
Oleh Hendi Rustandi*
Kita sering berpikir bahwa ketika kita berbicara dengan jelas, orang lain akan otomatis mengerti. Ketika kita menjelaskan dengan tenang, mereka akan menerima. Dan ketika niat kita baik, sikap mereka pun pasti berubah. Tapi kenyataan tidak selalu seindah itu.
Dalam kehidupan sehari-hari; baik di keluarga, pertemanan, kerja, atau organisasi, kita sering menghadapi situasi yang membuat kita bertanya: “Kenapa ya, sudah saya jelaskan berkali-kali, tapi dia tetap begitu?”
Untuk memahami ini, kita perlu menengok sejenak pada apa yang dikatakan para ahli.
Komunikasi, menurut Shannon & Weaver, bukan soal mengirimkan pesan saja, tetapi bagaimana pesan itu dipersepsikan oleh penerima. Bahkan Wilbur Schramm, salah satu tokoh besar ilmu komunikasi, menegaskan bahwa komunikasi adalah proses “menciptakan kesamaan makna” (shared meaning). Artinya, meski ucapan kita benar, orang lain tetap memaknainya lewat “kacamata” mereka sendiri.
Di sinilah letak masalahnya:
Setiap orang punya kacamata yang berbeda. Psikologi menyebutnya frame of reference, (kerangka rujukan). Carl Rogers, tokoh psikologi humanistik, mengatakan bahwa setiap orang menafsirkan pesan berdasarkan pengalaman batinnya: luka, keyakinan, harapan, dan cara ia melihat dunia. Maka tidak heran jika dua orang mendengar kalimat yang sama, tapi merasakan hal yang sama sekali berbeda.
Kadang penjelasan kita tidak masuk bukan karena salah, tapi karena hati mereka belum siap menerimanya.
Fenomena ini juga didukung oleh penelitian Leon Festinger tentang cognitive dissonance, kegelisahan psikologis ketika seseorang menerima informasi yang bertentangan dengan keyakinan lamanya. Alih-alih berubah, manusia cenderung mempertahankan keyakinan lama agar tidak merasa terganggu. Inilah yang membuat sebagian orang “ngeyel” padahal pesan kita sebenarnya masuk akal.
Lalu bagaimana sikap kita?
Para ahli komunikasi interpersonal, seperti Joseph DeVito, menjelaskan bahwa komunikasi yang matang adalah komunikasi yang “menyampaikan tanpa menguasai”. Kita boleh berharap pesan dipahami, tetapi tidak bisa memaksakan hasil. Kita bisa mengatur niat dan cara kita berbicara, tetapi tidak bisa mengatur bagaimana orang lain memaknainya.
Sederhananya:
Komunikasi ada dalam kendali kita; perubahan sikap tidak.
Dan sering kali, ketika kita berhenti memaksa, orang justru lebih terbuka. Ketulusan kita membuat mereka merasa aman. Kesabaran kita membuat mereka merasa dihargai. Perlahan, tanpa tekanan, perubahan itu datang dari dalam diri mereka, bukan karena tuntutan, tetapi karena kesadaran.
Seperti kata Rollo May, psikolog eksistensial: “Perubahan sejati tidak terjadi ketika seseorang dipaksa, tetapi ketika ia memilihnya sendiri.”
Pada akhirnya, menerima batas komunikasi bukanlah kelemahan. Itu adalah bentuk kedewasaan. Kita menyampaikan sebaik-baiknya, tetapi kita tidak menyiksa diri dengan ekspektasi yang tidak realistis. Kita hadir dengan cara yang baik, lalu menyerahkan hasil kepada waktu dan proses batin setiap manusia.
Dan mungkin, di suatu titik dalam hidup mereka, kata-kata kita yang dulu tidak dianggap itu akhirnya tumbuh menjadi kesadaran baru. Bukan karena kita memaksa.Tapi karena kita hadir dengan cara yang benar.
*Penulis adalah Dosen Prodi KPI IAI Persis Bandung






