Website Berita dan Opini
Indeks

“Romantisme Allah”: Ketika Cinta-Nya Tak Pernah Pergi

Romantisme Allah
Foto Twitter: Seorang ayah dan anaknya sedang melaksanakan sholat di masjid

 

Oleh Nurdin Qusyaeri 

Kamu mau tahu seberapa “romantis” Allah kepada hamba-Nya?

Bukan romantis seperti manusia yang mengirim pesan setiap pagi.

Bukan pula seperti seseorang yang berkata, “Aku mencintaimu, menyayangi mu full” lalu memberi bunga, cokelat, atau janji-janji manis.

Saudara, “romantisme” Allah jauh melampaui semua itu. Allah itu tidak sekadar mengatakan cinta. Allah menunjukkan cinta-Nya dengan cara yang sering kali baru kita sadari setelah melewati begitu banyak air mata.

Kadang kita sering merasa sendirian. Padahal, sesungguhnya kita tidak pernah benar-benar sendiri. Coba rasakan. Ketika semua orang pergi, Allah tetap tinggal.

Ketika telepon tak kunjung berdering, Allah tetap mendengar. Ketika tak seorang pun memahami luka kita, Allah mengetahui bahkan luka yang tidak mampu kita ceritakan.

Ketika kita hanya bisa menangis dalam diam, Allah mengetahui alasan setiap tetes air mata itu. Dan ketika kita merasa hidup sedang menghancurkan kita, bisa jadi sebenarnya Allah sedang membentuk kita.

Al-Qur’an menggambarkan kedekatan Allah dengan manusia dengan cara yang luar biasa.

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat.”

QS. Al-Baqarah: 186

Mari perhatikan. Allah tidak mengatakan, “Aku jauh, carilah Aku.” Justru Allah mengatakan “Aku dekat.”

Begitu dekatnya Allah, sampai-sampai doa yang bahkan belum selesai kita susun menjadi kalimat pun sudah diketahui-Nya.

Walau kita kadang baru berdoa setelah hati benar-benar hancur. Padahal Allah telah mengetahui kehancuran itu sebelum kita mampu mengucapkannya. Itulah mengapa ada doa yang hanya berupa ucapan: “Ya Allah…”

Lalu air mata jatuh. Padahal tidak ada kalimat panjang. Tak ada argumen, apalagi dialog. Tidak ada penjelasan. Tetapi Allah sangat mengerti. Karena Dia bukan hanya mendengar suara. Dia mengetahui isi hati.

Dan lihatlah bagaimana Allah meminta kita mengingat-Nya:

“Maka ingatlah Aku, niscaya Aku akan mengingatmu.” QS. Al-Baqarah: 152

Sebenarnya ini bukan sekadar ajakan untuk berdzikir. Ini adalah panggilan cinta. Saat kita mengingat Allah, Allah menjanjikan bahwa Dia akan mengingat kita.

Bayangkan. Kita makhluk yang kecil, yang sering lupa, yang berkali-kali lalai.

Kita yang terkadang hanya mencari Allah ketika sedang membutuhkan pertolongan saja. Namun ketika kita kembali kepada-Nya, pintu itu tetap terbuka. Allah tidak pernah berkata: “Kemarin kamu ke mana aja..?”

Allah pula tidak berkata: “Mengapa baru sekarang datang?”

Baca Juga:  From Loneliness to Solitude: Ketika Kesendirian Memberi Kesempatan untuk Bertumbuh

Allah tidak berkata: “Kamu sudah terlalu banyak dosa, sudang menggunung..”

Namun malah sebaliknya, selama kita masih hidup, kesempatan untuk kembali selalu terbuka lebar.

Nah.. bukankah itu cinta yang luar biasa?

Lalu ketika kita kehilangan sesuatu, Allah mengajarkan: “Sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nya kami kembali.” QS. Al-Baqarah: 156.

Ayat ini sering kita dengar ketika seseorang meninggal. Padahal maknanya jauh lebih luas.

Kita kehilangan orang yang kita cintai. Kehilangan pekerjaan. Kehilangan kesempatan dan peluang. Kehilangan impian. Kehilangan seseorang yang pernah kita kira akan tinggal selamanya.

Atas semua itu Allah mengingatkan kita: “Kamu bukan pemilik mutlak atas apa pun.”

Orang-orang yang kita cintai adalah titipan. Harta adalah titipan. Jabatan adalah titipan. Kesehatan adalah titipan. Bahkan kehidupan kita sendiri adalah titipan.

Maka ketika sesuatu yang kita cintai diambil kembali oleh Pemiliknya, kita sedang belajar satu hal bahwa kita berasal dari Allah dan pada akhirnya kembali kepada Allah.

Sangat mungkin menyakitkan. Tetapi tidak berarti Allah tidak mencintai kita.

Kadang justru melalui kehilangan, Allah sedang mengajarkan kita tentang siapa pemilik sebenarnya. Dan ketika kita sedang berada dalam ketakutan, Allah menunjukkan bagaimana Dia menyertai hamba-Nya.

Ingat kisah hijrah, ketika Nabi Muhammad ﷺ berada di dalam gua bersama Abu Bakar r.a., Allah mengabadikan kalimat:

“Janganlah engkau bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita.” QS. At-Taubah: 40.

“Allah bersama kita.”

Betapa dahsyat kalimat itu. Bukan berarti hidup akan selalu mudah dan tidak akan ada masalah. Juga bukan berarti semua yang kita inginkan akan diberikan. Tetapi ada satu kepastian: kita tidak menghadapi semuanya sendirian. Ada Allah.

Dan ketika Allah bersama kita, kesulitan tidak selalu menjadi tanda bahwa kita ditinggalkan. Bisa jadi kesulitan itu justru sedang membawa kita semakin dekat kepada-Nya.

Maka jangan buru-buru menyimpulkan bahwa Allah tidak sayang hanya karena hidupmu sedang tidak baik-baik saja.

Jangan mengira doa tidak didengar hanya karena jawabannya belum datang.

Jangan mengira Allah meninggalkanmu hanya karena jalan hidupmu sedang gelap. Boleh jadi Allah sedang mengajarkanmu cara melihat cahaya.

Ada doa yang Allah kabulkan segera. Ada doa yang Allah tunda. Ada doa yang Allah ganti dengan sesuatu yang lebih baik. Dan ada doa yang jawabannya baru kita pahami bertahun-tahun kemudian.

Baca Juga:  Ketika Guru Disebut Beban Negara

Kita sering meminta kepada Allah berdasarkan apa yang kita inginkan. Sementara Allah memberi berdasarkan apa yang kita butuhkan. Di situlah perbedaan antara keinginan manusia dan kasih sayang Allah.

Jadi, kalau ingin tahu seberapa “romantis” Allah kepada kita, jangan hanya melihat apa yang kita dapatkan.

Lihat juga berapa banyak keburukan yang Allah jauhkan tanpa pernah kita sadari.

Berapa banyak bahaya yang tidak pernah sampai kepada kita. Berapa banyak dosa yang ditutupi Allah. Berapa banyak kesempatan untuk bertaubat yang masih diberikan. Berapa banyak pagi yang masih kita jumpai. Berapa banyak malam yang masih bisa kita gunakan untuk bersujud.

Dan yang paling mengharukan adalah, setelah berkali-kali kita berpaling menjauh, Allah masih membuka jalan untuk kita pulang. Mungkin itulah bentuk “romantisme” Allah yang paling indah.

Bukan membuat hidup kita tanpa masalah. Tetapi membuat kita selalu memiliki tempat untuk kembali ketika dunia terasa terlalu berat.

Bukan menjanjikan bahwa kita tidak akan menangis. Tetapi memastikan bahwa air mata kita tidak pernah sia-sia di hadapan-Nya.

Bukan menjadikan kita selalu mendapatkan apa yang kita mau. Tetapi mengajarkan kita percaya kepada apa yang Allah pilihkan.

Maka jika hari ini kamu sedang merasa sendirian… jangan terlalu cepat mengatakan bahwa tidak ada siapa-siapa. Ada Allah.

Kalau hari ini kamu sedang kecewa… jangan berhenti berdoa. Allah mendengar.

Kalau hari ini kamu sedang kehilangan… ingatlah: kita semua milik-Nya.

Kalau hari ini kamu sedang galau tentang masa depan… ingatlah: Allah tidak pernah kehilangan kendali atas hidupmu.

Dan kalau hari ini kamu merasa terlalu jauh dari Allah… pulanglah. Tidak perlu menunggu menjadi sempurna untuk mendekat kepada-Nya.

Datanglah dengan segala luka. Datanglah walau berlumur dosa. Datanglah dengan segala kegagalan. Datanglah walau dengan hati yang berantakan.

Sebab boleh jadi, yang Allah tunggu bukan kesempurnaanmu. Melainkan kepulanganmu ke jalur-Nya.

Sebab pada akhirnya, cinta terbesar bukanlah tentang siapa yang tidak pernah meninggalkan kita.

Tetapi tentang Dzat Yang tetap membuka pintu ketika kita berkali-kali memilih pergi. Itulah Allah.

Dan mungkin, itulah “romantisme” paling agung: ketika seluruh dunia terasa menjauh, ternyata Allah tidak pernah benar-benar pergi. 🤍

Wallahu’alam,

Cinunuk, 3 September 2026

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *