
Mahasiswa Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) semester 4 Institut Agama Islam Persatuan Islam (IAI PERSIS) Bandung sukses menggelar kegiatan bertajuk Cinemunication Movie Exhibition. Kegiatan ini menampilkan film pendek sebagai tugas akhir mata kuliah Sinematografi & Fotografi.
Acara digelar pada Kamis, 19 Juni 2025, di gedung baru Kampus IAI PERSIS Bandung, ruang kelas KPI 23.
Pagelaran ini terbuka untuk seluruh civitas akademika kampus IAI PERSIS Bandung sebagai bentuk apresiasi terhadap kreativitas dan kerja keras mahasiswa KPI angkatan 2023 (semester 4) dalam menciptakan karya sinematografi yang sarat akan nilai dakwah dan kemanusiaan.
Pernyataan Ketua Kelas KPI 23
M. Abdul Karim, selaku ketua kelas KPI 23, turut memberikan pernyataannya terkait kegiatan ini. Ia menyampaikan bahwa Cinemunication Movie Exhibition bukan hanya sekadar ajang nonton bareng atau apresiasi karya, tetapi juga menegaskan bahwa mahasiswa KPI bukan semata objek pendidikan, melainkan subjek pencipta budaya.
“Telecommunication menjadi ruang alternatif bagi mahasiswa untuk berekspresi, berdialog melalui medium film, sekaligus membangun literasi visual dan kesadaran sosial. Kita berharap, kegiatan ini tidak berhenti di sini, tapi dapat ditelurkan menjadi program kultural,” ujar Abdul Karim.
Meskipun proses produksi film dilakukan dalam waktu yang cukup singkat yaitu hanya sekitar satu minggu, mahasiswa mampu menghadirkan tiga karya film pendek yang mengangkat tema pengorbanan dalam konteks Idul Adha. Tiga film tersebut adalah A Sheep of Hope, Tabunganku untuk Ibu, dan Kurban Pertamaku.
Apresiasi Dosen Pengampu
Dosen pengampu mata kuliah Sinematografi & Fotografi, Bapak Arif Permadi, M.Sos., menanggapi kegiatan ini dengan penuh apresiasi dan dukungan. Ia menyampaikan bahwa film-film tersebut bukan sekadar tugas akhir, melainkan representasi dari proses belajar yang mendalam, penuh kreativitas, dan reflektif terhadap nilai-nilai qurban.
“Terima kasih kepada para mahasiswa atas kerja kerasnya dalam menyelenggarakan Cinemunication yang begitu inspiratif. Film-film yang ditampilkan bukan sekadar tugas akhir, melainkan wujud dari proses belajar, kreativitas, dan refleksi mendalam terhadap tema qurban,” ujar Arif Permadi.
Beliau juga menekankan bahwa di era digital, kemampuan mengolah narasi visual secara kritis dan menyentuh sangat penting untuk memperluas jangkauan dakwah.
“Melalui medium sinematografi, kalian telah menunjukkan kemampuan dalam mengolah visual dan narasi dengan pendekatan kritis. Semoga pengalaman ini menjadi pijakan awal untuk berdakwah secara kreatif, berkontribusi di industry film atau bidang komunikasi visual, dan menginspirasi lebih banyak mahasiswa untuk terus berkarya.”
Ia pun berpesan agar para mahasiswa terus memaknai proses belajar sebagai cara untuk menyampaikan nilai-nilai kebaikan secara kontekstual dan menyentuh.
“Proses belajar kalian bukan semata soal teknis sinematografi, tetapi juga tentang bagaimana memahami dakwah dalam konteks kekinian. Kekuatan visual dan cerita dapat menyentuh hati banyak orang. Gunakan setiap karya sebagai sarana menyebarkan nilai positif, menjadi agen perubahan, dan teruslah berinovasi.”
Dakwah Kreatif yang Relevan
Cinemunication Movie Exhibition ini menjadi bukti bahwa dakwah bisa dikemas dalam bentuk kreatif dan relevan dengan zaman. Diharapkan para mahasiswa terus menciptakan karya-karya lainnya yang bermakna, menyuarakan nilai-nilai kebaikan, dan memberi dampak positif bagi masyarakat.
(Kontributor: Ibnu Azhar S.A)






