalannya pertandingan, gol, kontroversi, konferensi pers, hingga analisis pascapertandingan.

Bagi penggemar, derasnya informasi tersebut mungkin menyenangkan.

Namun, jika informasi yang sama muncul berulang kali dengan sedikit tambahan substansi, audiens dapat mengalami kejenuhan.

Di sinilah terdapat sebuah paradoks dalam jurnalisme digital. Kedekatan sebuah isu memang dapat meningkatkan perhatian, tetapi repetisi yang berlebihan dapat mengubah perhatian menjadi kelelahan.

Tantangan Baru bagi Jurnalis

Fenomena news fatigue seharusnya menjadi perhatian penting bagi jurnalis dan organisasi media. Selama ini keberhasilan distribusi berita digital sering diukur melalui jumlah views, click, reach, engagement, atau durasi menonton. Ukuran tersebut memang penting untuk melihat performa sebuah konten. Namun, angka-angka tersebut belum tentu menggambarkan kualitas hubungan media dengan audiens.

Sebuah media mungkin berhasil membuat orang mengeklik berita hari ini. Namun, jika strategi tersebut dilakukan terus-menerus dengan judul sensasional, informasi berulang, dan notifikasi yang terlalu agresif, audiens bisa mengalami kelelahan dan akhirnya menjauh.

Karena itu, jurnalisme digital membutuhkan prinsip yang lebih menekankan makna daripada jumlah. Media tidak selalu harus menghasilkan lebih banyak berita. Yang lebih penting adalah memastikan setiap berita memiliki nilai informasi yang jelas bagi audiens.

Jurnalis perlu mempertimbangkan apakah sebuah informasi benar-benar memiliki nilai tambah. Jika sebuah perkembangan baru hanya mengulang informasi sebelumnya, yang dibutuhkan mungkin bukan berita baru, melainkan pembaruan yang menjelaskan apa yang berubah.

Konteks juga menjadi semakin penting. Alih-alih membuat audiens membaca lima berita untuk memahami sebuah persoalan, media dapat membantu mereka memahami persoalan tersebut melalui satu berita yang lebih utuh. Ketika muncul perkembangan baru, media dapat menjelaskan perubahan yang terjadi, alasan perubahan tersebut penting, dan dampaknya bagi masyarakat.

Dengan demikian, jurnalisme tidak sekadar berlomba menjadi yang tercepat, tetapi juga berusaha menjadi yang paling membantu.

*Penulis adalah dosen di KPI dan praktisi media

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *