
Oleh Herdiana
Alumni IAI Persis Bandung
IAI Persis,
kampus kecil di sudut kota,
tapi pernah besar
karena hati-hati yang membara,
karena lidah-lidah yang berani berkata,
karena pena-pena yang menolak tunduk
pada sistem yang hanya mau hasil, bukan proses.
Di sini aku pernah belajar,
bukan hanya tentang kitab dan fikih,
tapi tentang sikap —
tentang siapa yang sedang ditindas
dan siapa yang diam, pura-pura tak lihat.
Aku pernah berdiri di lorong-lorong sunyi itu,
bersama teman-teman
yang lebih suka jujur daripada populer,
lebih suka mencatat nurani
daripada sekadar menghafal teori.
Tapi kini,
aku lihat kalian lebih sibuk
membangun CV daripada membangun empati.
Lebih giat scroll feed
daripada menyelami ayat
dan realitas sosial yang sekarat.
Wahai mahasiswa IAI Persis,
jangan sampai kampus ini hanya jadi tempat singgah
sebelum cari kerja.
Ini madrasah perjuangan,
bukan hotel transit!
Kalian pewaris pusaka nabi,
bukan hanya untuk kuliah,
tapi untuk berpikir, menulis, menggugat—
untuk mengguncang dunia
dengan akhlak dan ilmu yang hidup,
bukan yang beku dalam skripsi
yang dibaca pun tidak.
Aku pernah tinggal di sana,
menangis dalam diam,
tertawa dalam perlawanan.
Kini aku titipkan bara itu padamu.
Jangan padam.
Puisi ini dibacakan saat penutupan IAI Expo 2025.






