Mencetak Jiwa Petualang Berintegritas: Refleksi Diklatsar IV Pengembaraan dan Dakwah Mahapala Jirim IAI PERSIS Bandung

Pengembara Dakwah
Pimpinan dan peserta berfoto sebelum keberangkatan berpetualang. (Foto: Panitia)

Bandung, DARAS.ID – Aula Kampus IAI PERSIS Bandung menjadi saksi pembukaan Diklatsar IV Pengembaraan dan Dakwah UKM Mahapala Jirim, sebuah acara yang mengusung tema inspiratif: “Mencetak Anggota yang Mengimplementasikan Nilai-Nilai Hubungan Manusia, Alam & Tuhan untuk Menumbuhkan Ruh Mahapala Jirim yang Berintegritas dan Berwawasan Luas”.

Acara yang berlangsung pukul 07.00–08.30 ini dihadiri oleh Wakil Rektor III Nurdin Qusyaeri, Wakil Rektor IV Lalan Sahlani, Ketua Dewan Pembina Mahapala Jirim Hendrik Sahroni, serta Ketua Mahapala Jirim Fachri Azmi Sidiq.

Diklatsar IV ini diikuti oleh 14 peserta yang akan menjalani pengembaraan melalui rute Ciwidey–Paranggong–Mekarjaya–Cisiluman–Cimaranggang–Cidora–Karangpapak.

Menurut Fachri Azmi Sidiq, kegiatan ini tidak hanya melatih ketangguhan fisik, tetapi juga mengusung misi mulia: menebar Al-Qur’an di desa-desa terpencil, berdakwah kepada masyarakat yang buta huruf dan buta baca Al-Qur’an, serta menggelar bakti sosial.

“Kami ingin peserta tidak hanya kuat secara fisik, tetapi juga memiliki jiwa sosial dan spiritual yang kokoh,” ujar Fachri.

Baca Juga:  Mahasiswa KPI IAI PERSIS Bandung Gelar Cinemunication Movie Exhibition, Tampilkan Tiga Film Pendek Bertema Qurban

Dalam sambutannya, Nurdin Qusyaeri, Wakil Rektor III, secara resmi membuka acara dengan penuh semangat dan humor. Ia mengapresiasi keberanian peserta yang memilih menaklukkan alam daripada larut dalam dunia digital:

“Di zaman orang sibuk scroll TikTok sampai lupa keluar rumah, kalian malah rela jalan kaki, naik turun bukit, nyebur sungai, dan manjat akar pohon. Bahkan rela kehilangan sinyal—padahal sinyal patah hati mantan aja masih dicari. Selamat, kalian berbeda!” candanya, disambut tawa hadirin.

Lebih jauh, Nurdin menegaskan bahwa Diklatsar ini bukan sekadar latihan fisik, melainkan juga pembentukan mental, hati, dan akhlak. Ia memaparkan bahwa pengembaraan ini adalah cerminan kehidupan: penuh tanjakan, rintangan, dan godaan:

“Jalur Ciwidey sampai Karang papak bukan cuma nama pos, tapi cerita, tes kesabaran, dan simbol hidup. Kalau kalian sanggup menembus Paranggong, kalian juga harus sanggup menembus kemalasan. Kalau kuat di Cisiluman, kalian harus kuat hadapi godaan “Siluman” di kota,” tegasnya.

Nurdin juga menitipkan pesan mendalam: pengembaraan ini adalah latihan menaklukkan diri sendiri. “Gunung tidak butuh kalian taklukkan. Kalianlah yang butuh gunung untuk menaklukkan ego, rasa takut, dan keraguan. Hati adalah peta utama; jika kompas rusak, hati yang lurus akan menunjukkan jalan pulang,” ujarnya.

Ia berharap peserta pulang tidak hanya dengan cerita petualangan, tetapi juga dengan tekad kuat untuk mendirikan “tenda dakwah” di kehidupan nyata.

Baca Juga:  Ma'had Al-Jami'ah IAI PERSIS Gelar Rihlah Tarbawiyyah Iqtishadiyyah ke Pangalengan

Acara ini menjadi pengingat bahwa menjadi anggota Mahapala Jirim bukan hanya soal bertahan di alam liar, tetapi juga tentang membawa ruh petualang yang berintegritas dan berwawasan luas ke tengah masyarakat.

Dengan semangat menjalin hubungan harmonis antara manusia, alam, dan Tuhan, Diklatsar IV ini diharapkan melahirkan generasi muda yang tidak hanya tangguh secara fisik, tetapi juga kokoh dalam nilai-nilai keimanan dan kemanusiaan.

Seperti yang dikatakan Nurdin di akhir sambutannya,

“Tanjakan hidup dan dakwah lebih curam daripada punggung bukit mana pun. Selamat berpengembaraan, selamat berdakwah, selamat berlelah-lelah—karena lelah kalian hari ini adalah cerita berharga besok.”

Semoga semangat ini terus bergema, dari Ciwidey hingga Karangpapak, dan dari hutan rimba hingga hutan kehidupan.

(dinur)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *