
Bandung, DARAS.ID — BEM IAI PERSIS Bandung kembali menegaskan perannya sebagai laboratorium kepemimpinan mahasiswa melalui gelaran acara IAI Bercerita dengan tema “Rekonstruksi Visi Kelembagaan Pascatransisi Kepemimpinan” yang berlangsung di Aula Ma’had Al Jam’iah, Rabu (9/7).
Acara dimulai pukul 10.00 WIB dengan sambutan Presiden Mahasiswa BEM, Naza Arifa, yang menekankan pentingnya konsolidasi visi antara mahasiswa dan kampus pascatransisi kepemimpinan. “Mahasiswa harus menjadi mitra kritis yang konstruktif. Kita kawal perubahan bukan dengan gaduh, tetapi dengan gagasan,” ungkap Naza di hadapan para peserta.
Warek III Bidang Kemahasiswaan, Nurdin Qusyaeri, dalam sambutannya menegaskan kembali bahwa bercerita adalah tugas kolektif civitas akademika. “Cerita itu warisan. Dan manusia adalah mahluk pencerita. Dari Adam, dari Rasulullah ﷺ, dari para ulama. Tugas kita sekarang: menjahit cerita bersama agar visi kelembagaan tidak sekadar teks, tetapi gerakan nyata,” ujarnya.
Acara kemudian berlanjut ke sesi seminar IAI Bercerita yang dipandu Rifdah Hakimiyah, Menteri Pendidikan BEM, dengan narasumber utama Rektor IAI PERSIS Bandung, Prof. Dr. Jajang A. Rohmana, M.Ag.
Dalam paparannya, Rektor menekankan bahwa fase satu tahun awal kepemimpinannya adalah fase penegakan disiplin manajemen, terutama pada aspek keuangan. Efisiensi kelembagaan, penertiban perjalanan dinas, dan pengurangan biaya operasional yang tidak mendesak menjadi titik tekan.
“Kampus ini butuh pemimpin yang definitif. Hari ini kita sudah definitif. Sekarang tugas kita: bangun bareng-bareng!” tegas Prof. Jajang, memantik optimisme peserta.
Beliau menambahkan, visi kelembagaan tidak dirombak total karena pondasi yang sudah established. Namun demikian, IAI PERSIS Bandung ke depan tidak boleh hanya berputar di lingkaran Islamic Studies. “Kita harus melompat ke ranah non-keagamaan untuk memperluas pasar akademik. Kita butuh inovasi lintas disiplin,” imbuhnya.
Selain itu, Prof. Jajang juga menyoroti pentingnya menggenjot performa dosen. Penataan akun dosen pada SINTA, Sister, dan Litapdimas akan dioptimalkan. Mekanisme akreditasi akan beralih ke sistem automasi, bukan manual lagi. “Kita benahi karir dosen, perbaiki penataan jabatan akademik, supaya produktif menulis dan berkarya. Kampus maju kalau dosennya produktif,” tandasnya.
Acara ini diikuti sekitar 100 peserta, yang terdiri dari pengurus BEM dan pengurus HMPS (Himpunan Mahasiswa Program Studi). Peserta terlihat sangat antusias — terbukti dengan derasnya pertanyaan-pertanyaan kritis mahasiswa. Bahkan, ketika waktu diskusi resmi telah habis, masih banyak tangan mahasiswa yang teracung tinggi, menandakan semangat dialog belum padam.
IAI Bercerita kali ini menjadi ruang refleksi sekaligus ruang merumuskan arah baru, bukan hanya untuk BEM tetapi juga untuk seluruh elemen kampus. Sebuah cerita kolektif sedang ditulis — cerita kita — yang sulit dicerna oleh yang skeptis, tetapi akan mudah dimengerti oleh mereka yang mau bergerak bersama.
Penulis: Redaksi BEM IAI PERSIS Bandung
Editor: Humas Kampus






